Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 49 : Saling Memaafkan Saja


__ADS_3

Bingkai foto hasil USG pecah dan berserakan di lantai.


Mentari tak sengaja menjatuhkan bingkai tersebut sehingga membuatnya pecah berantakan dan serpihan kacanya berserakan di lantai karena lagi-lagi terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Edgar.


''OWWHH!!!'' Mentari langsung terbelalak saat melihat kaca yang sudah pecah. Ia langsung berlutut mengambil lembaran kertas tersebut untuk menyelamatkannya karena itu sangat berharga untuk Edgar.


''Tuan, saya mohon maaf, saya benar-benar tidak sengaja, maafkan saya, maafkan saya..'' Mentari membungkukkan kepalanya memohon maaf. Ia meletakkan kertas tersebut dengan sangat hati-hati diatas meja pajangan.


Seketika Mentari langsung terlupakan panggilan barunya.


''Saya mohon maaf, Tuan..'' ucapnya lagi.


Mentari langsung kembali berlutut memungut serpihan kaca itu dengan buru-buru.


''Aww..'' rintih Mentari karena jari telunjuknya terkena pecahan kaca bingkai, ia meringis merasakan perih dijarinya yang sudah mengeluarkan darah.


''Ya ampun.. ceroboh sekali.'' Edgar meraih jari telunjuk Mentari dan menyesap darah tersebut tanpa rasa jijik.


Mentari menatap Edgar dengan perasaan senang dan gugup, bagaimana ia tidak akan gugup jika mendapatkan perlakuan yang manis seperti ini.


''Sebentar.'' ucap Edgar lalu berdiri.


Edgar mengambil kotak p3k, dengan cepat ia membersihkan sisa darah lalu menempelkan plester di jari telunjuk Mentari.


''Terimakasih Tuan.'' ucap Mentari.


''Apa?'' tanya Edgar seraya mendekatkan telinganya.


''Euummm.... terimakasih.. sa-yang.'' balas Mentari mengulangi ucapannya yang sudah diperbaiki. Namun ia hanya menatap Edgar sebentar lalu beralih menatap lainnya.


Edgar mengulum senyumnya mendapatkan kata sayang meskipun masih terdengar sangat kaku.


''Tuan, eh sayang, sudah tidak marah lagi?'' tanya Mentari ragu.


''Aku tidak marah, kamu selalu menilaiku marah, apakah wajah suamimu yang tampan ini terlihat seperti preman yang menyeramkan, hem?''


''Ah tidak-tidak, bukan begitu.. aku hanya takut karena sudah merusak sesuatu yang berharga dalam hidupmu.'' jawab Mentari.


''Dan tadi, anda eh kamu cuma diam saat aku meminta maaf..'' imbuhnya.


Edgar tersenyum mendengar jawaban Mentari yang selalu bersedia meminta maaf jika merasa bersalah. Ia meraih kembali tangan Mentari dan menggenggamnya.

__ADS_1


''Kamu tau alasannya kenapa tadi aku cuma diam?''


Mentari menggeleng.


''Kamu manggil Tuan, Tuan.. siapa Tuan?''


''Ehhehe iya maaf, aku spontan karena belum terbiasa untuk itu, maaf..'' jawab Mentari.


''Sudah-sudah maafnya, jadi kayak lebaran.. sekarang kamu duduk di sofa, biar aku yang bersihkan ini semua.''


''Tapi..''


''Nggak ada tapi-tapian.'' sahut Edgar memotong perkataan Mentari.


Edgar membantu Mentari untuk berdiri, lalu menuntunnya ke arah sofa.


''Tidak perlu dituntun seperti ini, aku bisa jalan sendiri kok.'' ujar Mentari berusaha menolak karena ia merasa ini sangat berlebihan.


''Sayangnya aku nggak butuh penolakan.'' sahut Edgar.


Mentari menghembuskan nafas, ia akhirnya memilih nurut saja.


''Aku benar-benar minta maaf karena sudah merusak sesuatu yang sangat berharga dihidupmu.'' ucap Mentari setelah duduk di sofa.


''Kenapa Tuan eh kamu jadi ikutan minta maaf? kan ini salahku, sudah jelas sekali kalau bingkai itu jatuh karena terkena tanganku..'' protes Mentari.


''Ya sudah kita saling memaafkan saja, gimana?'' ucap Edgar.


''Emmm, oke deh.'' Mentari mengangkat jari kelingkingnya untuk membuat janji.


Edgar tertawa gemas sembari menyatukan jarinya di jari Mentari, kemudian keduanya sama-sama tertawa.


''Udah ah, malu.'' Mentari menarik jarinya.


''Kamu duduk disini, jangan bergerak, aku mau bersihkan itu dulu.'' tunjuk Edgar pada serpihan kaca bingkai.


''Aku bantu ya..'' usul Mentari langsung berdiri penuh semangat.


''Nggak boleh.'' tolak Edgar.


Mentari langsung merasa sedih, ia menunduk dengan bibir yang sudah mengerucut.

__ADS_1


Cup


''Tuan!!!!!'' seru Mentari karena terkejut tiba-tiba Edgar menarik dagunya dan mendaratkan ciuman dibibirnya.


''Kamu sengaja kan menggodaku dengan mengerucutkan bibir?'' goda Edgar.


''Enggak!!'' bantah Mentari dan langsung memalingkan wajahnya.


Edgar tertawa gemas, ia langsung mendekati serpihan kaca dan memungutnya dengan hati-hati.


°°


Seharian berada di kantor, akhirnya Mentari dan Edgar kembali memasuki rumah setelah dua malam menginap di villa.


''Kok dari tadi mami sama papi nggak kelihatan ya?'' tanya Mentari penasaran.


''Iya ya..'' sahut Edgar.


Edgar dan Mentari menuruni anak tangga karena waktunya makan malam.


Setelah berada di bawah, kebetulan ada salah satu art yang sedang meletakkan makanan diatas meja.


''Mbak, papi sama mami apa lagi ada acara diluar ya kok belum kelihatan dari tadi?'' tanya Mentari pada art tersebut.


''Loh memangnya Nona tidak tau kalau tuan Erick dan nyonya ke luar negeri?''


Edgar yang sedari tadi tidak menatap art itu langsung menatapnya.


''Terbang kapan?'' tanyanya.


''Tadi malam Tuan, katanya non Erin sakit, maunya ditunggu mami.''


''Astaga anak itu..'' gerutu Edgar.


''Ya sudah terimakasih, lanjutkan pekerjaanmu.''


''Baik Tuan..''


Art tersebut langsung meninggalkan Mentari dan Edgar yang sudah duduk bersiap-siap untuk makan malam.


''Kita makan dulu.'' ucap Edgar sebelum Mentari bertanya.

__ADS_1


''Iya..'' jawab Mentari.


__ADS_2