Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 204 : Semua Salah Saya


__ADS_3

Edgar memang tidak benar-benar marah pada Mentari, karena ia mengerti kalau Mentari pun hanya mengikuti permohonan dari adiknya itu. Tapi, untuk ke Jimmy, ia masih tetap kesal. Termasuk pada adiknya sendiri.


Jika Mentari tidak terus-terusan menenangkannya dan mengingatkan, mungkin saja Edgar sudah menghubungi sang adik dan mengeluarkan semua amarahnya.


''Janji ya, Mas. Jangan marah-marah lagi.'' pinta Mentari sebelum Edgar kembali ke kantor.


Edgar yang masih berdiri di depan cermin langsung berbalik arah lalu memeluk sang istri dengan erat. Melihat raut wajah Mentari membuat perasaannya langsung luluh.


''Iya, sayang. Terima kasih ya karena sudah membuat suamimu ini tersenyum lebar.'' ucap Edgar.


''Aku berangkat dulu, kamu disini saja, istirahat. Nggak perlu ikut ke bawah.'' pamit Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari dan menciium perut sang istri.


Mentari mengangguk lalu kembali ke dalam pelukan suaminya yang sudah berdiri tegak lagi.


''Aku nggak mau suamiku jadi pemarah seperti tadi.'' ucap Mentari lirih sembari mendongak menatap mata sang suami.


Edgar menangkup kedua pipi Mentari dengan mesra.


''Iya, sayang. Aku akan berusaha sebisanya. Emm, mungkin hari ini aku akan irit suara, hanya untuk keperluan saja bicara sama Jimmy.''


''Jangan sampai amarah sesaatmu menimbulkan penyesalan yang panjang, Mas.'' ujar Mentari mengingatkan lagi.


Edgar langsung menciumi wajah Mentari. ''Iya, istriku.''


''I love you.'' ucap Edgar.


Mentari tersenyum. ''Sudah, sana berangkat.'' usirnya.


Edgar pun langsung terkekeh karena masih terasa berat untuk meninggalkan kamar.


Tapi, karena terus di dorong oleh sang istri, akhirnya ia siap untuk kembali ke kantor.


Suasana kantor sudah kembali ramai setelah jam istirahat makan siang. Mereka menuju ruangannya masing-masing di berbagai lantai dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dari jarak yang tidak jauh, Jimmy melihat bosnya datang seorang diri. Ia pun langsung mempercepat langkahnya agar bisa menyamai langkah Edgar.


''Selamat siang, Tuan.'' ucap Jimmy lalu membungkukkan badannya hormat.


''Hmm.'' jawab Edgar sedikit menaikkan suaranya. Ia harus ingat untuk tidak marah-marah. Cara satu-satunya yaitu hanya dengan menghemat pengeluaran suaranya.


Sebenarnya bukan karena emosi, tetapi karena ia kaget dengan suara yang tiba-tiba datang itu. Namun, demi menjaga harga diri yang sedang marah, ia tetap bersikap cool.


Jimmy tersenyum tipis, ia selalu memaklumi bagaimanapun bosnya itu.

__ADS_1


Kedua pria itu masuk ke dalam lift tanpa bersuara. Tidak ada obrolan sama sekali. Edgar pun enggan menatap Jimmy, sedangkan Jimmy masih mencari cara untuk membuka obrolan.


''Saya mohon maaf, Tuan.'' ucap Jimmy.


''Semua salah saya.'' imbuhnya dengan wajah menunduk.


Pintu lift terbuka, dan Edgar masih tetap tidak merespon. Ia berjalan mendahului Jimmy yang menantikan responnya.


Jimmy hanya bisa menatap punggung bosnya itu dari belakang sembari menarik nafasnya dalam-dalam. Ia lalu mempercepat langkahnya.


''Tuan, tunggu.''


Semua mata yang melihat adegan keduanya langsung menatap aneh sembari berbisik-bisik. Edgar dan Jimmy pun menyadari tatapan penuh tanya dan penuh dugaan itu.


''****!" umpat Edgar.


"Singkirkan tanganmu dari lenganku!'' eram Edgar sembari mengibaskan tangannya dengan kasar.


''Maaf, Tuan." ucap Jimmy.


Bagaimana mereka tak memandang aneh pada dua pria terpenting di perusahaan ini. Edgar dan Jimmy seperti pasangan yang sedang bermasalah. Edgar berjalan mendahului, sedangkan Jimmy mempercepat langkahnya untuk lebih dekat dengan si bos, setelah dekat, tangannya pun langsung menahan lengan Edgar agar berhenti.


Justru Edgar seperti sedang seseorang yang sedang marah pada pasangannya. Tatapan mata mereka semakin membuat Edgar geram, karena mereka bisa saja menduga kalau dirinya dan Jimmy memiliki hubungan khusus.


''Siapkan saja berkas-berkas untuk meeting!'' ujar Edgar masih berbicara dengan ketus saat di depan pintu ruangannya. Ia langsung masuk ke ruangannya dan menutup pintu tersebut dengan keras.


Jimmy sampai memegang dadanya karena kaget dengan suara keras yang datang dari pintu tersebut.


''Huuuhh, sabar.'' gumam Jimmy sembari mengelus dadanya sendiri.


Jimmy mengedarkan tatapannya, beberapa masih menatapnya aneh.


''Apa kalian mau di pecat!'' gertak Jimmy dengan tatapan tajam.


Mereka langsung kelabakan sendiri dan kembali menatap layar komputer di depannya masing-masing.


Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam lalu menuju ruangannya sendiri.


Pukul 14.00 WIB, meeting sudah di mulai. Edgar dan Jimmy melakukan dengan baik, seperti tidak ada kejanggalan antara kedua pria itu. Hingga jabat tangan antar kedua perusahaan itu diiringi senyum yang puas.


Setelah pimpinan dari dua perusahaan itu berpisah, Edgar kembali menjaga jarak dengan Jimmy.


Jimmy kembali menghela nafas panjang untuk memperluas stok sabarnya yang tidak boleh terbatas ketika bersama dengan Edgar.

__ADS_1


''Bagus juga akting anda, Tuan.'' bathin Jimmy setelah melihat perbedaan saat sedang meeting dan sekarang.


''Tuan, saya mohon maaf.'' ucap Jimmy lagi saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Edgar hanya melirik dari kaca dan bersamaan dengan Jimmy juga melirik pada benda tersebut.


''Maafkan saya sudah lancang.'' ucap Jimmy lagi.


Meskipun Edgar belum merespon, Jimmy akan tetap mengatakan apa yang ada dibenaknya, supaya lega.


''Tolong jangan salahkan nona Mentari mengenai hal ini, Tuan. Nona Mentari tidak salah apa-apa. Saya khawatir dengan kehamilannya.'' terang Jimmy dengan raut wajahnya yang benar-benar menunjukkan rasa khawatirnya pada Mentari.


Bug!


Edgar langsung menimpuk lengan kiri Jimmy dengan buku yang ia pegang.


''Maaf Tuan.'' ucap Jimmy.


''Jangan bilang kalau kamu juga tertarik pada istriku, ha?!'' seru Edgar.


Jimmy langsung nengok ke belakang. ''TIDAK TUAN! SUMPAH!'' bantahnya dengan mengangkat tangan membentuk huruf V.


''Hey! kurangi volume suaramu! kamu pikir aku ini budeg apa!'' sungut Edgar.


Jimmy langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu karena jadi serba salah.


"Padahal anda juga berteriak, Tuan. Telinga saya sampai mau jebol." bathin Jimmy.


''Maaf Tuan.'' ucap Jimmy mengurangi volume suaranya.


''Nggak usah bicara, fokus nyetir saja!'' protes Edgar.


''Baik Tuan.'' jawab Jimmy sembari menghembuskan nafas ke udara.


Satu jam lebih meeting dengan salah satu perusahaan, sehingga mereka tiba di kantor juga sudah mendekati waktu jam pulang. Masih ada waktu kurang lebih tiga puluh menit lagi.


''Jangan dekat-dekat!'' seru Edgar sebelum turun dari mobil.


Jimmy mengangguk nurut.


Jimmy hanya menatap bosnya yang sudah lebih dulu keluar dan masuk ke dalam kantor seorang diri. Sedangkan dirinya masih tetap di dalam mobil sembari menatap.


''Sebenarnya tuan Edgar itu benar-benar marah atau tidak?'' gumam Jimmy sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya pelan. Heran dengan sikap bosnya yang justru seperti bocah.

__ADS_1


__ADS_2