
Dua hari berlalu, semua agenda sudah diselesaikan dengan sesuai jadwal. Tuan Erick, beserta istri, dan juga putrinya sudah bersiap untuk kembali ke luar negeri.
Penerbangan mereka sudah terjadwal dinihari dari Indonesia. Sebelum keberangkatan, keluarga tersebut menggunakan sisa waktu untuk makan malam di salah satu restoran. Tentu saja dengan Jimmy yang sudah resmi menjadi calon anggota keluarga, bukan hanya sekedar anggapan saja.
Satu jam lebih mereka menghabiskan waktu di restoran, dan sekarang sudah siap untuk berangkat.
''Kalian jaga kesehatan ya, Nak.'' ujar mami lalu memeluk anak dan menantunya itu secara bergantian.
''Iya Mi.'' jawab Mentari.
''Mami, Papi, dan Erin ... jaga kesehatan juga ya.'' ujar Mentari menatap kedua mertuanya dan juga adik iparnya itu.
Ketiganya mengangguk bersamaan sambil tersenyum pada Mentari.
Mami beralih menatap Jimmy yang berdiri di sebelah Edgar. Pria itu tetap menempatkan diri sebagai orang lain yang tidak lebih mengantarkan keluarga bosnya.
''Terima kasih atas kejutan yang kamu berikan pada kami, Jim.'' ucap mami menatap Jimmy dengan senyum.
Jimmy langsung menundukkan kepalanya.
''Sama-sama, Nyonya.'' jawab Jimmy.
Mami tersenyum, lalu mengusap lengan Jimmy akrab.
Suasana menjadi haru mengiringi perpisahan sementara itu. Erin pun langsung menitikkan air matanya ketika berada dalam pelukan Edgar.
''Terima kasih ya, Kak.'' ucap Erin yang semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Mentari yang berada disebelah Edgar ikut menitikkan air mata haru. Ia mengusap-usap punggung Erin sembari menyeka air matanya sendiri.
Setelah semuanya berpamitan, mereka benar-benar berpisah. Erin dan Jimmy harus menjalani hubungan jarak jauh lagi. Tapi, meskipun sedih, perasaan mereka jelas berbeda dengan biasanya. Kali ini tidak ada lagi drama saling menyembunyikan hubungan.
Saat ini hanya tersisa mereka bertiga.
''Tuan, Nona ... saya akan langsung kembali ke apartemen, permisi.'' ucap Jimmy.
''Oh, ya, Jim. Terima kasih sudah ikut mengantar. Hati-hati dijalan.'' ucap Edgar.
Jimmy mengangguk lalu meninggalkan bosnya itu.
Tak lama kemudian, Edgar dan Mentari pun juga langsung pulang ke rumah.
Jalanan kota masih ramai kendaraan mobil maupun motor. Edgar pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia ingin menikmati suasana malam hari, menatap gemerlap malam bersama sang istri. Mereka menikmati perjalanan sembari mengobrol.
''Kamu sangat lelah ya, sayang? maafkan aku.'' ucap Edgar lirih, lalu memberikan kecupan di kening Mentari yang tidak juga terbangun.
Edgar hanya menyimpulkan senyumnya melihat bibir Mentari yang sedikit terbuka. Ia langsung membuang pikiran mesumnya, dan melanjutkan perjalanan setelah membuat kursi mobil lebih nyaman untuk sang istri agar lebih cepat sampai rumah.
Tiba di rumah sedikit lebih lambat karena Edgar benar-benar sangat hati-hati dalam membawa mobilnya. Ia langsung keluar dari mobil dan membuka pintu Mentari. Wanita itu tampak masih tidur.
''Permisi Tuan, apa ada sesuatu yang terjadi dengan nona Mentari?'' tanya security yang terlihat panik.
Edgar yang sudah memasukkan kepalanya ke dalam mobil pun terpaksa keluar lagi.
''Tidak, Pak. Istri saya hanya ketiduran, saya tidak tega membangunkannya.'' jawab Edgar.
__ADS_1
Security tersebut langsung nyengir karena salah mengira.
''Baik Tuan, saya khawatir. Permisi.'' ucapnya.
Edgar mengangguk.
Edgar mengambil tas kecil yang Mentari letakkan di dasbor. Ia mengalungkan tas tersebut di badannya, lalu membopong tubuh Mentari dengan hati-hati.
''Jangan khawatir, istri saya hanya ketiduran.'' ujar Edgar tanpa ditanya pada asisten rumah tangga yang kebetulan berpapasan dan terkejut melihat Edgar membopong Mentari.
Wanita itu langsung nyengir karena bosnya langsung paham isi pikirannya. Ia menatap bosnya yang sudah berlalu itu.
''Duhh so sweet banget sih majikanku, si tuan bisa-bisanya makai tas nona Mentari, xixixi.'' gumam wanita itu.
''Ada apa, Mbak?'' tanya Listi penasaran sembari mengikuti arah tatapan teman kerjanya itu.
''Aduh, Listi, bikin kaget aja.''
''Tadiii, tuan Edgar masuk sambil membopong nona Mentari, aku shock karena mikir ada apa-apa. Tapi, sebelum aku tanya, tuan Edgar sudah bilang duluan kalau istrinya hanya ketiduran. Dan yang paling manis, tuan Edgar bawain tas nona Mentari di selempangin gitu, gemes banget, 'kan?'' tuturnya.
Listi yang ketinggalan pemandangan itu pun hanya bisa membayangkan sembari senyum-senyum sendiri.
''Malah kamu yang ngelamun, gimana sih?'' protesnya.
''Hehe, yaudahlah daripada kita kejebak baper disini, mendingan kita beres-beres terus istirahat.'' ujar Listi.
''Hahaha, iya juga ya.''
__ADS_1
Mereka langsung melakukan pekerjaannya, semakin cepat dikerjakan, maka, waktu istirahat semakin cepat merasa dapatkan.