Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 216 : Pilihlah Yang Terbaik, Nak..


__ADS_3

Seperti biasa cara pasangan kekasih itu untuk mengungkapkan kerinduannya dengan melakukan panggilan video. Baik Jimmy yang menemani aktivitas Erin, atau terkadang Erin yang menemani makan malam Jimmy.


''Apa tuan Erick sudah benar-benar sehat, sayang?'' tanya Jimmy melalui sambungan video call bersama kekasihnya itu.


Disana Erin tampak menyandarkan kepalanya di sofa, sedangkan ia duduk di lantai kamar.


''Sudah Kak, waktu itu kan hanya tiga hari saja di rumah sakit, papi sudah nggak mau dirawat lagi karena merasa sudah membaik. Setelah itu cukup di rawat dirumah aja. Makanya papi berani menelpon kak Edgar karena sudah dirumah.'' jelas Erin.


Jimmy tampak mengangguk, karena ia juga melihat Edgar yang mendapatkan penolakan atas panggilan telepon ke tuan Erick.


''Tapi, Kakak benar nggak ngomong ke kak Edgar, 'kan?'' tanya Erin memastikan lagi. Karena jika hal itu ketahuan keluar dari mulutnya, ia bisa mendapatkan omelan dari mami. Sebab, ia tidak bisa menjaga rahasia.


''Sampai pertemuan hari ini Kakak belum keceplosan.'' jawab Jimmy dengan raut wajahnya yang santai, sementara Erin langsung melotot.


''Iya-iya, aman. Jangan melotot gitu, kalau kata tuan Edgar nanti matanya copot.'' ledek Jimmy.


''Dih! bawa-bawa manusia es lilin.'' protes Erin.


Jimmy langsung tertawa.


Pasangan kekasih yang sedang di menjalani hubungan jarak jauh itu saling melempar candaan. Hal-hal sederhana, yang tidak jauh berbeda dengan kakak-kakaknya. Erin pun sudah sangat senang.


Erin sedang mengemasi pakaian-pakaiannya yang akan ia bawa ke Indonesia. Meskipun dua hari lagi, Erin tidak ingin terburu-buru melakukan hal ini, selagi ada waktu, lebih baik segera diselesaikan, daripada nantinya ada yang tertinggal akibat berkemas di ujung waktu. Apalagi berkemasnya kali ini ditemani oleh Jimmy. Semangatnya rajinnya kian naik berlipat-lipat ganda.


-


Kembalinya tuan Erick beserta keluarga ke Indonesia bukan hanya sekedar mengunjungi keluarga saja. Tetapi, tuan Erick akan menghadiri peresmian cabang perusahaannya yang sudah rampung di bangun sejak dirinya masih mengurus perusahaan di Indonesia.


Setelah melalui proses yang memakan banyak waktu dan juga banyak biaya, akhirnya pembangunan selesai dan siap beroperasi pada bulan depan.


Untuk itu, pria paruh baya itu sangat fokus pada kesehatannya yang sempat menurun. Ia melarang semuanya memberitahukan hal itu pada Edgar karena pasti akan membuat sang anak khawatir dan melarangnya untuk pulang ke Indonesia. Sedangkan dirinya sangat yakin untuk hadir secara langsung.


''Kamu terlihat happy sekali, sayang.'' ujar mami pada putrinya itu.


''Oh ya? masa sih?''

__ADS_1


Erin pun langsung menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri.


''A.. jelas saja aku senang, Mi, kan mau temu kangen sama kak Mentari.'' jawab Erin dengan wajah sumringah.


''Memangnya sama kak Edgar nggak kangen juga?'' timpal papi.


''Kangen sih, dikiitttt.'' jawab Erin dengan menunjukkan seujung jari kelingkingnya.


Mami dan papi pun terkekeh.


Tidak heran lagi bagi pasangan senior itu menghadapi anak-anaknya yang lebih sering di dapati tengah berselisih daripada di dapati tengah berdamai. Namun begitu, mereka tau kalau keduanya sama-sama saling menyayangi dan mempedulikan satu sama lain.


Ketiganya sedang berkumpul di ruang keluarga, menikmati hari-hari sebelum ditinggal ke Indonesia. Erin sedang berdiskusi tentang perkantoran bersama sang ayah yang sudah sangat senior di bidang tersebut. Apalagi sekarang ia sudah mulai aktif beraktivitas di kantor Raymond yang berada disini.


''Papi tetap menjadikanmu karyawan Papi. Dan kamu tidak boleh meminta perlakuan yang spesial saat sedang bekerja. Dalam urusan pekerjaan, semua mendapatkan hak yang sama. Untuk hal yang berkaitan dengan keluarga, itu pembahasan yang berbeda.'' terang tuan Erick dengan tegas pada putrinya itu.


Mewarisi kekayaan yang berlimpah tidak bisa diberikan secara cuma-cuma. Penerima harus mengerti dan memahami dalam pengelolaan sebuah peninggalan. Untuk mempelajari hal-hal tersebut, pemberi dan penerima harus saling kompak, terutama dalam komunikasi. Karena warisan yang diberikan, jika penerima tidak mengerti cara mengelolanya, maka, peninggalan tersebut tidak akan bertahan lama, hal itu akan lewat begitu saja seperti air mengalir jika tanpa sebuah alat untuk menampung agar bisa digunakan dalam jangka panjang.


''Papi yakin anak-anak Papi tidak akan kesulitan untuk terus belajar.'' ujar tuan Erick lalu mengusap rambut putrinya itu.


Erin hanya mengangguk lalu tersenyum tipis pada papinya. Ntah kenapa perasaannya menjadi sedih jika membahas tentang hal-hal seperti ini. Ia langsung memikirkan tentang sebuah perpisahan. Siapapun dan kapanpun, ia sangat belum siap untuk menerima sebuah takdir yang satu itu.


Erin langsung menatap papinya dengan lekat, kemudian menggeleng pelan.


''Papi jangan bicara seperti itu lagi, aku nggak suka. Papi kan selalu janji akan membimbingku sampai kapanpun.'' ujar Erin dengan menatap sendu pada papinya.


Bagi seorang anak perempuan, ayah adalah cinta pertama baginya. Apalagi sejauh ini, tuan Erick selalu memberikan perhatian yang besar untuk Erin. Mami dan kakaknya pun menutup rapat tentang cerita-cerita tidak baik tentang kepala rumah tangga mereka. Cukup mereka yang mengetahui, jika Erin memang tidak tau, biarlah sampai kapanpun ia tidak akan tau, karena itu bisa sangat melukai perasaannya.


Mami yang sedari tadi diam kini mengusap lembut punggung tangan putrinya itu.


''Maksud papimu, sekarang papi kan jantungnya tidak sekuat dulu. Papi akan lebih jarang melakukan aktivitas yang sering keluar rumah, termasuk ke kantor. Untuk itu, papi ingin kamu semakin giat lagi, supaya bisa lebih cepat berjalan sendiri tanpa dibimbing sama papimu terus.''


''Kamu mengerti, 'kan?''


Tuan Erick menimpali penjelasan mami dengan sebuah persetujuan. Mami mencoba memberikan penjelasan yang lebih halus.

__ADS_1


Erin hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tau kalimat itu hanya sebuah kalimat yang di rangkai sedemikian rupa hanya untuk membuat hatinya tenang. Mereka lupa jika putri kecilnya itu sudah bukan anak kecil lagi. Ia sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang tetap dengan image anak kecil di dalam keluarganya sendiri.


''Oh ya, gimana rencana S2 kamu, Nak?'' tanya mami mengalihkan pembahasan.


''Emm, aku sedang mempertimbangkan untuk memilih masuk universitas yang mana, Mi.'' jawab Erin bimbang.


Dua universitas terbaik di kota tersebut sangat diidam-idamkan oleh banyak calon mahasiswa baru, salah satunya Erin yang ingin melanjutkan pendidikan S2 nya disana.


Awalnya Erin belum menginginkan lanjut ke S2, tetapi karena permintaan papi untuknya bekerja di kantor Raymond, Erin menjadi ingin lebih cepat melanjutkan studinya mumpung masih berusia muda dan pikirannya yang bisa bercabang-cabang.


''Dua kampus itu semuanya bagus, tapi, kalau Papi boleh kasih masukan, mending pilih yang X, karena yang kamu cari ada disana. Ya istilahnya kamu banget.'' tutur papi.


Erin mengangguk-angguk sembari mempertimbangkan apa yang tengah menjadi pikirannya.


''Sepertinya aku perlu waktu yang cukup buat mempertimbangkan kampus yang mana yang akan ku pilih buat lanjut S2.'' balas Erin.


''Pilihlah yang terbaik, Nak. Tanya pada hati kecilmu, jangan sampai menyesal di pertengahan jalan. Mami tidak ingin waktumu terbuang sia-sia. Jadi, sebelum memastikan pilih yang mana, wajib untuk mencari informasi tentang keduanya sampai benar-benar memilih yang sesuai dengan hati kecilmu.'' jelas mami.


''Siap laksanakan Mamiku sayang yang paling beautiful di dunia ini.''


''Love you, Mom.'' ucap Erin dengan memeluk manja.


Mami membalas pelukan putrinya itu dengan hangat sembari mengusap-usap rambut Erin yang tergerai.


''Papi nggak mau peluk aku?'' sindir Erin.


Tuan Erick pun langsung tertawa kecil dan medekatkan dirinya pada dua wanita kesayangannya itu. Mereka saling memeluk dengan Erin yang berada di tengah-tengah kedua orangtuanya.


Setelah saling berpelukan, semuanya mengurai pelukan itu karena lama-lama terasa engap.


''Sebentar lagi kita akan berpelukan berlima.'' ujar mami.


''Nggak ber-enam sekalian, Mi?'' canda Erin dengan volume suara yang ia pelankan.


Meskipun suaranya lirih, rupanya mami dan papi masih bisa mendengar suara putrinya itu. Sehingga papi dan mami langsung memberikan tatapan pada Erin dengan sorot mata yang serius.

__ADS_1


''Hehehehehe, becanda.'' ujar Erin sembari cengengesan sendiri.


''Aku mau ke kamar dulu, bye.'' ucap Erin langsung bergegas meninggalkan kedua orangtuanya.


__ADS_2