
Hari ini terasa sangat cerah sekali, secerah mentari menyinari dunia. Kalau Ghadira Mentari khusus menyinari dunianya Edgar Raymond seorang.
Janji yang diucapkan Edgar akan membawa Mentari ke rumah lamanya membuatnya tidak sabar supaya waktu cepat-cepat bergeser ke sore hari. Ingin rasanya cepat-cepat meluapkan rasa rindu yang tertahan setelah beberapa bulan ini ia tinggalkan.
Padahal baru saja menyelesaikan sarapannya, Mentari sudah memikirkan sore hari. Edgar saja belum berangkat ke kantor. Serindu itu Mentari pada tempat tersebut.
''Tidak lupa kan, Mas?'' tanya Mentari dengan senyum cerah yang memperlihatkan giginya.
Edgar langsung paham apa yang di maksud oleh Mentari.
''Tidak dong, sayang. Sudah tidak sabar ya?''
Mentari mengangguk.
Edgar pun tersenyum lalu maju selangkah untuk merengkuh pinggang sang istri. Keduanya langsung berjalan ke ruang tamu, dimana Jimmy sudah datang ke rumah untuk menjemput bosnya.
''Hay, uncle Jimmy.'' sapa Mentari dengan tersenyum lebar.
Jimmy langsung berdiri dan membungkukkan badannya. ''Selamat pagi, Nona Mentari.'' ucap Jimmy.
''Pagi juga, Jimmy.'' balas Mentari lalu duduk di sofa.
''Sayang.'' tegur Edgar.
Edgar tidak menyukai hal itu. Meskipun Jimmy bukanlah orang asing baginya, tetapi melihat Mentari menyapa akrab seperti itu jelas saja membuatnya tidak suka.
''Anak-anak kita ingin menyapa uncle Jimmy.'' jawab Mentari memberikan alasan.
Mendengar kata anak, membuat Edgar luluh. Ia tak melanjutkan protesnya. Dan memilih mengusap lembut perut Mentari dengan memberikan ciiuman.
Setelah mendapatkan balasan, Jimmy kembali duduk. Ia melirik sekilas pada Mentari yang juga masih menatapnya dengan pandangan seolah-olah ingin melontarkan kata cie-cie pada pasangan yang baru pergi kencan itu.
"Jimmy terlihat bahagia sekali, pasti dia memang sedang bahagia.'' bathin Mentari sembari tersenyum tipis lalu melirik sekilas ke arah Jimmy.
Edgar masih membicarakan tentang pekerjaan bersama Jimmy. Sedangkan Mentari memilih untuk menyimak percakapan dua pria tampan itu.
''Kita berangkat dulu ya, sayang.'' ucap Edgar.
Ketiganya langsung beranjak dari sofa. Mentari siap menciium punggung tangan suaminya, dan seperti biasanya, Edgar memberikan kecupan manis di kening Mentari lalu ke perut dengan mengajak berbicara pada calon anak-anaknya.
''Hati-hati, Mas. Aku tunggu di rumah.''
Edgar mengangguk.
Kedua pria itu sudah berada di jalan raya. Mobil yang dikendarai oleh Jimmy sudah membelah keramaian kota. Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di kantor. Semua orang menunduk tanda penghormatan ketika bertemu dengan dua orang penting di Raymond group itu.
''Oh ya, Jim, nanti sore aku sudah janji pada istriku untuk menginap di rumah lamanya. Dan rencananya besok malam kami mengadakan acara syukuran disana. Kamu harus datang juga.''
Ting
Pintu lift terbuka, keduanya langsung keluar menuju ruang kerja.
''Saya usahakan untuk datang, Tuan.'' jawab Jimmy.
''Dan satu lagi, Jim. Aku minta tolong sampaikan juga ke Rita, kalau tidak sibuk, aku harap besok dia juga datang lebih awal untuk menemani istriku karena aku tidak akan membawa orang rumah kesana.''
''Baik, Tuan. Nanti akan saya sampaikan pesan anda.'' jawab Jimmy.
''Thanks, Jim.''
__ADS_1
Jimmy membalas dengan anggukan.
Edgar langsung masuk ke ruangannya, sementara Jimmy juga ke ruangannya sendiri.
Setibanya di ruang kerjanya, Jimmy langsung teringat pesan dari Edgar untuk menyampaikan pesan pada Rita. Jimmy langsung mencari nomor Rita di daftar kontaknya.
Nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi..
Kedua alis Jimmy langsung saling bertautan. Pagi-pagi seperti ini nomor seorang karyawan bisa-bisanya tidak aktif.
''Apa ponselnya mati? atau rusak?'' gumam Jimmy.
Jimmy menggeleng cepat lalu mencoba menghubungi nomor Rita lagi. Tidak ada salahnya untuk mencoba, siapa tau kali ini berhasil.
Dan ternyata percobaan keduanya sama saja tidak berhasil, hanya suara dari operator yang menjawab teleponnya.
Jimmy meletakkan ponselnya di atas meja lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tiba-tiba ia teringat pertemuan tak sengajanya kala itu dan membawa Rita ke rumah sakit.
''Kenapa aku jadi teringat satpam itu. Apa dia memiliki sesuatu yang di sembunyikan?'' gumam Jimmy.
Jimmy terdiam sejenak. Namun, ia langsung menggelengkan kepalanya cepat dan mencoba berpikir positif.
''Dia terlihat baik-baik saja.'' gumam Jimmy lalu menghidupkan laptopnya.
Nanti pada siang hari, Jimmy akan mencoba menghubungi Rita lagi. Jika nomornya masih saja belum aktif, ia berpikir bisa mendatangi kantor cabang atau melihat keadaan rumahnya. Apakah rumah itu terlihat kosong atau ada orangnya.
-
Di rumah Raymond
Para bekerja pria sudah mulai memindahkan barang-barang yang berukuran besar itu. Sedangkan pekerja wanita membantu memindahkan barang-barang yang tidak besar. Karena pemasangan lift harus bisa diselesaikan dengan cepat.
''Ini ringan kok, tidak apa-apa sekalian olahraga.'' jawab Mentari yang membawa pajangan di tangannya.
''Tapi, Non ... lebih baik biarkan kami saja yang mengerjakannya.'' pinta Listi lagi dengan nada suara yang lebih memohon.
Mentari tersenyum tipis, ia tau maksud Listi. Akhirnya ia pun mengalah karena tidak ingin para pekerjanya yang mendapatkan sasaran kemarahan dari Edgar karena di anggap tidak bekerja dengan baik dan membiarkan Mentari bekerja. Ia juga tidak mau membantah pesan dari sang suami untuk tidak melakukan aktivitas berat.
''Baiklah, satu ini saja ya.'' ujar Mentari.
Senyum gadis manis itu akhirnya mengembang.
''Baik Non, terima kasih.'' ucap Listi.
Mentari mengangguk lalu meletakkan benda yang berada ditangannya itu ke atas sofa. Benda itu sebenarnya juga tidak berat, karena niat Mentari hanya ingin ikut bantu-bantu saja sekedarnya yang tidak berat. Tapi, ada daya kalau niatnya justru membuat para pekerja cemas.
''Seperti ada pesan masuk.'' bathinnya.
Mentari mengambil ponselnya yang berada di dalam saku. Nomor telepon yang tidak memiliki nama, artinya ada nomor baru. Sedangkan nomornya ini hanya beberapa orang yang mengetahui.
^^^Mentari, ini aku Rita^^^
^^^Aku masih cuti jadi pakai nomor ini^^^
^^^Kamu sibuk apa nggak?^^^
Mentari langsung mengernyitkan keningnya membaca isi pesan yang mengaku sebagai Rita itu. Apa benar ini nomor Rita. Tentu saja ia khawatir jika itu nomor dari orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki tujuan yang tidak baik.
^^^Kalau kamu benar Rita, hubungi aku pakai nomormu yang lama^^^
__ADS_1
Mentari memberikan tantangan yang menurutnya menjadi jalan satu-satunya untuk mengetahui apakah itu benar Rita atau hanya orang asing yang mengaku sebagai Rita.
^^^Tunggu sebentar^^^
Setelah membaca pesan itu, Mentari mendekati Listi lagi karena akan ke atas.
''Saya ke atas dulu ya.'' ujar Mentari.
''Baik Nona, silahkan beristirahat.'' balas Listi.
Mentari tersenyum sembari memegang sekilas lengan Listi sebelum meninggalkan.
Mentari masih menunggu dengan duduk di balkon. Sudut bibirnya terangkat karena menunggu kepastian.
''Sepertinya orang yang memakai nomor ini berbohong.'' gumam Mentari.
Di sudut kamar, gadis itu menunduk dengan isak tangis yang belum juga reda. Ia cepat-cepat menghidupkan ponsel satunya.
''Tuan Jimmy?'' gumamnya.
Rita mengusap wajahnya dengan cepat lalu menegakkan posisi duduknya.
''Belum ada dua jam yang lalu.'' gumamnya setelah melihat panggilan telepon masuk saat nomornya tidak diaktifkan.
''Ada apa beliau meneleponku?''
''Pasti ada hal yang penting. Tidak mungkin tuan Jimmy menghubungi jika tanpa kepentingan.''
Rita terdiam sejenak sembari mempertimbangkan untuk menghubungi Jimmy terlebih dahulu atau menghubungi Mentari yang sudah pasti sedang menunggu buktinya.
''Ah, Mentari dulu aja. Jam segini tuan Jimmy pasti sedang sibuk-sibuknya. Aku hanya akan mengganggu waktunya saja.'' gumam Rita.
Mentari akhirnya menyerah setelah menunggu lebih dari tiga puluh menit. Ia pun beranjak dari balkon dan sudah melangkahkan kakinya kembali masuk ke kamar. Ia sudah berniat akan menonton televisi saja.
Namun, langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Mentari segera melihat siapa yang menghubunginya.
''Nomor Rita.'' gumam Mentari.
Kali ini Rita menghubungi dengan nomornya yang biasa. Tanpa adanya rasa ragu, Mentari mengurungkan niatnya untuk ke kamar, ia kembali duduk di kursi yang ada di balkon.
''Bu Bos..!'' seru Rita dari sambungan telepon.
Mentari tersenyum lebar, suara itu langsung menjawab atas keraguannya tadi.
''Ada berapa nomormu, Rita?'' tanya Mentari.
''Hehehe, dua saja kok. Itu juga nomor baru.'' jawab Rita.
''Kamu baik-baik saja kan, Rit? ada keperluan apa kok cuti?'' tanya Mentari.
Terdengar suara tawa kecil dari Rita.
''Aku baik-baik saja kok, Bu Bos. Lagi berkunjung ke rumah saudara. Yaahhh, hitung-hitung refresh otaklah dari rutinitas pekerjaan, haha''
Meskipun Rita terdengar tertawa, Mentari merasa tidak ada yang lucu. Tawa itu terdengar tidak alami di telinga Mentari. Ia malah mengernyitkan keningnya mendengar suara tawa itu.
''Rita ... kamu nggak lagi berbohong 'kan?'' tanya Mentari menyelidik.
Seketika tawa Rita langsung terhenti. Disana Rita menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan kasar ke udara. Pelupuk matanya kembali berembun saat mendengar tanya Mentari yang menyelidik.
__ADS_1