
Pria yang mengaku sebagai ayah kandung Mentari itupun mengangguk dengan samar-samar.
''Saya sadar betul, pasti cukup sulit untuk anda mempercayai begitu saja. Tapi, inilah kenyataannya, Tuan.'' ujarnya.
''Sudah sangat lama, saya ingin sekali bertemu secara langsung dengan anak saya, saya ingin meminta maaf atas semua kesalahan saya sebagai seorang ayah yang tidak becus ini.''
''Sebenarnya, sudah lama saya kerap mengikutinya secara sembunyi-sembunyi, dari dia menikah dengan mantan suaminya, hingga menikah secara mendadak dengan anda, saya tau itu.'' jelas pria itu.
Edgar dan Jimmy pun secara bersamaan menatap pria itu.
Pria itu memberanikan diri menatap Edgar dan Jimmy, lalu mendongak.
''Izinkan saya mengungkapkan semuanya, yang mungkin ini untuk pertama dan terakhir kalinya saya bisa berbicara seperti ini, Tuan.'' pinta pria itu dengan suara lirih dan bergetar karena menahan tangis.
''Silahkan.'' jawab Edgar yang juga dengan suara pelan.
Pria itu kemudian menarik nafasnya dalam-dalam.
''Sebelum menikah dengan ibunya, saya sudah menikah disini yang awalnya tanpa diketahui oleh keluarga saya, kami menikah hanya sah secara agama saja. Dari pernikahan itu, kami sudah memiliki seorang anak laki-laki. Dan, memang kami telah melakukan kesalahan sebelum pernikahan itu dilangsungkan, hingga pernikahan itu segera kami langsungkan, padahal saya sudah memiliki rencana pernikahan dengan wanita lain.'' terang pria itu dengan wajah tertunduk dalam mengingat dosa-dosanya di masalalu.
''Rumit sekali kisah hidup saya. Jujur, saya sendiri hampir g1la menghadapi kehidupan saya yang seperti itu. Saya dan ibu dari putri saya memang berpacaran cukup lama, tapi, b0dohnya saya tidak setia. Pernikahan itu tetap dilanjutkan karena memang sudah direncanakan, dan ketika istri saya mengandung, saya memilih pergi meninggalkannya demi istri pertama saya yang saat itu sedang sibuk-sibuknya mengurus bayi.''
__ADS_1
''Saat itu, saya benar-benar bingung, beberapa tahun kemudian saya hendak kembali untuk meminta maaf dan juga menemui putri kami, tapi, ibunya sudah menutup rapat-rapat pintu untuk saya.''
''Saya tidak bisa melakukan apa-apa, saya terima cinta itu berubah menjadi benci.''
Raut wajah Edgar tidak bisa berbohong, ia menahan emosi yang begitu memenuhi perasaannya.
''Apakah anda tidak berpikir bagaimana malangnya nasib ibu mertuaku dan juga istriku selama bertahun-tahun menjalani kehidupan yang berat?!'' seru Edgar dengan tangan kanannya yang mencengkram kuat sisi ranjang.
Pria itu semakin menunduk dalam, lalu mengangguk kecil.
''Iya, iya Tuan, saya menyadarinya.'' jawabnya dengan suara yang masih bergetar.
''Lalu, kemana keluarga anda sekarang?'' tanya Jimmy yang sebelumnya sudah mendatangi tempat tinggal pria itu dan tidak terlihat orang lain disana.
Pria itu terlihat mengambil nafas lagi.
''Kami sudah berpisah sejak lama, Tuan.''
Edgar dan Jimmy kembali terkejut mendengar jawaban pria itu.
''Anak saya di vonis menderita kelainan jantung, hingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika harus dibawa ke rumah sakit. Kami sama-sama orang tidak punya, dia pun jauh dari keluarga, akhirnya saya terpaksa mencari jalan lain dengan cara mencopet.''
__ADS_1
''Puluhan kali saya berhasil aman melakukan aksi itu, tapi, pada suatu hari, saya tidak lolos dan membuat saya harus mendekam di penjara cukup lama.''
''Setelah bebas, istri saya sudah menolak kehadiran saya. Dia juga terang-terangan memiliki gandengan baru.''
Pria itu tersenyum getir ketika harus mengingat kisahnya yang begitu rumit.
''Mungkin itu bagian dari karma yang harus saya terima. Saya sudah menyakiti seorang wanita yang begitu setia pada pria bod0h seperti ini.''
Pria itu kemudian terlihat memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Ia ingin menangis, tapi, sekuat tenaga ia tahan.
''Semakin bertambah umur, kondisi anak saya semakin sering lemah. Ibunya selalu mendesak saya supaya cepat mendapatkan uang yang banyak untuk membawa anak kami ke rumah sakit.''
''Tidak ada pilihan lain saat itu, pikiran saya sudah buntu. Saya merelakan satu ginjal saya agar cepat mendapatkan uang. Saya ingin putra saya bisa tumbuh sehat. Kalaupun saya mati, nggak papa, hidup saya sudah terlalu kotor, sedangkan anak saya, dia tidak salah sama sekali.''
Pria itu kembali mengambil nafas panjang. Karena cerita itu memang sangat emosional.
''Sayangnya, putra kami tidak diberikan umur yang panjang, dia harus meninggalkan kami selama-lamanya setelah lima hari berada di rumah sakit.'' terangnya.
Edgar dan Jimmy kembali dibuat terkejut oleh penuturan pria itu.
''Saya mohon, izinkan saya sekali saja untuk bertemu dengan putri saya, Tuan. Apapun reaksinya nanti, saya akan terima, saya hanya ingin bertemu untuk meminta maaf, bisa jadi pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir yang tidak akan bisa saya ulangi.'' pintanya.
__ADS_1