
Rapat kerja yang jadwalnya tiba-tiba diubah untuk lebih cepat itu akhirnya selesai. Edgar segera menutup laptopnya.
''Ke restoran ANS, Jim.'' ujar Edgar yang baru berpisah dengan rekan bisnisnya itu.
''Sekarang Tuan?'' tanya Jimmy.
''Tahun depan, Jim.'' jawab Edgar.
''Hehe.. baik Tuan, laksanakan , berarti kita langsung kembali ke kantor.''
''JIIMMY!'' Edgar mengeratkan giginya.
''Baik Tuan, saya hanya sedang becanda hehe.''
Keduanya lalu masuk ke dalam mobil.
''Tuan terlihat lebih tampan jika sedang serius seperti itu.'' Jimmy menatap Edgar dari kaca didepannya.
Edgar langsung bergidik ngeri mendengar pujian dari Jimmy.
''Jangan macam-macam kau, Jim!''
Jimmy terkekeh pelan, ia melajukan mobil menuju tempat yang di minta oleh Edgar.
''Tidak usah senyum-senyum! cepat cari istri sana biar kau nggak menggodaku terus!''
''Siap laksanakan, Tuan.'' balas Jimmy lalu membentuk senyuman di sudut bibirnya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di ANS Cafe & Resto. Edgar langsung turun dari mobil dengan cepat. Jimmy membuntutinya ikut terburu-buru.
Sesampainya di dalam, Edgar melihat dan mendengar secara langsung sang istri yang sedang berhadapan dengan mantan mertuanya.
Edgar hendak melanjutkan langkahnya, tetapi lengannya ditahan oleh Jimmy.
''Sebaiknya tunggu dulu, Tuan. Kita lihat sampai dimana nyali wanita itu menghadapi nona Mentari.'' ujar Jimmy.
Edgar tidak menjawab, tetapi menuruti ucapan Jimmy untuk berdiam dulu. Ia dan juga Jimmy mendengar langsung kalimat yang diucapkan oleh Mentari penuh dengan emosional.
Namun, beberapa saat kemudian, mantan mertua Mentari memotong kalimat Mentari. Edgar tidak terima wanita yang dicintainya dibentak seperti itu.
__ADS_1
''Stop! cukup Dira! cukup!''
''Tidak usah banyak bicara omong kosong!''
''Tidak usah mengumbar kejelekan anak saya! belum tentu juga itu benar! kamu pembohong, Dira!''
''Kamu hanyalah seorang janda yang menggoda atasan kamu! jangan bangga modal goyangan murahanmu itu! semua janda itu sama! penggoda! murahan! tidak mungkin orang sepertimu bisa menikah dengan atasan!"
Semua orang yang mendengarnya pun langsung terkejut. Ternyata menantu dari pengusaha Erick Raymond sebelumnya sudah berstatus janda. Informasi yang menarik bagi mereka si tukang ghibah.
Edgar semakin geram ketika para pengunjung restoran itu saling berbisik. Sebagian dari mereka menyadari akan kedatangan Edgar. Edgar langsung maju menghampiri Mentari dan mantan mertuanya itu.
BRAK!!
Emosi Edgar tak terkendali. Ia tidak terima Mentari mendapatkan perlakuan seperti itu. Kalimat demi kalimat menohok Edgar lontarkan kepada mantan mertua Mentari.
Nyali wanita paruh baya itu pun langsung menciut ketika berhadapan dengan Edgar. Berbeda saat hanya berhadapan dengan Mentari saja. Ia tak menyangka Edgar akan datang juga ke pertemuan ini.
Orang-orang mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Edgar. Membuat wanita itu tak berkutik.
Edgar menyodorkan amplop cokelat yang bisa ditebak isinya adalah uang.
Tetapi wanita itu masih belum bergerak kemanapun.
''Maaf, permisi.. ada apa ini?'' tanya seseorang yang baru saja datang.
Semuanya menoleh ke arah sumber suara yang baru saja datang.
''Maaf kami telah membuat kegaduhan di restoran anda. Saya akan menggantikan semua kerugiannya.'' ucap Edgar.
''Tuan Edgar, bukan?'' tanya wanita yang baru saja datang.
''Iya benar, terimakasih sudah mengenali saya.'' balas Edgar ramah.
Wanita itu mengangguk.
Wanita itu tidak merespon permintaan maaf dari Edgar. Ia justru fokus dengan orang-orang dihadapannya itu.
''Sepertinya kita pernah ketemu?'' tanya Mentari sembari mengingat-ingat wanita didepannya.
__ADS_1
''Dini?'' tebak Mentari.
Wanita itu langsung mengangguk. Ia langsung tersenyum lebar ketika wanita di hadapannya itu masih mengingatnya.
''Kak Dira?''
Mentari langsung mengangguk. Keduanya langsung berpelukan.
''Bentar-bentar.'' ucap Mentari.
Mentari mengurai pelukan itu, lalu menatap sang suami untuk menyelesaikan urusannya dengan sang mantan mertua.
''Silahkan tinggalkan tempat ini, Nyonya! saya rasa nominal di dalam cek dan juga yang ada di amplop itu tidak sedikit. Gunakanlah sebaik-baiknya. Dan jangan pernah ganggu hidup istri saya lagi atau anda akan menyesal selamanya!'' ancam Edgar.
Mantan mertua Mentari menatap tajam kepada Mentari. Sepertinya ia masih menyimpan kebencian yang mendalam. Ia meraih amplop coklat itu dan langsung meninggalkan restoran.
''Cih! masih diambil juga! dasar nggak punya malu!'' gumam Jimmy seraya menggelengkan kepalanya.
Edgar menarik nafasnya dalam-dalam setelah wanita itu sudah menghilang dari pandangannya. Lalu kembali memastikan bahwa Mentari baik-baik saja.
''Aku baik-baik saja, Mas.'' ujar Mentari menjawab rasa khawatir yang tergambar jelas di wajah Edgar.
Edgar mengusap rambut Mentari dengan lembut. ''Wanita hebatku.''
''PERHATIAN UNTUK KALIAN SEMUA, SILAHKAN PESAN SEPUASNYA, HARI INI SAYA TRAKTIR!'' seru Edgar.
Tentu saja ucapan itu disambut meriah. Mereka yang tadinya hendak pulang langsung kembali memesan menu lain.
''Sebaiknya kita ngobrol di ruangan saya, mari..'' ujar pemilik restoran bernama Dini itu.
Mentari, Edgar, dan juga Jimmy pun mengikuti langkah pemilik restoran.
...••••••••••••••••••...
Mohon maaf untuk beberapa kalimat, Cimai ambil dari part sebelumnya 🙏
Untuk Dini, kalau yang belum tau siapa dia. Silahkan baca novel pertama Cimai ya yang judulnya "Menikah Dengan Adik Sahabatku" 🤭
Awal perkenalan Mentari dan Dini dari sana.
__ADS_1
Tapi, kalau ada kesalahan atau terkesan kurang nyambung, Cimai mohon maaf ya 🙏