
Berkumpul di gazebo siang-siang seperti ini memang sangat menyenangkan. Apalagi dengan menyantap beberapa jenis buah-buahan yang manis dan juga asam. Bumbu rujak yang di ulek oleh Mentari ternyata membuat mertua dan iparnya suka.
''Kalau Edgar tau kamu yang ngulek sendiri, pasti Mami sama Erin di omeli.'' ujar mami.
''Untuk itu, mari kita kompak ya Mi, Rin..,'' balas Mentari menatap mami dan Erin bergantian memohon. ''Jangan bilang-bilang, lagian ini cuma sedikit, toh tinggal ngulek aja bentar.''
Mami terkekeh. ''Kamu serius sekali.''
Hehe
Erin bertugas mengiris-iris buah-buahan segar, terlihat sangat menggoda antara buah dan bumbu kacangnya.
''Dulu, waktu Mami baru pertama kali merasakan hamil, itu bener-bener parah. Papi sampai mengambil izin beberapa kali supaya bisa mengurus Mami.'' ujar mami.
''Oh ya? sampai berapa lama, Mi?'' tanya Mentari penasaran.
''Sekitar tiga bulanan pertama Mami masih merasakan itu. Mami sensitif sama bau-bau bumbu dapur, bau parfum, Mami benar-benar nggak bisa.''
''Pantesan keluarnya jadi begitu.'' timpal Erin yang membayangkan sosok kakaknya sendiri.
Mami dan Mentari langsung menatap Erin.
''Hehe maaf, silahkan dilanjutkan.'' ujar Erin.
Mami semakin lancar melanjutkan ceritanya tentang masa-masa dulu, dari perjuangan mendapatkan buah hatinya yang juga tidak secepat orang lain.
Kini, Mentari langsung memahami kenapa mertuanya tidak memburu-burunya untuk memiliki anak, karena pernah berada di posisi yang sama.
''Mami wanita yang sangat kuat.'' balas Mentari.
''Yahh begitulah, sayang. Sebetulnya kuat tidak kuat, semua itu sudah seharusnya kita hadapi karena situasi itu yang terjadi pada kita, seperti kamu.''
__ADS_1
''Terus Mi, kenapa jarak lahirnya Kakak sama aku kok jauh?'' tanya Erin penasaran, karena selama ini ia belum pernah berani bertanya.
Mami pun langsung tersenyum menatap putrinya.
''Itu juga termasuk penantian panjang setelah Mami sempat mengalami keguguran dua kali, artinya setelah lahirnya Kakak kamu, Mami pernah diberi kepercayaan untuk mengandung dua kali. Tapi, ternyata memang belum rezeki.'' jawab mami diikuti senyumnya yang getir.
Mentari pun juga langsung terkejut mendengar jawaban mami. Begitu juga dengan Erin yang baru mengetahui fakta ini.
''Jadi?'' Erin langsung menutup mulutnya.
''Maaf, Mi.'' ucapnya merasa bersalah.
''It's okay, kalian memang harus tau ini untuk bekal kalian nantinya ketika menghadapi situasi yang berkaitan.''
Mentari dan Erin langsung memeluk mami dari samping karena posisi mereka yang mengapit maminya. Keduanya langsung menyandarkan kepalanya di bahu mami.
''Mami berharap, cukup Mami yang merasakan ini semua. Jangan sampai anak-anak Mami mengalaminya.''
Mami mencium puncak kepala Erin dan Mentari secara bergantian.
Mami tersenyum menatap kedua putrinya itu.
''Edgar tidak salah, sayang. Mami pun masih belajar dari pahitnya kehidupan yang sudah kamu lewati sejauh ini.''
''Sudah-sudah, waktu bersama kita bukan untuk adu airmata seperti ini. Ah.. kalian ini.''
Ketiganya sama-sama tertawa kecil, tapi, dengan menyeka airmata masing-masing yang hampir menetes.
Dari dapur, beberapa asisten rumah tangga melihat pemandangan itu. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
''Kayaknya lagi bahas serius banget ya, biasanya non Mentari suka ajak-ajak kita. Tadi, bilang maaf nggak bisa ngajak dulu.''
__ADS_1
''Iya, ya nggak papa lah, lagian nyonya nggak setiap hari disini. Mungkin memang akan ada obrolan yang nggak seharusnya kita dengar. Lihat sendiri barusan mereka berpelukan dan menangis.''
''Iya benar.''
''EHM!''
Pekerja wanita itu langsung bubar ketika suara deheman tegas membuatnya was-was.
''Jika sudah bosan bekerja, silahkan keluar dari sini!'' tegas pak Dar.
''Maaf Pak.''
Mami, Mentari, dan Erin kembali menyantap buah-buahan itu dengan memberikan obrolan lain yang lebih santai.
Drrtt drrtt
Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba ponsel Erin yang tergeletak di tengah bersama ponsel lainnya bergetar dan memperlihatkan panggilan masuk.
Mentari reflek menatap ponsel adik iparnya itu. Sedangkan Erin dengan cepat menyambarnya sebelum ketahuan.
''Hehe maaf Mi, Kak.. sepertinya temanku ada kepentingan, aku izin jawab telponnya dulu.'' ujar Erin dan langsung turun dari gazebo.
''Oh iya-iya.''
Mentari menatap kepergian adiknya itu.
''Foto itu sepertinya pernah lihat.'' bathin Mentari berusaha mengingat.
''Sayang.. sayang.''
''Ah iya Mi, maaf.'' ucap Mentari karena tidak fokus.
__ADS_1
''Kok melamun?''
''Maaf Mi, tidak kok.'' jawabnya.