Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 196 : Tidak Mau Mati Sia-sia


__ADS_3

Jimmy kembali menatap rumah Rita dari dalam mobilnya. Ia yang memberikan perintah pada pengawal untuk membelikan gembok di gerbang rumah tersebut. Karena sebelumnya, hanya ditutup saja.


Ceklek


Suara bunyi handle pintu membuat perawat dan Rita langsung menoleh.


''Permisi ... maaf saya lama.'' ucap Jimmy.


''Tidak, Tuan. Justru cepat sekali sudah kembali ke rumah sakit lagi.'' jawab perawat itu mendahului Rita yang baru membuka mulutnya.


Akhirnya Rita hanya tersenyum tipis karena sudah keduluan perawat.


''Silahkan kerjakan pekerjaanmu lainnya. Saya tidak kemana-mana lagi karena ini hari Minggu.'' ujar Jimmy.


''Baik Tuan.'' jawab perawat itu.


''Mbak, saya tinggal dulu ya.'' ujar perawat itu pada Rita.


Rita mengangguk. ''Terima kasih sudah menemani saya, Mbak.'' balasnya.


''Sama-sama.''


Perawat itu keluar dari ruangan, menyisakan Jimmy dan Rita yang kembali menjadikan suasana canggung, terutama bagi Rita.


Rita melirik sekilas pada Jimmy, ingin mengatakan sesuatu tapi, sungkan.


''Bagaimana keadaanmu sekarang?'' tanya Jimmy.


''Saya sudah baik-baik saja, Tuan.''


''Sudah sarapan?'' tanya Jimmy.


''E ... sudah, lebih cepat dari pasien lainnya, hehe''


''Tapi, minum obatnya nanti jam tujuh.''


Jimmy mengangguk samar.


''Apa yang ingin kamu katakan?'' tanya Jimmy menatap Rita tanpa berkedip.


Rita terdiam karena terkejut dengan pertanyaan itu. Jawaban apa yang harus ia berikan. Atas dasar apa Jimmy melontarkan pertanyaan itu padanya. Meskipun ia sudah mendengar bahwa dokter yang memberitahukan tentangnya.


''Saya ingin pulang ke rumah, Tuan.''


''Ya, itu ... saya merindukan rumah.'' jawab Rita.


Jimmy tidak membalas. Ia masih menatap Rita dengan tajam, sehingga membuat Rita semakin gugup. Ia duduk dengan menunduk.

__ADS_1


''Saya dari rumahmu, tidak ada siapapun disana. Jadi, dengan siapa kamu tinggal di rumah itu?'' selidik Jimmy.


Rita mengangkat wajahnya, menatap Jimmy sekilas.


''Kenapa anda ingin tau tentang saya, Tuan?''


''Bukankah hal itu sangat tidak penting?! saya hanya akan menjadi benalu di kehidupan anda.''


Jimmy terkejut dengan respon Rita yang emosional.


''Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya sudah mendengar tentang kamu dari dokter.''


''Apa itu benar?''


Rita mengangkat wajahnya menatap Jimmy sekilas, lalu kembali menunduk.


''Maaf Tuan, itu masalah pribadi saya. Saya tidak bisa cerita ke orang lain.'' jawab Rita.


''Apakah nona Mentari tau soal kamu?"


''Tidak!'' jawab Rita cepat.


''E ... maksud saya tolong jangan sampai Mentari tau soal ini. Saya mohon, Tuan.''


Rita menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


''Dia sudah menemukan kebahagiaannya sekarang. Saya tidak ingin membuatnya bersedih lagi gara-gara saya. Apalagi kondisinya sedang mengandung, saya tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Dia harus menjaga kesehatannya.''


''Saya tau, Mentari sudah menaruh curiga pada saya. Dia juga sudah mencurigai tubuh saya yang semakin kurus. Tapi, saya harap, kecurigaan itu tidak berlanjut.''


Jimmy terdiam sejenak, mencerna apa yang dikatakan oleh Rita.


''Baiklah, saya tidak akan menceritakan tentang kamu ke nona Mentari.'' ujar Jimmy.


Rita langsung tersenyum tipis.


''Terima kasih, Tuan.'' ucapnya.


''Hmm.''


Jimmy beberapa kali menguap, meskipun ia tahan dan ditutupi dengan tangannya, Rita bisa melihat itu.


''Maaf, apa Tuan belum istirahat dari semalam?''


''Ha? oh, sudah. Menunggu kamu sadar, saya sempat istirahat.'' jawab Jimmy.


''Saya keluar dulu sebentar.''

__ADS_1


Rita mengangguk.


Jimmy langsung bergegas keluar dari ruangan itu. Ia benar-benar tidak bisa menghindari rasa kantuknya yang terus menyerang.


Ia duduk di bangku yang ada di depan ruangan itu sembari membuka ponselnya. Perutnya pun juga keroncongan minta untuk segera diisi.


''Makan apa ya?'' gumam Jimmy mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah sakit.


Dengan kebiasaannya sarapan roti, membuat Jimmy merasa bingung. Kantin yang ada di rumah sakit ini cukup besar dan menyediakan berbagai macam makanan.


Tidak ada pilihan lain, Jimmy langsung ke kantin tersebut. Kondisi juga belum terlalu penuh.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari. Termasuk buah-buahan yang ternyata ada disana, ia membelinya untuk Rita. Jimmy langsung kembali ke ruangan itu.


''Sorry, saya cari sarapan.'' ucap Jimmy.


Rita langsung menegakkan duduknya.


''Maaf sudah merepotkan anda, Tuan.'' ucap Rita.


Jimmy meletakkan apa yang ia bawa ke atas meja.


''Saya akan membantu untuk mendengarkan semua ceritamu, barangkali dengan seperti itu, beban pikiranmu akan sedikit berkurang. Dan saya bisa memberikan solusi jika memang dibutuhkan.'' ujar Jimmy.


Rita menatap Jimmy sekilas, lalu menatap arah lain untuk menyembunyikan airmatanya yang hampir menetes.


''Dokter pasti hanya menakut-nakuti saya 'kan?'' tanya Rita dengan suara bergetar.


''Tidak, dokter mengatakan yang sebenarnya. Semua itu ada sebab dan akibatnya. Dari penjelasan dokter kamu mengalami komplikasi, bahkan usus buntumu juga harus segera di operasi.''


Rita menunduk dengan tangis yang ia tahan, dadanya terasa sangat sesak.


''Lalu, bagaimana dengan pekerjaan saya?''


''Masa depan saya, saya gantungkan ke perusahaan itu, Tuan.''


''Jika saya harus mengambil cuti terlalu banyak, saya bisa di pecat. Sa-saya tidak tau lagi ..,''


Jimmy terdiam melihat kesedihan yang jelas tergambar dalam diri Rita.


''Asalkan kamu masih ingin tetap melanjutkan hidupmu, kamu harus mengikuti apa yang saya katakan.'' ujar Jimmy membuat Rita mengangkat wajahnya.


Keduanya saling menatap.


''Saya tidak akan pernah menyerah dengan keadaan ini.''


Rita mengusap air matanya dengan tangan kanan.

__ADS_1


''Saya tidak mau mati sia-sia.'' imbuhnya dengan menatap Jimmy.


''Jadi ... berobat atau menyerah?!'' tanya Jimmy.


__ADS_2