Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 132 : Memutus Kontrak Kerja Kamu


__ADS_3

Di ruang tengah itu sedang berkumpul antara keluarga Raymond, Jimmy, pak Ikhsan, dan juga Eva. Eva menunduk sangat dalam tanpa berani menatap wajah-wajah yang tengah menatapnya serius tanpa senyuman.


''Jelaskan pada kami, Eva.'' tegas Edgar dengan kedua tangannya yang menyilang.


''Sejak kapan kamu mulai terlibat dengan mereka dan apa alasan kamu menyanggupi untuk menjadi mata-matanya.''


Semua menatap ke arah Eva menantikan jawabannya. Gadis itu mengangkat wajahnya sesaat kemudian kembali menunduk.


''Sebelum Tuan dan Nona pergi ke luar negeri.''


''Saya dipengaruhi oleh tuan Ardi kalau Nona Mentari akan membawa dampak buruk untuk keluarga ini. Dia juga mengatakan ke saya untuk hati-hati.''


''Ardi?'' kata tuan Erick.


Eva mengangguk. ''Benar Tuan.''


''Saat itu saya sempat izin pulang kampung, tuan Ardi yang mengantarkan saya. Tapi, sebelum sampai ke rumah, saya di ajak ke suatu tempat, dan disana bertemu dengan nona Mychelle dan juga ibunya itu.''


''Disitu sebetulnya saya sudah curiga, tetapi saya takut, saya tidak berani berbuat apa-apa selain menyanggupi permintaan mereka.''


''Waktu itu kesalahan saya tidak terus terang sama pak Dar mengenai alasan izin saya. Saya hanya mengatakan akan pulang kampung sebentar karena memiliki keperluan keluarga. Padahal saya akan menemui ibu saya yang sedang sakit dan harus dibawa ke rumah sakit.''


''Mereka tau itu, dan mereka memberikan sejumlah uang kepada kami. Dan kalau saya menyanggupi permintaan mereka, mereka akan kembali memberikan uang kepada saya. Termasuk memberikan produk nona Mychelle seumur hidup kepada saya secara gratis.''


''Saya tergiur dengan iming-iming itu. Saya benar-benar khilaf.''

__ADS_1


Semua menghela nafas panjang mendengar penjelasan panjang lebar dari Eva.


''Eva, kamu tau kesalahan yang sudah kamu buat itu sangat fatal?'' tegas mami.


Eva semakin menunduk, lalu mengangguk.


''Saya mohon maaf Nyonya.'' ucapnya dengan isak tangis yang ia tahan.


''Saya memiliki empati kepada ibumu yang sedang sakit. Tapi, kesalahan kamu hampir saja membuat keluarga kami hancur.''


''Dengan berat hati, saya harus memutus kontrak kerja kamu mulai hari ini juga. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan kemasi seluruh barang-barang kamu. Akomodasi perjalanan kamu sudah kami siapkan. Untuk urusan ke pihak yayasan, akan kami urus nantinya.''


Air mata Eva akhirnya tumpah.


''Saya dipecat, Nyonya? Tuan?'' lirihnya.


Lebih baik mempertahankan yang jelas-jelas memiliki niat bekerja dengan baik daripada terpaksa mempertahankan seorang pekerja yang jelas-jelas sudah terlibat suatu masalah.


''Kami mohon maaf untuk itu, Eva..''


Eva menyeka airmatanya dan berusaha untuk tersenyum.


''Baik, terimakasih Tuan, Nyonya..''


Eva langsung kembali ke kamarnya, ia mengemasi seluruh barang-barang yang menjadi miliknya.

__ADS_1


''Va..''


''Lis..''


Pekerja yang umurnya tidak terpaut jauh itu akan berpisah. Mau tak mau, Eva harus siap mempertanggung jawabkan perbuatannya. Untung saja ia tidak ikut di seret ke dalam penjara. Erick Raymond masih memberikan kesempatan padanya untuk mencari rezeki diluar sana.


''Semoga ini benar-benar menjadi pelajaran buat kamu ya Va, jangan diulangi lagi.'' ujar Listi.


''Iya Lis, nuhun sudah mau menjadi temanku. Kamu baik-baik disini..''


''Iya Va.''


Gadis itu sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Ia kembali ke depan menemui keluarga majikannya yang masih berkumpul.


''Sudah siap?''


Eva mengangguk. ''Sudah.''


''Untuk gajimu akan tetap kami bayarkan sebagaimana mestinya. Dan ini untuk uang sakumu.'' mami memberikan amplop kepada gadis itu.


Eva menerima amplop tersebut.


''Terimakasih Nyonya.''


Mami mengangguk.

__ADS_1


Eva berpamitan kepada keluarga bosnya satu persatu, tak lupa ia menyampaikan maaf dan juga terimakasih karena sudah memberikan kesempatan bekerja disini dan juga terimakasih tidak menyeretnya ke penjara.


''Semoga dia benar-benar tidak mengulangi kesalahannya lagi, tidak mudah tergiur dengan iming-iming sampai mau menyakiti orang lain, apalagi kepada yang memberikannya tempat untuk mencari rezeki.'' ujar tuan Erick setelah Eva di antar oleh supir ke stasiun kereta api untuk menuju ke daerahnya.


__ADS_2