Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 82 : Kuat Apa Tuh?


__ADS_3

''Kalian ini repot-repot sekali bawa sebanyak itu.'' ujar bu Maryam.


''Tidak repot kok, Bu.. kami senang melihat anak-anak menjadi semakin semangat.'' jawab Edgar.


Edgar tersenyum memperhatikan anak-anak disana yang tertawa riang dengan ketulusan. Bu Maryam mengikuti arah pandangan Edgar yang belum teralihkan.


''Saya sangat bahagia melihat Mentari bersama anda, Tuan.'' ujar bu Maryam dengan tatapan lega.


Edgar kemudian berbalik menghadap bu Maryam yang sedang mengajaknya berbicara.


''E.. panggil saya Edgar saja, Bu..'' ucap Edgar.


Bu Maryam langsung tertawa kecil.


''Bagaimana mungkin, Tuan..'' balasnya sedikit ragu.


Mentari pun paham akan maksud bu Maryam dan juga Edgar. Ia langsung mengusap lengan bu Maryam.


''Bu, anggap suamiku seperti Ibu menganggapku..'' ucap Mentari pelan.


Edgar sedikit mengangguk dan tersenyum tipis.


''Aa.. iya-iya, Ibu akan mencobanya.'' jawab bu Maryam.


''Ayo diminum tehnya, keburu dingin..'' titah bu Maryam.


Edgar dan Mentari langsung meraih teh hangat yang sudah disuguhkan.


''Kami mohon maaf Bu, baru sempat kesini sekarang.'' ucap Mentari.


''Tidak apa-apa Mentari, kamu sekarang sudah menjadi istri dari laki-laki yang memiliki banyak kesibukan. Ibu juga sudah memberi pengertian kepada anak-anak.''


Mentari hanya tersenyum tipis lalu menatap suaminya.


''Bagaimana kalau kelilingnya sekarang saja?'' tanya bu Maryam menatap Mentari dan Edgar secara bergantian.

__ADS_1


Edgar langsung mengangguk setuju.


''Boleh Bu..'' jawabnya.


Bu Maryam langsung beranjak dari tempat duduknya. Beliau berada di tengah-tengah antara Edgar dan Mentari.


Edgar memperhatikan setiap penjelasan yang diutarakan oleh bu Maryam. Mulai dari awal berdirinya tempat ini, perjuangan untuk tetap konsisten memberikan tempat yang layak bagi anak-anak itu.


Tak ketinggalan juga, bu Maryam kembali menceritakan awal mula kedatangan Mentari bersama ibunya di tempat ini. Edgar hanya menyimpulkan senyumnya saat bu Maryam menceritakan hari itu.


''Anda, eh kamu beruntung Nak Edgar.'' ujar bu Maryam.


''Benar Bu, saya sangat beruntung berjumpa dengan istri saya yang cantik luar dalam.''


''Berlebihan kamu Mas.'' sahut Mentari membuat bu Maryam tertawa kecil.


''Aku yang beruntung dinikahi pria kaya..'' sambungnya sembari terkekeh pelan.


Perkataan Mentari membuat Edgar dan bu Maryam ikut terkekeh.


''Kalian itu sama-sama beruntung, Ibu sangat bersyukur. Dan berharap tidak lama lagi menerima cucu dari kalian..'' ucap bu Maryam menatap perut Mentari yang masih rata


''Kami akan bekerja lebih keras lagi, Bu..'' jawab Edgar yang diikuti oleh senyumnya.


''Ibu tidak memburu-buru sesuatu yang berhubungan dengan takdir. Kalian nikmati saja setiap prosesnya, cepat atau lambat patut kita syukuri..''


''Iya Bu, terimakasih..''


Setelah puas berkeliling sembari mendengarkan cerita dari bu Maryam. Tidak terasa matahari sudah semakin berada diatas, cuaca hari ini pun sangat cerah.


''Kalian harus makan dulu sebelum pulang.'' ujar bu Maryam.


''Kenapa Ibu repot-repot? Ibu kan capek..'' ujar Mentari dengan mengusap lengan bu Maryam.


''Mau kedatangan anak dan menantu masa tidak dimasakin.. sekali-sekali haha.'' jawab bu Maryam lalu tertawa.

__ADS_1


''Ayo masuk, coba menu sederhana kami nak Edgar. Barangkali belum pernah merasakan masakan seperti ini, silahkan dicoba. Kalau istrimu pasti doyan..''


Bu Maryam langsung mendahului mendekat meja makan, beliau membuka tudung saji dan memperlihatkan beberapa menu masakannya.


Aroma masakan yang lezat dan menggoda membuat Mentari menelan air liurnya sendiri.


''Kelihatannya sangat enak-enak, Bu..'' ujar Mentari.


''Pastinya dong..'' jawab bu Maryam yakin dengan hasil olahannya.


''Ayo silahkan duduk..'' titah bu Maryam.


Edgar dan Mentari langsung menarik kursi yang berhadapan dengan bu Maryam. Mereka hanya makan bertiga, karena anggota keluarga bu Maryam lainnya sedang memiliki kegiatan di luar dan belum pulang juga.


''Ayo-ayo, ambil yang banyak, pantang pulang sebelum kenyang.'' canda bu Maryam ketika melihat Mentari sedang mengambilkan nasi untuk Edgar.


''Nanti ku habiskan semua ya Bu..'' balas Mentari ikut becanda.


Mentari bergantian mengambil untuk dirinya sendiri.


''Boleh boleh..''


''Istriku sangat kuat Bu..'' sahut Edgar.


''Kuat apa tuh?'' tanya bu Maryam dengan wajah yang datar.


Uhuk uhuk


Pertanyaan bu Maryam membuat Mentari langsung tersedak saat sedang minum, sementara Edgar yang mau memasukkan makanan ke dalam mulutnya pun kembali ditarik saat melihat istrinya batuk.


''Pelan-pelan sayang.'' ujar Edgar dengan memberikan pijitan kecil ditengkuk Mentari.


Mentari hanya meringis dan kembali meneguk air mineralnya.


''Pelan-pelan Mentari..'' ucap bu Maryam yang tidak menyadari pertanyaannya membuat Mentari tersedak.

__ADS_1


''Hehe iya Bu..''


Setelah lega, ketiganya langsung fokus menyantap makanan siang ini. Mentari sangat menikmati masakan-masakan seperti ini, dengan bumbu yang lengkap sehingga menciptakan rasa yang kuat.


__ADS_2