
Mychelle meninggalkan rumah itu dengan cepat. Ia masuk ke dalam mobilnya yang ia kendarai sendiri. Ia memukul-mukul benda bulat yang tak salah itu.
''Mau di ajak kerjasama malah nyuri start duluan! dasar nenek tua!'' umpatnya.
''Bagaimana pun juga, rencanaku harus tetap berhasil, jangan sampai gagal!''
Mychelle mengambil ponselnya, ia mencari nomor seseorang lalu melakukan panggilan telepon. Perbincangan yang sangat penting, mereka sangat serius merencanakan sesuatu.
''Ya, ya.. kita atur lagi. Disini kita punya tujuan yang sama. Jangan seperti nenek tua itu yang gegabah dalam bertindak!'' tegas Mychelle.
''.......''
''Oke, bye'' ucap Mychelle.
Mychelle menutup sambungan telepon. Ia kembali menghidupkan mesin mobilnya.
°°
Mentari bersembunyi di dada bidang sang suami. Ia meringkuk dengan nyaman di pelukan suaminya.
''Mas..''
''Hemm.. apa sayang?''
''Makasih ya Mas kemarin sudah menguatkan dan meyakinkan aku untuk bisa menghadapi mama.'' ucap Mentari.
Edgar membenarkan sandaran duduknya di sofa tanpa melepaskan pelukannya pada sang istri.
''Sesekali memang harus ditegasi agar tidak diinjak-injak terus sama mereka. Aku percaya sama kamu, pasti berani.''
Mentari tersenyum tipis.
''Kenapa dulu aku bisa masuk ke dalam keluarga itu?'' lirih Mentari. Ia masih kerap tanpa disadari mengulang rasa penyesalan itu.
''Sudah sayang, yang dulu biarkan berlalu, sekarang ada aku. Mami, papi, Erin, aku yakin mereka benar-benar sayang sama kamu.'' Edgar membelai wajah Mentari dengan lembut.
Perkataan Edgar memang benar adanya, ia sangat mendapatkan kasih sayang dari keluarga ini. Sosok Edgar yang terlihat dingin diluar sana, ternyata sangat manis.
__ADS_1
''Aku masih heran Mas, kenapa sih kamu menikahiku?''
Edgar melepaskan pelukannya, membantu sang istri untuk duduk saling berhadapan. Edgar menatap penuh teliti di wajah Mentari.
''Kenapa ya? e.... tak ada alasan apapun selain kamu memang jodohku.''
''Yakin?''
''Tapi, kalau disuruh membuat penilaian awal pertemuan kita, itu lucu banget ya sayang. Masih ingat nggak?''
Edgar terkekeh sendiri mengingat hari itu. Sedangkan Mentari kembali sebal karena pagi itu sangat sial baginya. Berawal dari bangun telat, tidak sarapan, dan di jalan justru menabrak mobil orang. Pria yang gagah dan tampan, sayangnya sangat menyebalkan karena seenaknya sendiri. Ah.. masih tidak percaya jika orang menyebalkan itu adalah bos barunya yang membuatnya terburu-buru, dan lebih yang membuat masih tidak percaya adalah orang menyebalkan itu kini menjadi suaminya.
''Kalau ingat pagi itu, rasanya pingin marah banget! pagi-pagi bangun kesiangan, nggak sempat sarapan, eh dijalan ketemu orang ganteng-ganteng, tapi, sayangnya menyebalkan! seenaknya memerasku!'' keluh Mentari.
''Haha.. maafkan aku ya sayang. Boleh pukul aku sekarang, cubit juga boleh. Pukul disini nih..'' balas Edgar dengan mencondongkan tubuhnya dan bibir mengerucut.
''Haha.. kamu kenapa sih Mas? bibirmu seperti bebek tau nggak..'' ledek Mentari.
Edgar yang niatnya menggoda sang istri justru malah dibalas ledekan.
''Katanya ganteng, tapi, dibilang seperti bebek.''
Mentari meraih pipi sang suami agar menghadapnya, ia mendaratkan ciiuman di bibir Edgar. Tentu saja Edgar tidak shock, ia langsung sigap menahan tengkuk Mentari dan memperdalam ciuman itu.
Edgar mengusap lembut sudut bibir Mentari setelah selesai melakukan aksi dadakan. Keduanya sama-sama tersenyum.
''Jangan memuji Jimmy ganteng lagi, cukup aku.''
Mentari mengernyitkan keningnya, drama apa lagi ini. Ia tidak menyadari kapan mengatakan Jimmy ganteng.
''Hah? memangnya kapan aku bilang Jimmy ganteng, Mas?'' tanya Mentari.
''Tuh kan malah di ulang lagi..''
''Kamu bicara apa sih Mas? aku nggak ngerti..''
Edgar mencubit gemas hidung sang istri.
__ADS_1
''Tadi kamu bilang ketemu orang-orang ganteng, berarti untuk aku dan Jimmy, kan?''
''Oohhhh itu..'' Mentari menepuk keningnya sendiri.
''Masa mau ku bilang ketemu orang-orang ganteng dan cantik, atau orang ganteng dan biasa saja, gitu?'' protes Mentari.
''Ya begitu, bilang aja satunya ganteng, satunya biasa saja, justru akan lebih baik kalau satunya jelek.'' balas Edgar dengan santai.
''Iya-iya, hanya suamiku yang paling ganteng di dunia ini.'' ujar Mentari.
Edgar langsung menghujani ciiuman di wajah Mentari.
''Aku khawatir kalau jauh sama kamu, sayang.'' ucap Edgar setelah berhenti membuat Mentari engap.
''Seharusnya aku yang khawatir, Mas.'' balas Mentari.
''Why?''
''Why?'' Mentari mengulang pertanyaan Edgar.
''Sejujurnya aku juga memiliki rasa takut ketika kamu harus melakukan aktivitas kesana kemari. Bertemu dengan rekan-rekan dari berbagai kalangan. Sedangkan aku tidak ada apa-apanya. Tapi, selama kamu membuktikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku percaya.''
''Jujur aku khawatir kamu seperti kebanyakan bos-bos besar, hobi mendua.'' lirih Mentari.
Mentari mengatakan itu dengan wajah menunduk, ia tau ucapannya sensitif. Ia tak berani menatap wajah suaminya.
''Terimakasih sayang, sudah mengkhawatirkan aku, itu tandanya kamu mencintaiku.''
''Aku tau maksud perkataanmu karena kamu tau mengenai masalalu papi.''
Mentari langsung mengangkat wajahnya, keduanya saling menatap.
''Maafkan aku, Mas..''
Edgar menarik Mentari ke dalam pelukannya. Ia mengusap-usap punggung Mentari dengan lembut.
''Tak perlu minta maaf, karena memang begitu faktanya. Kisah itu menjadi pembelajaran untuk aku, sayang. Aku tidak mau menyakiti istriku. Kamu harus bahagia bersamaku, sampai menua bersamaku nantinya.''
__ADS_1
Mentari terharu atas kata demi kata yang terucap dari bibir Edgar. Ia tak menjawab apapun, hanya dengan mengeratkan pelukannya sebagai tanda bahwa ia sangat berterimakasih.