
Mami terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan ke udara.
''Lenna akhir-akhir ini sering sakit-sakitan, badannya sekarang sangat kurus.'' terang mami, kemudian menatap Edgar dan Mentari secara bergantian.
Mentari terkejut, tapi, ia tak tau harus berbuat apa. Mereka terakhir bertemu memang sudah beberapa waktu yang lalu. Ia pun langsung memikirkan apakah penyebabnya karena Ardi yang sedang ditahan. Sebenarnya mereka tidak ada masalah, hanya saja Edgar memang sangat jarang mengunjungi kediaman Lenna.
''Mami dari rumah tante Lenna?'' tanya Edgar yang juga terkejut.
Mami mengangguk, ''Ya, Mami tadi dari sana. Tempat pertama yang Mami datangi adalah rumah tantemu. Baru sore tadi ke tempat bu Maryam sampai malam.'' jelas mami.
''Maaf Mi, aku memang salah, karena tidak pernah mengunjungi tante Lenna. Aku selalu berpikir tante Lenna baik-baik saja."
"Kalau untuk Ardi, aku sama Jimmy tetap rutin seminggu dua kali datang kesana.'' terang Edgar.
''Mami tadi bermaksud untuk silaturahim kesana, dan juga berniat mengundang mereka untuk datang ke acara tujuh bulanan kalian. Mereka sangat bahagia mendengar kabar ini, tapi, Mami sangat bersedih melihat kondisi Lenna yang seperti itu.''
''Maaf, apakah kita harus mencabut laporan Ardi untuk membuat kondisi tante Lenna membaik?'' ujar Mentari sedikit ragu. Bahkan Edgar pun langsung menatapnya.
''Cabut?'' pekik Edgar.
__ADS_1
Dengan ragu, Mentari mengangguk. Ia sangat yakin dengan pikirannya ini. Hati seorang ibu pasti tidak bisa tenang karena memikirkan putranya yang masih dalam masa hukuman. Apalagi riwayat penyakit tante Lenna dan ayah mertuanya tidak jauh berbeda, yaitu jantung yang lemah.
''Bisakah kamu bawa aku ke rumah tante Lenna, Mas?'' pinta Mentari.
Mami menyimak, menanti jawaban dari putranya sendiri.
''Kita memang harus kesana, terutama untuk meminta maaf. Dan, sekarang aku meminta maaf ke kamu ya, sayang. Karena ... semua ini memang kesalahanku yang tidak membawamu berkunjung ke rumah tante Lenna.'' tutur Edgar.
Mentari tersenyum tipis, mami pun ikut tersenyum. Sebuah kesalahan memang harus diakui dengan sadar.
''Ehm, maaf Mi, kami malah bicara berdua.'' ucap Mentari lalu menghadap ke arah mertuanya itu.
''Lenna dan papi kalian itu benar-benar hampir sama, kalau sakit tidak mau kasih kabar ke keluarga.'' tutur mami.
''Apa selama ini papi pernah sakit tanpa sepengetahuan kami, Mi?'' tebak Mentari yang seketika berpikir ke arah sana setelah mendengar penuturan mami.
"Maaf Mi." ucap Mentari.
Mami langsung terlihat gelagapan, wanita paruh baya itu seperti salah tingkah.
__ADS_1
''Ohh, tidak, bukan begitu maksud mami. Sakit yang dulu, dulu banget, sayang.'' jelas mami.
Edgar terdiam sembari menelisik antar penuturan mami dan juga tebakan Mentari.
''Jangan-jangan tebakan istriku memang benar? dan papi melarang siapapun untuk memberikan informasi ke kami.'' bathin Edgar.
''Ya sudah, sekali lagi Mami cuma mau cerita seperti itu soal tante Lenna. Emm, kalau kalian mau kesana, jangan mepet sama acara kalian, okay.''
''Mami mau istirahat dulu, bye.'' seru mami.
Mami berkata dengan cepat, kemudian berlalu meninggalkan anak dan menantunya yang masih di balkon.
...****************...
Sembari nunggu update part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi novel yang pastinya bikin kalian susah move on.
Karya dari othor DECHE, yang berjudul "ISTRI PILIHAN ALIKA" siap ditambahkan ke daftar rak favorit kalian 😍
Terima kasih 🙏
__ADS_1