
Mentari menggeleng.
''Aku ini suamimu.. bukan alasan lagi untuk mengedepankan malu, bahkan isinya saja aku sudah pernah lihat, tinggal yang bawah aja yang belum dapat izin.'' celetuk Edgar yang langsung dipelototi Mentari.
''Becanda sayang.. udah buruan, jangan sampai kita nggak jadi tidur gara-gara gaun.''
''Tapi, kamu jangan macam-macam ya Mas!'' pinta Mentari yang disertai ancaman.
''Iyaaa..'' jawab Edgar.
Edgar sudah berada di belakang Mentari, bersiap membantu sang istri melepaskan gaunnya. Edgar membuka resleting itu dengan sangat pelan sembari memperhatikan setiap inchi punggung itu. Mentari mengenakan dalaman model kemben dan juga celana legging panjang berwarna putih senada.
''Buruan Mas..'' pinta Mentari.
''Ah iya-iya maaf..'' jawab Edgar gugup.
Edgar mengedipkan matanya berkali-kali dengan cepat lalu menghembuskan nafasnya.
''Sudah Mas, terimakasih.. aku bisa sendiri.'' ujar Mentari setelah gaunnya terlepas.
''Oh, iya-iya..''
Ternyata menahan suatu godaan itu sangat berat, Edgar masih berusaha kuat.
Edgar duduk di sisi ranjang, memperhatikan sang istri yang sedang mengambil gantungan untuk menggantung gaun itu. Melihat Mentari seperti keberatan membawa gaun tersebut, Edgar langsung sigap membantu.
''Terimakasih Mas..'' ucap Mentari yang mendapat anggukan dari Edgar.
Mentari yang masih mengenakan kain ketat itu tentu saja membuat Edgar kesusahan untuk mengalihkan pandangannya. Berkali-kali ia selalu menelan salivanya kuat-kuat dan menghela nafas.
Edgar kembali duduk, kali ini ia duduk di sofa sembari memperhatikan sang istri yang masih menggantung jas dan lainnya yang ia geletakkan begitu saja.
Meskipun sudah pernah menikah, nyatanya body Mentari masih terlihat kencang. Bagi yang belum mengetahui, pasti akan mengira jika dirinya masih gadis. Edgar memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki Mentari, lalu berusaha mengalihkan pandangannya agar bisa lebih santai.
''Jangan pake itu.'' cegah Edgar saat melihat Mentari akan memakai handuk untuk menutupi badannya.
''Aku risih Mas..'' jawab Mentari tetap melanjutkan memakai handuk.
''Lagian nanti kamu jadi makin mesum.'' imbuhnya dengan volume kecil.
''Hahaha.. apa?''
''Enggak, aku mau mandi dulu Mas.''
''Yaudah iya..'' jawab Edgar mengalah.
Mentari langsung cepat-cepat pergi mandi, badannya sudah terasa sangat lengket. Ia tidak melupakan untuk membawa baju tidurnya.
Beberapa menit ia sudah selesai, bergantian dengan Edgar yang ingin berendam terlebih dulu dengan air hangat.
__ADS_1
Sepuluh menitan Edgar berendam sembari memejamkan matanya, ntah sekarang jam berapa, sepertinya semakin larut.
''Sayang..''
''Sayang..''
''Iya Mas? ada apa?'' Mentari berdiri di pintu dengan melongokkan kepalanya.
''Tolong ambilkan handuk yang di koper, aku lupa nggak bawa kesini.'' pintanya.
''Oh, iya sebentar..''
Mentari mengambil handuk yang diminta oleh suaminya.
''Tarok sini ya..''
''Kejauhan sayang, sini..'' tunjuk Edgar pada tempat yang lebih dekat dengannya.
Mentari pun menurut.
''Istirahat Mas..''
''Iya, ini sudah selesai.'' jawab Edgar.
''Mas Edgar ih!! nggak langsung berdiri juga!'' seru Mentari lalu balik badan membelakangi Edgar.
Hahaha
''Kalau tergoda bilang aja, jangan malu-malu.'' bisik Edgar ditelinga Mentari sembari melangkah mendahului.
Kedua mata Mentari langsung terbelalak mendengar kalimat Edgar.
°°
''Tidak ada selain kita, siapapun yang berusaha memisahkan kita tak akan berhasil selagi kita berada di dalam satu tujuan.'' tutur Edgar.
Mentari mengernyitkan keningnya mencerna maksud kalimat yang diucapkan oleh Edgar.
''Aku tau soal Ardi, aku tau dia menyukaimu, tapi, syukurnya kamu tidak menyukainya, jadi perasaanku sangat lega.''
''Tapi, ingat.. apapun itu bisa saja terjadi, kita harus tetap waspada. Dan permintaanku, tolong jaga pernikahan kita.'' Edgar menghadap Mentari lalu menggenggam tangan itu.
''Ta-tau darimana soal itu Mas? aku sungguh tidak ada apa-apa.'' tanya Mentari lalu berusaha meyakinkan suaminya.
''Iya percaya sayang, dia sendiri yang mengakuinya didepan mataku. Sudah, jangan bahas dia lagi.'' jawab Edgar.
''Mas, kamu percaya sama aku?'' tanya Mentari.
Edgar mengangguk.
__ADS_1
''Tentu saja.''
''Terimakasih..'' ucap Mentari.
Keduanya kembali terdiam.
''Aku tau, dulu caraku salah.. Tapi, hari demi hari, aku sadar ternyata kamu memang pilihanku, aku sudah tertarik denganmu sejak awal, dan aku tidak melirik siapapun, apalagi membuka pilihan lain. Semuanya langsung satu tujuan yaitu kamu.''
Mentari mendengar dengan seksama seraya menatap bola mata Edgar, terlihat suaminya itu mengatakan dengan ketulusan. Tanpa disadari, Mentari menitikkan air mata karena merasakan haru.
''Terimakasih Mas, aku tidak tau harus berkata apa, rasanya sangat sulit dipercaya untuk berada diposisi ini. Sedih, bahagia, tekanan, aku bukan wanita sempurna, banyak sekali kekuranganku, tapi, aku selalu menyayangi diri sendiri. Kelas kita yang sangat jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi.''
''Tapi, aku akan selalu belajar untuk mengendalikan diriku, belajar menjadi wanita dan istri yang baik untuk Tuan Edgar.'' ucap Mentari seraya menatap mata suaminya dengan senyuman.
Edgar langsung menarik Mentari ke dalam pelukannya.
''Kamu sudah sempurna dimataku, aku yang salah.''
Hoamm..
Mentari tiba-tiba saja menguap karena saking ngantuk. Meskipun suara menguapnya sudah dipelankan, ternyata Edgar mendengar. Edgar pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum.
''Ngantuk?''
''Hehehe maaf..''
''Baiklah kalau begitu, kita istirahat.. ditunda dulu main-mainnya.''
Pasangan ini langsung beristirahat dengan saling berhadapan.
Sementara itu, di kamar lain.
''Sialan hp mereka off semua, kan nggak jadi gangguin!'' gerutu Erin.
Hahahaha
''Tau aja nih mereka kalau bakal ada yang gangguin.''
Erin tertawa sendiri di dalam kamar hotel, ia tidur sendirian sehingga puas terbahak-bahak.
''Kira-kira lagi ngapain ya mereka?''
''Wahhh ponakan akan launching secepatnya nih hihi..''
Erin membayangkan gambaran wajah keponakannya, kolaborasi antara wajah Edgar dan Mentari jika menjadi anak laki-laki ataupun perempuan.
''Mirip aunty juga bolehlaahhh..''
Semakin malam, Erin menyadari semakin sepi.
__ADS_1
''Sendirian banget nih.. horor juga lama-lama, sebaiknya aku akan segera tidur.''
Erin celingukan ke kanan dan ke kiri, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.