Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 217 : Patuhi Aturan Kami!


__ADS_3

Penantian cukup lama untuk bisa bertemu dengan orang-orang tersayangnya lagi. Akhirnya Erin dan kedua orangtuanya sudah siap menuju negara Indonesia tercinta.


Kembalinya ke tanah air kali ini menggunakan private jet agar lebih bisa menyesuaikan dengan jadwalnya. Malam hari waktu negara tersebut mereka akan melakukan penerbangan, sehingga tiba di tanah air diperkirakan masih siang.


Erin tampak bahagia, wajahnya terus berseri-seri dengan menatap layar ponselnya. Ia tengah mengirimkan pesan ke seseorang, bahwa perjalanannya akan segera dimulai.


...•Tunggu aku•...


...•Kakak selalu menunggumu•...


Emoticon berbentuk hati tidak pernah ketinggalan dipenghujung pesan yang dikirimkan.


Bukan pertama kalinya, tetapi hati Erin akan selalu berbunga-bunga ketika mendengar atau membaca kalimat sederhana dari Jimmy.


''Ayo, Nak.'' ajak mami sudah berdiri dan siap masuk ke dalam pesawat.


''Erin..!'' seru mami yang sudah melangkah lebih dulu dan ternyata baru menyadari bahwa Erin masih tetap pada tempat duduknya.


Erin langsung menoleh ke arah mami yang menyerukan namanya.


''Malah melamun, ayo.'' seru mami lagi.


''Ohhh, iyaa, hehe''


Erin langsung beranjak dan menyamai langkah kedua orangtuanya. Mereka masuk ke private jet, para kru menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.


Di tempat lain, tepatnya di rumah tahanan. Mychelle dan mamanya semakin kesal dengan nasibnya kini. Kepura-puraannya selama ini menjadi orang yang baik ternyata tidak bertahan lama. Mereka tetap kembali pada sifat aslinya yang belum juga berubah meskipun di dalam penjara. Meskipun untuk mamanya lebih bisa menahan diri untuk tidak terus menerus emosi. Berbeda dengan Mychelle yang kelewat sering melakukan protes dan penolakan terhadap tugas-tugas yang harus dipatuhi oleh semua tahanan.


Kasusnya tidak bisa berhenti dengan penebusan. Mereka sudah mendapatkan hukuman yang berat atas rencana-rencana yang sudah mereka rancang dengan baik. Apalagi keterangan dari saksi tentang rencana memasukkan pil penunda kehamilan yang ditujukan pada Mentari. Hal yang sudah pasti membuat Edgar murka dan tidak akan mencabut laporan itu sampai masa hukumannya selesai.


''Arrrgghh!! aku tidak bisa hidup disini terus, Ma!'' sungut Mychelle dengan menghentak-hentakkan kakinya di tanah.


''Wajahku kusam, baju euuhh jelek begini!'' lanjut Mychelle menghirup aroma baju tahanannya itu.


''Nggak bisa luluran, nggak bisa meni pedi cure! nggak bisa clubbing! isshhh! benar-benar menyebalkan kamu Ei!''


"Apalagi itu si wanita kampungan!"


Mereka bersama anggota tahanan lain tengah melakukan pembinaan dengan membersihkan area tempat tersebut, ada yang mencabut rumput, menyapu halaman, dan membersihkan kamar mandi, dan lain-lain. Sedangkan Mychelle dan mamanya tengah memegang gagang sapu dengan jijiknya.


''Kamu itu bisa diem nggak sih, Chell!!'' geram mama Mychelle dengan gigi yang direkatkan agar tidak di dengar orang lain.


Tahanan lain menatap mereka sinis, tak ada yang berani menegur jika bukan hal terpaksa. Karena Mychelle dan mamanya menjadi tahanan yang galak dan berisik sejak pertama kali masuk.


''Mama itu kenapa sih?!'' protes Mychelle.


''Emangnya Mama betah tinggal di tempat ini?!'' seru Mychelle masih bersikap keras.

__ADS_1


''Kamu itu kalau mikir pake ot4k! semua itu gara-gara kamu! mikir makanya!!'' balas mama Mychelle lalu mendorong kening putrinya itu dengan jari telunjuknya. Kemudian ia pergi dengan wajah yang marah.


Mychelle tetaplah Mychelle, seseorang yang tidak mau disalahkan. Ia justru menggerutu karena di toyor saat di depan banyak orang. Para tahanan lain pun saling berbisik menyaksikan antara ibu dan anak itu, ada yang menahan tawa dengan menutup mulutnya saat melihat adegan penoyoran. Sementara pihak polisi yang mengawasi masih belum bertindak selagi belum kelewatan. Kejadian hal seperti itu bukan kali pertama bagi keduanya. Ibu dan anak itu sudah sering melakukan drama.


''Apa lo lihat-lihat!'' gertak Mychelle pada tahanan lain yang menatapnya sinis.


Mereka langsung kembali melanjutkan aktivitas bersih-bersihnya karena ada polisi yang mendekat ke arah mereka.


''Hey kamu!'' seru polisi pria itu.


Mychelle menoleh dengan raut wajahnya yang masam.


''Yaelah Pak, ini juga lagi nyapu.'' ujar Mychelle dengan berpura-pura nyapu. Matanya melirik tajam pada polisi yang berdiri satu meter darinya.


''Apa yang kamu sapu?!'' tegas pak polisi tersebut, karena tempat Mychelle berdiri sejak tadi sudah tidak ada sampah.


''Lihat disana! letakkan sapu itu dan bersihkan toilet!'' tunjuk polisi itu.


Mychelle langsung mengangkat wajahnya dan mengikuti arah telunjuk dari pak polisi. Seketika mulutnya langsung terbuka lebar karena selama ini selalu menolak perintah itu.


''Bapak tau siapa saya!'' tantang Mychelle tanpa rasa takut.


''Saya tidak peduli siapa kamu! yang pasti kalian semua disini sama-sama manusia bersalah yang sedang menerima hukuman!'' tegas polisi tersebut.


''Jadi, silahkan kamu patuhi aturan kami! paham!'' seru pak polisi lagi.


''Saya tidak mau! toilet itu bau, Paaakkk!!'' tolak Mychelle yang masih bersikeras.


''Maafkan sikap keras anak saya, Pak polisi.'' ucap mama Mychelle langsung menarik paksa lengan putrinya itu.


Polisi tersebut mengangguk.


''Mama ih!!'' gerutu Mychelle sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan mamanya.


''Aww sakit, Ma!! lepas!''


Setelah tiba di depan toilet itu, Mychelle menghempaskan tangannya dengan kasar. Mamanya sudah bernafas dengan naik turun.


''Hukuman kita itu bisa diperberat kalau kamu bersikap seperti itu terus, Mychelle!''


Mychelle membuang nafas kasar ke udara sembari mengusap-usap lengannya yang terasa panas akibat cengkeraman dari mamanya sendiri.


''Terus ... mau Mama tuh aku harus gimana, ha?''


''Apa aku harus nyuci kaki satu persatu dari mereka, gitu? iya?!''


''MYCHELLE!!''

__ADS_1


PLAK


Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi Mychelle. Kedua wanita itu sama-sama shock.


''MAMA!'' seru Mychelle dengan matanya yang berkaca-kaca penuh emosi.


''Ma-afkan Mama, Nak.'' ucap mama Mychelle lirih dengan menatap telapak tangannya. Ia berusaha meraih wajah Mychelle, tetapi putrinya itu menepisnya dengan kasar.


''Ada apa ini!'' seru polisi yang datang karena menerima aduan dari tahanan lain yang melihat kejadian itu.


Mychelle dan mamanya menatap polisi tersebut tanpa menjawab apapun. Mychelle dengan tatapan geram, sedangkan mamanya dengan tatapan mata yang menyesal karena sudah spontan melukai putrinya. Biar bagaimanapun, ia tetaplah seorang ibu yang menyayangi putrinya itu.


''Kalian berdua ini, ribut terus! ibu sama anak sama saja!'' seru polisi tersebut.


Mychelle langsung meninggalkan mereka dan masuk ke kamar mandi.


''Saya mohon maaf, Pak Polisi.'' ucap mama Mychelle.


''Silahkan dilanjutkan, Nyonya.'' balas polisi.


''Baik Pak.''


Polisi tersebut meninggalkan tempat itu, sementara mama Mychelle langsung menyusul putrinya dengan mengetuk pintu kamar mandi.


"Maafkan Mama, Nak. Mama khilaf..,"


Mychelle tidak merespon, ia semakin marah dengan keadaan ini. Ntah seperti apa hatinya, bukannya menjadi sadar, ia malah semakin geram.


Ketukan pintu yang sedari tadi terdengar tidak ia gubris. Permohonan maaf dari mamanya sendiri juga ia acuhkan.


Di tempat yang serupa, Ardi di tahan di rumah tahanan yang berbeda. Ia bersama tahanan lain melakukan kegiatan seperti hari-hari biasanya.


Jika Mychelle masih bersikap keras tanpa mau mengakui kesalahannya, berbeda dengan Ardi. Ia berubah menjadi sosok yang lebih pendiam dan juga santun. Apalagi setiap harinya selalu dipenuhi oleh perasaan bersalah.


Setelah melakukan kegiatan pembinaan bersama lainnya, mereka makan nasi bungkus secara bersama-sama. Ardi bersama dengan yang lain menyantap menu makanan dengan isian yang sangat sederhana.


''Sangat sederhana.'' bathin Ardi menatap makanan itu.


Tiba-tiba matanya berembun, ia mulai makan dengan wajah menunduk dan terus mengerjapkan kedua matanya agar tidak sampai meneteskan air mata. Setelah dirasa cukup baik, ia menatap lurus ke depan seperti yang lainnya.


Bayangan mamanya pun selalu hadir ditengah-tengah ia menyantap makanan itu. Ia tersenyum dan terus melanjutkan makannya.


''Kenapa senyum-senyum sendiri?'' tegur seseorang di sebelah Ardi.


''Eh, nggak ada apa-apa. Tempe gorengnya enak ya.'' jawab Ardi sekenanya.


Pria disebelahnya itu hanya nyengir heran. Perasaan rasa tempe gorengnya tetap seperti biasanya, nggak bisa berubah jadi rasa ayam goreng ka ep ci.

__ADS_1


"Ayo dihabiskan, Bang." ujar Ardi.


"Ya, ya." jawab pria itu.


__ADS_2