Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 211 : Pemanasan Untuk Olahraga


__ADS_3

Mentari bisa bernafas lega setelah mendapatkan kabar baik dari Vika bahwa Rita sudah melewati rasa sakitnya setelah operasi, kini Rita sudah bisa berkomunikasi dengan baik.


Sedangkan Jimmy juga sudah pulang ke apartemennya setelah memastikan keadaan Rita benar-benar cukup baik.


Edgar mengerti kecemasan yang tengah dirasakan oleh Mentari. Ia menatap punggung sang istri yang baru saja selesai menghubungi temannya yang masih berada di rumah sakit.


''Kita besok kesana lagi.'' ujar Edgar lirih seraya meraih lalu menggenggam tangan Mentari.


''Kamu sudah janji mau cerita soal Rita, Mas.'' tagih Mentari menatap suaminya penuh harap.


Edgar langsung diam, ia sudah berjanji tidak akan membagi informasi itu pada siapapun, terutama Mentari. Namun, wajah Mentari sudah menunjukkan rasa penasaran sekaligus tidak sabar untuk menerima cerita dari Edgar.


"Sayang, kamu yakin mau tau?'' tanya Edgar memastikan lagi.


Tidak ada jawaban, Mentari justru semakin cemberut sehingga tidak ada pilihan lain selain Edgar meminta rekaman suara itu pada Jimmy.


''Sebentar, daripada aku yang cerita, nanti ada yang kurang atau malah kelebihan malah berujung dari masalah. Aku mintakan dulu rekaman suaranya dari Jimmy.''


Mentari mengangguk dan masih setia untuk menunggu.


Edgar mengambil ponselnya hendak menghubungi Jimmy.


''Kurang ajar nomornya sibuk!'' gerutu Edgar.


Edgar langsung mencoba lagi, masih sama saja seperti sebelumnya


''Kenapa Mas?'' tanya Mentari.


''Nomornya Jimmy sibuk.'' jawab Edgar masih tetap menatap ponselnya.


''Mungkin sedang telpon pacarnya, Mas.'' ujar Mentari dengan santai. Ia berusaha untuk menahan tawa.


''Mungkin.'' balas Edgar singkat sembari mencoba lagi. Dan sepertinya ia tidak menyadarinya.


Mentari menoleh pada suaminya, sepertinya Edgar tidak menyadari apa yang ia katakan tadi.


''Eh, apa sayang katamu tadi? telpon pacarnya?''


Edgar tersadar setelah meletakkan ponselnya.


''Santaiiii, jangan emosiiii.'' ujar Mentari sembari mengusap-usap dada Edgar.


Rayuan sang istri membuat Edgar benar-benar tidak jadi emosi. Ia menciium bibir Mentari sekilas, lalu beranjak ke telepon kabel.

__ADS_1


Panggilan telepon itu sepertinya langsung tersambung dan tak lama langsung mendapat jawaban dari Jimmy. Mentari mendengar Edgar sedang menjelaskan alasannya meminta rekaman suara itu. Setelah selesai, Edgar langsung memutuskan sambungan telepon.


''Tunggu sebentar ya, sayang.'' ucap Edgar.


Mentari mengangguk.


Tak lama kemudian, kiriman rekaman suara itu masuk. Edgar langsung memutarkan agar di dengar langsung oleh sang istri.


Keduanya duduk di sofa, mendengarkan suara itu bersama. Mentari tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan. Rita yang selama ini selalu ceria, ternyata tidak dengan suasana hati dan pikiran yang sebenarnya.


Edgar membantu untuk mengusap air mata sang istri yang sudah mulai mengalir. Lalu mengusap lembut perut Mentari.


Yang membuat Mentari semakin merasa bersalah dan menyesal karena tidak peka terhadap temannya itu. Mereka memiliki kisah dalam keluarga yang tidak mudah, namun, keduanya bisa melewati jalannya masing-masing. Walaupun pada akhirnya, Mentari menjadi sosok yang pendiam tapi, tangguh. Sedangkan Rita menjadi sosok yang cerita tapi, memiliki kelemahan pada bathinnya, hingga berimbas pada kesehatannya yang tidak baik.


Di tempat lain, Jimmy sedang berkomunikasi dengan kekasihnya, Erin. Keduanya mengobrol seperti biasanya untuk melepas kerinduan.


Jimmy selalu menggunakan waktu yang terbaik untuk berkomunikasi dengan sang kekasih. Ia tak ingin membuat gadis itu cemburu dan berprasangka yang tidak-tidak, apalagi Erin tau kemana saja perginya Jimmy.


Saat sedang mengobrol, Jimmy terkejut ketika telpon kabelnya bersuara. Ia langsung menjawab panggilan telepon masuk yang ternyata dari Edgar karena nomor ponselnya sibuk.


''Maaf, sayang. Kakak ipar baru saja telepon, karena nomor ini sibuk.'' ucap Jimmy setelah selesai dengan Edgar.


''Ada apa, Kak?''


''Terus kak Edgar marah-marah nggak?'' tanya Erin khawatir.


''Ouuhh, kirain marah-marah lagi.'' balas Erin lega.


''Nggak kok.''


Jimmy langsung membuka file penyimpanan data rekaman itu, setelah didapatkan, ia langsung mengirimkan pada calon kakak ipar.


''Gimana keadaan tuan Erick?'' tanya Jimmy setelah selesai mengirimkan file.


''Sudah berangsur membaik, Kak. Aku sangat senang melihatnya.'' jawab Erin.


Jimmy juga sangat senang mendengar kabar baik ini.


''Syukurlah, sayang. Kamu juga jaga kesehatan terus ya.''


''Iya Kakak.''


Erin semangat menceritakan tentang proses papinya yang semakin membaik. Pria paruh baya itu juga semangat menjalani pengobatan. Setiap anjuran dokter yang ia terima, selalu ia lakukan.

__ADS_1


Mendengar cerita itu, membuat Jimmy tersenyum sendiri. Ia semakin mencintai gadis itu.


''Sebenarnya kami sudah berencana akan ke Indonesia pas aku selesai wisuda. Tapi, karena waktu itu pekerjaan masih banyak, dan sekarang papi masih seperti ini kondisinya, ya terpaksa harus ditunda.'' jelas Erin.


''Kakak akan semakin semangat mendo'akan kalian untuk selalu sehat.'' balas Jimmy.


''Aamiin.'' jawab Erin yang juga sangat berharap tentang kesembuhan papinya.


Mentari masih menangis setelah selesai mendengar rekaman itu. Ia benar-benar tidak menyangka. Dugaannya ternyata benar, Rita sedang tidak baik-baik saja. Tetapi yang membuatnya tidak menyangka, hal tentang keluarganya.


''Sayang ... tidur yuk. Sudah jam sebelas, jangan begadang ya.'' rayu Edgar.


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam agar dadanya terasa lebih ringan, karena saat ini rasanya sangat sesak.


''Yang penting kita sudah bergerak lebih awal untuk membawa Rita berobat. Rita sudah kita urus dengan baik. Kamu juga harus menjaga kesehatan kamu, kesehatan anak-anak kita juga.''


Mentari menoleh, lalu tersenyum tipis menatap Edgar.


''Aku cuci muka dulu, Mas.''


Tak lama kemudian, Mentari sudah kembali. Pelupuk matanya pun terlihat sangat sembab.


''Aku minta maaf sama kamu, Mas.'' ucap Mentari lirih.


Edgar menunggunya di sisi ranjang, Mentari mendekatinya.


''Maaf?''


''Untuk apa?'' balas Edgar.


''Karena aku sudah lancang mendengar pembicaraan kalian, dan juga sudah lancang membuka ponsel kamu, Mas.'' jelas Mentari.


Edgar terkekeh kecil. Ia langsung membuka kedua pahanya dan memberikan tempat bagi sang istri agar masuk ke dalam pelukannya.


''Jangan banyak berpikir yang macam-macam. Aku tidak pernah marah sama kamu, sayang.'' tutur Edgar yang sudah memeluk sang istri dengan erat.


Mentari membalas pelukan itu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


''Aku hanya manusia biasa yang mudah terbawa perasaan, Mas. Maafkan aku ya.''


Ciiuman Edgar di kening Mentari menjadi jawaban bahwa tidak ada yang perlu ia salahkan.


''Tidur sekarang yuk, ada yang bangun dan minta ditidurkan.'' bisik Edgar dengan suaranya yang sengaja menggoda sang istri.

__ADS_1


Keduanya langsung tertawa bersama. Meskipun mata masih sembab, Mentari tetap terhibur dengan apa yang dikatakan oleh Edgar.


Lampu kamar Edgar padamkan, dan mereka pun mulai melakukan pemanasan untuk olahraga yang lebih sesuatu lagi.


__ADS_2