
Sejak kedatangan tadi, Ardi langsung diam-diam memperhatikan Rita yang terlihat akrab dengan Mentari. Diam-diam ia tersenyum melihatnya, seperti ada kesan tersendiri dalam hatinya.
Mereka sama-sama sedang makan, sehingga tidak mengobrol terlebih dahulu.
''Oh, wow, jangan ada yang mendekat, apalagi mengganggu.'' cegah mami pada Lenna dan juga lainnya ketika melihat Ardi dan Rita duduk bersebelahan.
''Apa mereka sudah kenal sebelumnya?'' tanya Lenna.
''Sepertinya belum.'' jawab mami.
''Semoga gadis itu tidak membenci anakku yang seorang mantan narapidana.'' harap Lenna.
''Semua akan baik-baik saja, Len.'' ujar mami menenangkan adik iparnya itu.
Lenna tersenyum tipis, mereka beralih ke hal lain supaya Ardi dan Rita tidak merasa tak nyaman.
''Sepertinya kamu sama Dira sangat akrab?'' tanya Ardi.
''Iya, saya berteman baik dengan Mentari saat sama-sama di kantor cabang.'' jawab Rita.
''Ohh, jadi kamu bekerja di cabang?'' balas Ardi.
Rita pun mengangguk.
Ardi tidak mengenal Rita, sepertinya Rita masuk setelah ia tak lagi bekerja di sana.
''Salam kenal ya, saya Ardi.'' ujar Ardi mengulurkan tangannya lebih dulu.
Rita menatap uluran tangan itu, kemudian langsung menoleh ke kanan dan kiri, ia takut ada yang memperhatikan mereka.
__ADS_1
''Rita.'' balas Rita.
Di tempat lain, Jimmy dan Erin tengah duduk berdua di kursi yang ada di sisi kolam renang. Keduanya tidak lama lagi akan kembali berpisah untuk sementara waktu.
''Apa kamu benar-benar sudah siap untuk tahun depan?'' tanya Jimmy.
Jantung Erin kembali berdetak kencang, tak terasa ia sudah semakin dewasa untuk menerima pertanyaan ini.
''A-aku siap, Kak.'' jawab Erin.
Jimmy terkekeh kecil melihat calon istrinya yang gugup itu. Ia lalu menggenggam tangan Erin.
''Jangan nakal ya kalau lagi jauh sama calon suaminya.'' pinta Jimmy.
''Jangan ragukan kesetiaan Erin yang hanya pada Jimmy seorang.'' balas Erin yang membuat Jimmy kembali terkekeh.
Mentari selesai menyusui baby Elgio. Ia langsung membawa bayi laki-lakinya itu ke sebelah baby Elzia yang masih nyenyak. Bibir mungil kedua bayinya itu bergerak-gerak sehingga membuat Mentari gemas.
''Mas, ih!'' protes Mentari dengan suara yang berbisik agar tidak menggangu tidur bayi-bayinya.
Untung saja mami sedang tidak ada di kamar, kalau ada, Edgar sudah di cubit atau di tampol lagi.
''Gantian Mami yang nungguin, kalian makan dulu.'' ujar mami yang baru kembali ke kamar.
''Oke, Mami.'' jawab Edgar.
Pasangan suami istri itupun keluar dari kamar, berpapasan dengan Lenna yang hendak menyusul mami.
''Silahkan Tuan, Nona.'' ujar pak Dar yang sudah berjaga di depan kamar bosnya itu.
__ADS_1
Konsumsi makanan untuk Mentari tidak sembarang, ia dibuatkan makanan khusus. Sudah disiapkan untuk makan mereka di lantai dua.
''Mas, Mas!'' panggil Mentari.
''Apa sayang?''
''Lihat itu.'' tunjuk Mentari dengan ekor matanya.
Mereka melihat Ardi dan Rita duduk bersebelahan. Mereka terlihat sudah berkenalan, karena melihat tawa dari keduanya.
''Ya sudah, biarkan mereka saling berkenalan. Kita makan dulu, sayang.'' ujar Edgar.
Mentari pun mengangguk.
...
Semua tamu undangan dari yayasan pun sudah berpamitan, bu Maryam yang merupakan pengurusnya juga ikut pamit.
Mentari dan Edgar melambaikan tangannya pada anak-anak itu. Mereka yang anak lama berada di yayasan pun sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan Mentari.
Sama halnya dengan Mentari, ia begitu antusias ketika keluarga suaminya yang seolah mengerti perasaan dan pikirannya, sehingga memilih untuk mengundang yayasan dari bu Maryam.
''Ayo sayang kita masuk lagi, nggak baik kalau kamu kebanyakan berdiri.'' ajak Edgar.
Mentari tidak membantah, keduanya kembali masuk ke dalam rumah. Di dalam tersisa keluarga inti saja dan juga staf event organizer yang dipercaya untuk mengurus acara syukuran ini.
''Rita dimana?'' tanya Mentari sembari mengedarkan pandangannya.
''Ke atas, Nona.'' jawab Jimmy.
__ADS_1
''Ohh.''
Mereka pun duduk di tempat yang sama. Jimmy duduk bersebelahan dengan Ardi dan Erin. Edgar tidak mempermasalahkan lagi, apalagi sekarang yang menjadi perhatiannya adalah anak-anaknya dan juga Mentari.