
Maaf ya untuk part sebelumnya Cimai nggak tau kalau ke double, sekarang sudah dihapus hehe🙏
...•••••...
''Maaf sudah membuatmu menunggu..'' ucap Edgar dengan berjongkok disisi sofa tempat Mentari tertidur.
Edgar menyingkap rambut Mentari yang menutupi wajahnya karena tidur dengan posisi miring di sofa. Dilihatnya televisi masih menyala, sedangkan tangan Mentari masih menggenggam ponselnya dan juga remote televisi yang berada disampingnya.
Waktu masih menunjukkan kurang lebih pukul 21.00 WIB, mungkin rasa jenuh yang membuat Mentari tertidur seperti ini. Edgar segera mengambil ponsel itu dengan hati-hati agar tidak membangunkan tidur Mentari dan langsung meletakkan diatas meja.
Edgar sudah bersiap-siap untuk mengangkat tubuh Mentari dan memindahkan ke atas ranjang. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Ardi, rasa kesal itu kembali mencuat.
''Mentari milikku, selamanya akan tetap menjadi milikku!'' gumamnya.
Edgar menghembuskan nafasnya ke sembarang arah agar mengurangi rasa kesalnya. Ia lalu kembali mendekati Mentari.
''Mentari sayang, istriku.. maaf, maafkan aku karena harus mengawali cara yang tidak romantis untuk menikahimu.. andaikan waktu bisa diulang lagi.'' gumamnya lalu mencium kening Mentari lama.
''Mas.. sudah pulang?''
''Ah iya barusan.'' jawab Edgar terkejut mendengar suara sedikit serak Mentari.
''Ma-maaf aku ketiduran.'' ucap Mentari langsung duduk dan mengusap wajahnya, kemudian merapikan rambutnya yang sudah berantakan.
''Iya, nggak papa..'' jawab Edgar tersenyum dan ikut duduk disebelah Mentari.
Hoaamm...
Mentari menutup mulutnya saat menguap karena memang masih mengantuk. Ia tadi terbangun saat mendengar suara Edgar dan merasa ada yang menyentuhnya, tetapi ia tidak mendengar suara Edgar dengan jelas.
''Mas tadi ngomong apa? aku nggak denger.''
''Ohh tadi?? itu.. cuma mau bangunin aja.'' jawab Edgar beralasan.
''Ohh..''
__ADS_1
''Urusannya sudah beres kah? hoaamm..'' tanya Mentari dan lagi-lagi menguap.
''Sudah.'' jawab Edgar.
''Aku siapkan baju tidurnya dulu.'' ujar Mentari sembari beranjak dari sofa.
Edgar mengangguk. Ia memperhatikan langkah Mentari.
Mentari mengambilkan baju tidur untuk Edgar dan juga dirinya sendiri yang memang belum ganti.
Setelah mengambil dua pasang baju, Mentari masih memangku baju itu sembari duduk di sisi ranjang karena Edgar sedang berada di kamar mandi.
''Ini bajunya Mas..''
''Terimakasih sayang.'' ucap Edgar.
Bukan kali pertama, tapi, kata sayang itu tetap membuat jantung Mentari berdebar kencang.
Mentari langsung bergegas ke kamar mandi, ia menggosok gigi dan membersihkan wajah, tangan, dan juga kaki. Kemudian ia berganti pakaiannya didalam.
Edgar berusaha menelan salivanya kuat-kuat. Ia merasa jiwa prianya terguncang saat melihat leher Mentari. Ia mencoba untuk terlihat tenang, menarik nafasnya dalam-dalam lalu kembali menunduk melihat isi ponselnya.
''Arrghh sial kenapa seksi sekali..'" gumamnya dalam hati.
Mentari sudah menyelesaikan kegiatan menyisir rambutnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ranjang, meskipun bukan kali pertama, perasaannya masih tetap terasa canggung. Dan akhirnya ia merebahkan tubuhnya di ujung sambil menarik selimut sampai menutup bahunya. Sebelum merebahkan tubuhnya, Mentari sempat melirik Edgar yang tampak masih fokus dengan ponselnya.
Perlahan Mentari memejamkan matanya, berupaya melanjutkan tidurnya yang harus terpotong karena kedatangan Edgar.
Mentari sudah setengah sadar, antara tidur dan belum. Ia bisa merasakan ada yang sesuatu yang melingkar diperutnya meskipun dengan kondisi mata masih terpejam. Sentuhan itu ia rasa semakin mengganggu tidur Mentari, ditambah dengan hembusan nafas tepat ditelinganya membuat Mentari terbangun sempurna.
''Mas Edgar.'' lirih Mentari.
''Hemm..'' jawab Edgar santai dengan mata terpejam dan tidak bergerak sedikitpun.
''Tolong geser Mas, aku diujung mau jatuh.'' adu Mentari. Faktanya ia memang berada diposisi sangat ujung, Edgar lah yang mendekatinya.
__ADS_1
Mendengar aduan sang istri, Edgar langsung membuka kedua matanya dan mengecek langsung. Yang dikatakan oleh Mentari sangat benar adanya, ia sudah diujung.
''Ohh maaf, sayang..'' ucap Edgar sambil duduk, dan diikuti oleh Mentari.
Edgar bergeser sedikit memberikan ruang untuk Mentari semakin geser ke tengah.
''Kamu sinian, jangan diujung terus nanti jatuh.''
''Aww! Mas Edgar!!''
Edgar terkekeh pelan karena membuat Mentari terkejut, secara tiba-tiba ia menarik tubuh Mentari dan berhasil membuat posisi Mentari berada diatasnya. Kini tubuh keduanya tidak ada celah lagi, hanya pakaian yang menjadi penghalangnya.
''Mas!'' Mentari berusaha beranjak, tetapi Edgar terus menahannya.
''Empuk..'' goda Edgar.
Mentari terbelalak mendengar perkataan Edgar sekaligus melihat ekspresi wajah suaminya yang melirik ke balon kembarnya itu.
''Masssss!!!'' Mentari menepuk dada Edgar.
Edgar semakin terkekeh, rasanya semakin menggemaskan melihat wajah Mentari saat digoda.
''Kita harus pelukan seperti ini terus kalau tidur.''
Edgar sudah menurunkan Mentari untuk tidur disebelahnya dan sekarang mereka saling berhadapan.
''Tidur Mas, jangan dilihatin terus..'' Mentari menutup wajahnya karena gugup mendapat tatapan dari Edgar.
Edgar yang tiba-tiba teringat kembali akan perkataan Ardi, langsung semakin merapatkan pelukannya dan seakan tak ingin lepas. Ia tidak mengatakan apapun, yang ada dipikirannya hanyalah tidak ingin siapapun merebut apa yang sudah menjadi miliknya.
''Mas..''
''Sssttt..'' Edgar tidak ingin menjawab dan memberikan isyarat agar Mentari diam.
Mentari tidak bisa bergerak, ia berada didalam dekapan Edgar dengan mulut terdiam. Kepalanya terbenam didada Edgar merasakan detak jantung sang suami.
__ADS_1
''Jujur.. aku merasa nyaman Mas.'' gumam Mentari dalam hati.