
Edgar keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah karena habis keramas. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.
Ia pun melanjutkan langkahnya untuk mengambil baju ganti dan segera memakainya.
''Pasti disana.'' gumam Edgar ketika melihat pintu terbuka.
Sebelum mendapatkan sebuah protes dari Mentari, Edgar meletakkan handuk basah yang habis ia pakai ke tempat yang benar.
''Sayang.'' panggil Edgar.
''Sini, Mas. Sudah ku buatkan jus.'' ujar Mentari lalu menatap dua gelas jus di atas meja.
Edgar tersenyum sembari duduk di kursi yang sama dimana Mentari berada. Sebuah ciiuman langsung ia daratkan di seluruh wajah Mentari.
''Terima kasih istriku yang cantik.'' ucap Edgar setelah selesai menciiumi wajah Mentari.
''Hmmm, buruan di minum, Mas.''
''Iya, sayang.'' balas Edgar.
Matahari sudah terbenam, kini berganti bulan yang naik untuk menyinari gelapnya malam.
Setelah selesai makan malam, Edgar mengajak Mentari untuk membuka oleh-oleh dari sang adik yang dibawakan Jimmy.
''Sebentar aku ambil cutter dulu.'' ucap Edgar.
Mentari mengangguk. ''Iya, Mas.'' jawabnya.
Edgar kembali dengan membawa benda kecil yang tajam itu. Ia langsung membuka kotak yang terbungkus rapi. Lalu mengambil satu persatu isinya.
Mentari menerima itu dan membuka pembungkusnya. Ia langsung tersenyum lebar menatap benda ditangannya itu.
''Pasti Erin ingin aku memakai ini ketika perutku sudah membesar.'' ujar Mentari.
''Coba lihat, sayang.'' pinta Edgar.
''Ini.''
Mentari menyerahkan baju tersebut pada suaminya.
''Pasti kamu semakin cantik pakai baju ini, sayang.''
Mentari tersenyum sembari melihat lainnya yang masih di dalam kotak. Ada beberapa baju untuknya dan juga Edgar. Dan ada beberapa makanan kemasan yang tidak ada disini.
Baju terusan itu terlihat sangat sederhana, jika di pakai Mentari ukurannya bisa sampai menutupi lutut. Bahannya juga sangat cocok untuk ibu hamil. Meskipun tampak sederhana, Mentari tau bahwa harga dari baju tersebut tidaklah murah. Ia tidak akan sanggup membelinya jika masih berada di kondisi yang seperti dulu.
''Diam-diam adikku pengertian juga, dan tidak salah dalam menentukan pilihan.'' ujar Edgar setelah melihat semuanya.
''Tentu saja, Mas. Erin sangat pandai dalam memilih apapun.'' balas Mentari memuji adik iparnya itu.
Erin sudah menceritakan pada kakak iparnya itu tentang rasa bahagianya ketika bisa pergi berdua dengan Jimmy. Mentari pun ikut bahagia mendengarnya.
''Besok jadi, Mas?'' tanya Mentari.
Edgar sudah menjanjikan untuk menyetujui menginap di rumah lama Mentari. Sekarang Jimmy sudah kembali ke Indonesia dan besok adalah hari Jum'at. Edgar sempat mengatakan kesana hari Jum'at sore.
''Jadi dong, sayang. Malam Minggunya kita adakan syukuran disana.'' jawab Edgar.
''Ternyata kamu serius mau lakukan itu, Mas?'' tanya Mentari.
Edgar mengangguk, lalu memasukkan barang-barang tersebut kembali ke dalam box dan meletakkannya di pinggir sofa.
__ADS_1
''Iya, sayang.''
''Berarti aku harus kesana lebih cepat dong, Mas? banyak yang harus aku bereskan disana, aku harus ikut bersih-bersih.'' ujar Mentari dengan wajahnya yang panik.
''Jangan khawatir, rumahmu selalu bersih. Aku lupa memberitahumu kalau ada orang yang ku kerjakan untuk menempati rumah itu supaya tetap terawat. Kalau kosong dan kotor juga akan menjadi cibiran orang 'kan?''
''Tenang saja, orang yang menempati rumahmu termasuk orang yang ku percaya. Jangan khawatir ya.''
Mentari langsung memeluk suaminya.
''Terima kasih, Mas.'' ucapnya.
Edgar menciium kening Mentari cukup lama.
''Rumah itu memiliki banyak kenangan terindah untukmu. Rumah yang memiliki banyak cerita manis dan pahit. Rumah yang juga bersejarah untuk awal kisah kita, dimana kita sah menjadi pasangan suami istri. Yaahh, walaupun di awali dengan tuduhan yang tidak baik.''
Mentari semakin mengeratkan pelukannya, lalu tertawa kecil mengingat malam hari itu.
Sejak malam itu, mungkin omongan-omongan negatif tentangnya semakin meluas. Status yang melekat pada Mentari sangatlah rentan akan fitnah dan di nilai rendah karena oknum-oknum yang sengaja menjatuhkan harga dirinya sendiri. Sedangkan seorang wanita yang selalu berusaha menjaga diri pun juga terkena imbasnya dari mulut-mulut yang tidak bisa dikendalikan.
Namun, sekarang Mentari sudah yakin, omongan buruk itu tidak lagi ada. Edgar sudah membuktikan cintanya, bahwa pernikahan yang mereka jalani bukanlah sebuah permainan. Sebab, saat awal-awal pernikahannya, Mentari sendiri tidak yakin pernikahan itu akan bertahan lama, mengingat ungkapan Edgar tentang alasan menikahinya.
''Iya, Mas. Banyak sekali kenangan disana, dari ada yang menemani hingga aku sendirian, sampai menikah lagi secara tiba-tiba. Kalau di rasakan, memang sangat sayang meninggalkan rumah itu. Tapi, demi baktiku untuk suami, aku harus mengikuti kemanapun suamiku tinggal.'' terang Mentari yang masih berada di dalam pelukan suaminya.
Edgar menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
''Terima kasih, sayang ... karena sudah hadir di dalam hidupku.'' ucap Edgar lalu menciium kening Mentari.
Keduanya saling berpelukan lama. Sesuatu yang tidak pernah bosan untuk dilakukan, karena dengan seperti ini bisa membuat perasaan terus menerus menjadi saling nyaman.
''Katanya minta di pijit?'' tanya Edgar.
Mentari langsung mendongak. Hanya dengan saling berpandangan membuat keduanya sama-sama tertawa karena paham apa maksudnya.
''Maaf ya, Mas. Hari ini kakiku benar-benar pegal-pegal, nggak tau kenapa.''
''Hmm, ya sudah ayo ke kamar mandi dulu. Biar nanti kalau pas di pijit ngantuk, bisa langsung tidur.''
Mentari pun nurut, ia menurunkan kakinya dan bersiap ke kamar mandi.
Rutinitas seperti biasanya ketika menjelang tidur. Gosok gigi, cuci wajah, tangan, dan kaki. Mereka melakukan secara bersamaan dengan sedikit candaan. Setelah selesai, keduanya langsung naik ke atas ranjang.
''Beneran ya, Mas? aku mohon pengertiannya.'' ucap Mentari memohon.
''Iyaa ... janji kalau nggak khilaf.'' jawab Edgar.
''Maaasss.''
''Becanda, sayang. Tukang pijat tampan sudah siap beraksi, bayarannya bisa di dobel besok.''
Mentari terkekeh mendengar perkataan Edgar. Ia lalu bersiap dengan merebahkan tubuhnya. Kakinya ia luruskan yang langsung di sambut oleh pangkuan paha Edgar.
Edgar pun mulai beraksi bak seorang tukang pijit profesional yang sedang bekerja untuk pasiennya. Ia melakukannya dengan baik dan Mentari terlihat nyaman.
Dengan posisinya yang seperti itu, Mentari meraih ponselnya dan membuka aplikasi kamera. Ia merekam aktivitas sang suami yang sedang memijit.
''Pak CEO lagi jadi tukang pijit. Kasian ya.'' ujar Mentari sembari menahan tawa.
''Istrinya pak CEO suka ngancam, kalau nggak di pijit nanti jatahnya berkurang.'' balas Edgar mendekatkan wajahnya ke ponsel Mentari.
Keduanya langsung tertawa bersama.
__ADS_1
Edgar melanjutkan pijitannya dan Mentari masih merekam sembari mengeluarkan candaan-candaan yang membuat Edgar terhibur.
Tiba-tiba Edgar mendapatkan sebuah ide yang sangat cemerlang untuk menjaili sang istri.
''Masih di rekam?'' tanya Edgar.
''Hu'um.'' jawab Mentari.
Edgar langsung tersenyum lebar.
''Ini adalah cara yang paling benar dan sempurna ketika istri mengeluh kaki pegal-pegal. Memijat merupakan hal yang tidak sulit, kita bisa melakukannya dimana saja dan kapan saja.'' Edgar berbicara layaknya seorang content creator.
Mentari menahan tawanya melihat gaya bicara Edgar.
''Kamera tolong yang fokus.'' pinta Edgar yang langsung di turuti oleh Mentari.
Edgar mulai melakukan aksinya, gerakan pijitannya perlahan naik ke atas. Dan akhirnya tiba di suatu tempat yang sangat ia inginkan, namun, harus di tunda. Ia merabanya sehingga membuat Mentari spontan langsung berteriak.
''Maasss..!!''
Mentari langsung duduk dan meletakkan ponselnya di samping.
''Kenapa sih?'' tanya Edgar santai.
''Sudahlah, nggak jadi pijit!'' jawab Mentari yang sudah cemberut. Ia pun langsung menurunkan kakinya dan menarik selimut untuk bersiap-siap menuju alam mimpi.
Edgar mengambil ponsel Mentari dan ia letakkan di atas nakas. Ia ikut merebahkan tubuhnya di belakang Mentari yang sudah memunggunginya.
''Mau dilanjutkan apa nggak?'' bisik Edgar di telinga Mentari.
''Nggak!'' jawab Mentari cepat lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Edgar semakin menempel dan memeluk sang istri dari belakang. Ia hanya bisa menciium punggung Mentari.
''Jangan marah, dosa loh tidur dalam keadaan masih marah. Ayo baca do'a dulu.'' bisik Edgar.
Mentari tidak sebenarnya marah, ia juga sedang mengerjai suaminya. Di balik membelakangi suaminya, Mentari menahan tawa.
Mentari tidak menjawab apapun.
''Sayang ... maafin aku ya, aku hanya becanda. Ya sudah lanjutkan mijitnya, ya.''
''Ini serius.''
''Nggak!'' tolak Mentari.
Edgar langsung duduk, lampu kamarnya pun belum ia padamkan sehingga bisa melihat dengan jelas.
''Sayang, mama marah sama Papa.''
Edgar mengadukan kepada calon anak-anaknya. Seketika itu juga Mentari langsung melepaskan tawanya.
''Oohhh, ternyata ...''
''Sudah ah, Mas. Aku sudah ngantuk, mau tidur.''
''Maafkan aku, aku nggak marah. Kamu juga istirahat ya, Mas... maaf malam ini kamu harus puasa dulu.'' ucap Mentari lirih.
''Hmm, baiklah malam ini Papa harus puasa dulu, Nak.''
Edgar mengusap lembut perut Mentari dan menciumnya berkali-kali.
__ADS_1
Lampu kamar ia padamkan dan beralih ke lampu tidur. Edgar menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka yang sekarang sudah saling berhadapan lagi.
''Good night.''