Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 297 : Syukuran


__ADS_3

Dekorasi yang bertema warna biru muda dan putih itu menghiasi rumah Raymond yang sudah ramai. Warna yang sengaja di pilih karena anak-anak mereka berjenis kelamin yang berbeda.


Edgar menggendong satu bayinya, sementara satunya ada di gendongan mami.


''Maaf aku baru bisa datang lagi.'' ucap Rita lirih. Hari ini ia juga izin setengah hari.


''Aduh, Tante Ritaaa, terima kasih banyak sudah hadir.'' ucap Mentari langsung merentangkan kedua tangannya supaya Rita memeluknya.


''Nggak tau ini kamu suka atau nggak, pokoknya spesial buat keponakan-keponakanku.'' ujar Rita menyerahkan satu kotak kadonya.


''Wahh, terima kasih Tante Rita.'' ucap Mentari.


Rita mengangguk.


Kado itu pun digabungkan dengan kado lain yang sudah lebih dulu diletakkan di sebuah meja.


''Aahh, lucu-lucu sekali ponakan- ponakanku.''


''Iya dong, kayak mamanya.'' jawab Mentari langsung tertawa.


''Iya sih, emaknya emang lucu nggak ada obat.'' balas Rita.


...Syukuran Aqiqah...


...Elgio Ayres Raymond...


...Elzia Ayra Raymond...


Rita membaca tulisan yang sudah terpampang di dekorasi.

__ADS_1


''Manggilnya siapa?'' tanya Rita setelah membaca tulisan itu.


''Kakeknya pecinta huruf E, ya, itu nama awalannya yang di panggil.'' jawab Mentari.


Rita pun langsung mengangguk-angguk kecil.


Di tengah obrolannya bersama Rita, sorot mata Mentari tak sengaja melihat kehadiran seseorang. Ia langsung menoleh ke arah Edgar, dan ternyata Edgar juga tengah menatapnya. Kemudian Edgar tersenyum, seakan-akan memberikan isyarat bahwa tidak ada yang perlu dipermasalahkan.


Ardi tampak datang sendiri, karena kedua orangtuanya sudah di sini sejak pagi. Langkah itu semakin mendekat.


Ardi tampak mencoba untuk bersikap tenang, ia langsung di sambut hangat oleh keluarganya. Tuan Erick memeluk bahu keponakannya itu.


''Terima kasih sudah hadir, Ar.'' ucap tuan Erick.


''Sama-sama, Om. Saya pasti akan hadir.'' balas Ardi.


Ardi sudah bersalaman dengan para orangtua di sana. Ia mendekati Edgar yang kini sudah duduk berdampingan dengan Mentari karena acara akan segera di mulai.


''Terima kasih, Bro.'' balas Edgar.


''Terima kasih, Om Ardi.'' sambung Mentari.


Tak beda dengan yang lain, Ardi juga datang dengan membawa kado. Kado itu pun di terima oleh Mentari.


Acara syukuran dan aqiqah putra putri Edgar dan Mentari pun berlangsung sangat khidmat. Lantunan do'a-do'a dipanjatkan untuk mereka.


Do'a penutup baru saja selesai, baby Elgio menangis. Mentari pun langsung di bantu untuk masuk ke dalam kamar, sepertinya bayi laki-lakinya itu sudah lapar.


''Makan dulu ya, maaf aku ke dalam dulu. Pokoknya jangan pulang dulu kalau belum makan.'' ujar Mentari pada Rita.

__ADS_1


''Siaap, Bu bos.'' jawab Rita yang sebenarnya terbawa perasaan saat melihat sikap perhatian yang ditunjukkan oleh Edgar.


Baby Elzia pun akhirnya juga di bawa masuk ke dalam kamar oleh mami. Karena sudah cukup lama di luar kamar. Baby Elzia pun juga terlihat masih tidur setelah acara pemotongan rambut tadi.


''Bagaimana kabar Kak Rita?'' tanya Erin.


''Kabar saya baik, Nona.'' jawab Rita.


''Aduh, Kak, jangan begitu. Langsung saja panggil namaku.'' pinta Erin yang menjadi tidak nyaman dengan panggilan itu.


''Hehe''


Tentu saja Rita akan kesulitan untuk mengubah panggilan itu, karena yang ada dihadapannya adalah putri dari bosnya, ia pun hanya bisa nyengir.


''Silahkan makan dulu, Kak.'' ujar Erin.


''Oh, iya, Non. Eh, Erin maksudnya.'' jawab Rita.


Beberapa tamu lainnya sudah mengambil makanan, terutama tamu dari yayasan yatim piatu yang mendapatkan undangan dalam acara ini. Putra putri dari yayasan yang dalam pengurusan bu Maryam. Mereka terlihat bahagia sekali.


''Maaf Kak, aku tinggal dulu ya.'' ucap Erin.


''Oh, iya, silahkan.'' jawab Rita.


Rita pun mengambil beberapa menu, ia hanya kenal dengan beberapa orang saja, tapi, tidak begitu akrab. Ia pun membawa makanan ke meja untuk bergabung dengan adik-adik dari yayasan, karena parah nenek masih sibuk mengobrol dengan tamu-tamu lainnya.


''Permisi, boleh saya duduk disini?'' ujar seseorang yang membuat Rita berhenti menggigit kerupuk udang.


''Ehm, boleh, silahkan.'' jawab Rita gugup. Ia langsung meletakkan sisa kerupuk yang belum ia gigit ke piring.

__ADS_1


''Terima kasih.'' ucapnya langsung duduk di kursi kosong sebelah Rita.


''Sama-sama.'' jawab Rita.


__ADS_2