Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 129 : Kandungan?


__ADS_3

''APA LAGI SELAIN ITU?!'' gertak Edgar.


''Sss-saya pernah diminta untuk memasukkan pil penunda kehamilan untuk Nona Mentari.'' jawab Eva yang semakin menunduk.


''APA!!''


''INI SUDAH KETERLALUAN! INI TIDAK BISA DIBIARKAN!'' timpal mami.


Erick Raymond menghembuskan nafasnya ke udara. Tidak menyangka terjebak dalam permasalahan seperti ini.


''Tapi, sebenarnya saya tidak jadi melakukan itu, Tuan. Saya juga berbohong kepada Nona Mychelle sudah menaruh pil penunda kehamilan itu.''


Mychelle melotot ke arah Eva, begitu juga mamanya.


''Itu fitnah!'' bantah Mychelle.


''Diam kamu!'' gertak Edgar membuat Mychelle langsung terdiam.


Edgar sudah berdiri tegak di depan Eva.


''Apa lagi yang sudah dia tugaskan untuk kamu? dan apa yang sudah kamu lakukan?!''


''Sa-saya sudah memberikan informasi kemana Tuan dan Nona pergi. Sebenarnya paling utama membuat nona Mentari tidak bisa memiliki keturunan.''


Edgar mengusap wajahnya dengan kasar.


''Benar kamu tidak jadi melakukan itu kepada istriku, Eva?!''


''Be-benar Tuan, saya tidak jadi melakukan itu. Saya tidak tega melihat nona Mentari. Beliau sangat baik kepada kami semua. Saya juga memiliki kakak yang belum punya anak.''


''Kamu tidak bohong, Eva?!!''


''Tidak Tuan, sungguh.. saya berani bersumpah.''

__ADS_1


Edgar kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Tidak ada yang berani menimpali perkataannya sebelum mendapatkan kode boleh berbicara.


''Kalian sudah mempermainkan jabatan! kalian sudah melanggar sumpah kalian! kalian tentu tidak lupa apa akibatnya!'' Edgar menatap tim medis yang dari kemarin ikut andil dalam permainan Mychelle.


Mentari memijat-mijat pelipisnya yang kembali terasa pusing. Ia berusaha mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.


''Mas.. sudah.''


Suara-suara keras itu membuat Mentari tidak kuat. Pandangannya tiba-tiba kabur, akhirnya gelap, sedetik kemudian ia sudah tidak sadarkan diri. Ia terjatuh dan untung saja mami dan Erin sigap menangkap tubuh Mentari agar tidak jatuh ke lantai.


''Sayang!''


Edgar langsung memeluk Mentari dengan erat, berusaha menyadarkannya.


''Urus semuanya.'' seru Edgar kepada Jimmy.


Edgar langsung mengangkat tubuh Mentari untuk di bawa keluar dari ruangan itu. Mami dan Erin mengikutinya dari belakang. Sedangkan Jimmy dan yang lain masih terjaga di ruangan itu.


Awalnya kedatangan beberapa pengawal dan pihak kepolisian membuat heboh. Namun, mereka sudah berhasil menanganinya.


''Sayang bangun, please..'' lirih Edgar.


''Kami periksa dulu, Tuan.'' ujar dokter wanita.


Edgar hanya mengangguk lalu mundur dua langkah, membiarkan dokter itu memeriksa tubuh Mentari.


''Istrimu pasti baik-baik saja, Edgar.'' ujar mami berusaha menenangkan putranya.


Edgar kembali hanya memberikan anggukan. Raut wajahnya sudah menggambarkan dengan jelas bagaimana kondisi pikiran dan perasaannya saat ini melihat sang istri pingsan. Tentu saja rasa bersalah terus menerus hinggap di pikirannya.


Dokter tersebut melepaskan peralatan medisnya.


''Bagaimana Dokter? ada apa dengan istri saya?''

__ADS_1


''Untuk lebih detailnya mari ke ruangan saya, Tuan.'' ajak dokter yang berusia 50 tahun itu.


''Mi, Erin.. titip istriku sebentar.''


Keduanya mengangguk.


Edgar sudah berada di ruangan dokter tersebut.


''Sepertinya untuk saat ini nona Mentari tidak bisa menghadapi situasi yang membuat pikirannya berat. Mungkin akhir-akhir ini kurang istirahat. Apalagi kandungannya masih sangat muda, lebih baik jangan dipaksakan untuk melakukan ataupun menghadapi situasi yang berat.'' jelas dokter itu.


''Apa Dok? kandungan? maksudnya istri saya hamil gitu?'' tanya Edgar memastikan.


Dokter tersebut mengangguk.


''Iya benar.'' jawabnya dengan suara yang ramah.


Edgar masih membuka mulutnya terasa tidak percaya. Saking bahagianya mendengar kabar bahwa istrinya tengah mengandung.


''Ini bukan mimpi kan Dok?'' tanya Edgar lagi dengan suara yang gemetar.


''Memangnya Tuan belum tau?'' dokter tersebut balik tanya.


''Belum Dok.''


Dokter tersebut mengulurkan tangannya untuk memberikan ucapan selamat.


''Selamat Tuan, generasi penerus Raymond akan segera hadir.'' ucap dokter tersebut.


Edgar langsung menerima uluran tangan dari dokter tersebut. Ucapan terimakasih beberapa terucap dari bibirnya.


''Tuan tidak perlu cemas atas pingsannya nona Mentari tadi. Nanti akan saya beri vitamin, selebihnya anda bisa membawa nona Mentari ke spesialis kandungan, Tuan.''


''Pasti Dokter, sekali lagi terimakasih.'' ucap Edgar kepada dokter tersebut.

__ADS_1


__ADS_2