
''Bagaimana kondisi hari ini, Pak?'' tanya Edgar yang sudah berdiri di sebelah ranjang.
Pria itu mengangkat wajahnya secara perlahan dan ragu.
''Ba-baik.'' jawabnya gugup. Ia menoleh sekilas ke arah Mentari yang berdiri di sebelah Edgar.
Mentari menatap Edgar, Edgar pun langsung mengangguk yang di iringi dengan senyum tipis, ia tidak ingin melarang hal yang sudah menjadi harapan besar bagi sang istri. Tanpa nanti-nanti, Mentari langsung mengulurkan tangannya pada pria itu.
Pria itu seperti terkejut, ia langsung menatap tangan Mentari, lalu mendongak untuk memastikan. Dengan senyum getir, kedua matanya sudah menahan tangis sejak tadi.
''Bagaimana kabar Bapak?'' tanya Mentari yang juga dengan suara bergetar.
Dari pandangan pertama ini, untuk pertama kalinya mereka saling bertatap langsung setelah terungkap, bukan ketidaktahuan. Mentari dan bapaknya akhirnya sama-sama menangis.
''Maafkan saya, maafkan saya.'' ucap pria itu dengan menangkupkan kedua telapak tangannya. Ia merasa tidak pantas untuk menyentuh tangan sang anak setelah bertahun-tahun mengabaikannya.
Perasaan yang kuat, Mentari tidak meragukan pertemuannya ini. Walaupun kemungkinan nantinya tetap akan dilakukan test DNA agar bukti lebih akurat. Sulit memang, tetapi ia langsung meyakini bahwa pria yang ada di depannya itu adalah bapaknya, seseorang yang sangat ingin ia temui.
''Bapak tau siapa aku, Pak?'' tanya Mentari.
Pria itu menunduk lagi. Tangisnya pecah, Jimmy yang berada di sisi ranjang pun membantu mengusap punggung pria itu.
''Sayang, duduklah.'' bisik Edgar pada sang istri.
Mentari menoleh, ia langsung duduk di kursi. Ia juga merasa pegal jika harus lama berdiri.
Setelah menunggu, pria itu mengambil nafas panjang beberapa kali. Ada banyak hal yang ingin disampaikannya.
''Kamu pasti sudah mendengar semuanya.'' ujar pria itu.
__ADS_1
Mentari langsung mengangguk.
''Aku nggak benci sama Bapak, tolong jangan menghindar.'' pinta Mentari.
Suara itu terdengar sangat tulus dari seorang anak yang hidup dalam pengabaiannya. Sehingga membuat pria itu semakin tidak kuasa menahan tangis. Perasaan bersalahnya semakin menjadi-jadi.
''Kamu percaya saya bapakmu?'' tanya pria itu tak percaya bagaimana bisa semudah itu ia dipercayai sebelum ada pembuktian.
Mentari kembali mengangguk.
''Saya siap untuk melakukan test DNA.'' ujar pria itu.
Mentari hanya tersenyum tipis. Kedua tangannya ia tumpuk di sisi ranjang, pandangannya menelisik kondisi pria itu. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya sekarang yang serba berkecukupan. Sementara pria itu, terlihat kurus dan pucat, kuku-kukunya menghitam, bahkan ada yang robek.
''Saya minta maaf sama kamu, juga sama ibumu. Maafkan saya yang sudah mengabaikan kalian, semua salah saya.'' ucap pria itu.
''Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya?'' tanya Mentari.
Pria itu akhirnya bisa tersenyum tipis karena sang putri mengingatnya.
''Iya, iya Nak, kita pernah bertemu sebelumnya. Kamu memberikan saya makanan dan juga salad buah yang katanya itu usaha sampingan kamu.'' jawab pria itu yang diiringi senyum lebar dad tetesan air mata secara bersamaan.
Antara senyum dan tangis keluar secara bersamaan. Mentari tidak percaya selama ini sudah pernah bertemu dengan bapaknya.
''Kenapa Bapak tidak mencariku? apa salahku, Pak? kenapa kalau bapak tau itu aku, kenapa bapak bersikap seolah kita ini bukan siapa-siapa, Pak?'' tanya Mentari lirih. Ia sudah tidak peduli wajahnya yang sembab.
''Ba-bapak malu, Nak, malu.''
Pria itu kembali menunduk dalam, tarikan nafas itu ia harapkan bisa lebih membuat dadanya lega.
__ADS_1
''Saya hanya bisa melihatmu dari kejauhan, itu sudah cukup membuat saya merasa cukup senang. Dan, ternyata kita dipertemukan tanpa sengaja waktu itu, saya sangat senang.''
''Saya juga bahagia melihat suamimu begitu menyayangimu, membanggakan namamu di hadapan tetanggamu. Kamu sangat layak untuk itu, Nak.''
Mentari dan Edgar langsung saling menatap. Momen itu hanya sekali, tidak salah lagi, berarti saat Edgar menggelar acara syukuran di kediaman sang istri. Ia tidak menyangka, ternyata pria itu turut hadir, meskipun hanya memandang dari kejauhan.
''Bapak ada di sana waktu acara itu?'' tanya Mentari.
Pria itu mengangguk.
''Ya Allah, Paak.''
Lagi-lagi air mata Mentari tumpah.
''Ada satu hal yang akan saya sampaikan.'' ungkap pria itu.
Mentari langsung mengusap wajahnya yang basah karena terkena air mata. Edgar dan Jimmy pun langsung menatap pria yang duduk di ranjang rumah sakit tersebut.
''Malam itu, saya merasa sangat bersalah karena telat datang, yang akhirnya ada pengganggu datang ke rumahmu malam-malam dan saya tidak tau.''
''Begitu saya datang, saya melihat ada pria di rumahmu malam-malam, saya hanya berpikir dia pria jahat seperti saya. Meskipun katanya, cara tegur mereka justru merendahkan kamu, Nak. Maafkan saya.''
''Tanpa pikir panjang, saya meminta warga disekitar rumahmu untuk menegur. Tapi, jauh di luar dugaan saya, ternyata itu tuan Edgar dan beliau justru meminta untuk dilaksanakan pernikahan pada saat itu juga.''
''Saat mereka keluar, mereka bilang pada saya karena sebagai pelapor. Saya yang hanya seorang pemulung, tidak berani berkata apapun selain menjawab terserah. Mereka pasti tidak akan percaya juga kalaupun saya mengaku sebagai bapakmu.''
Pengakuan itu membuat Mentari, Edgar, dan juga Jimmy saling menatap satu sama lain. Mereka tak percaya ada campur tangan bapaknya di awal pernikahan itu. Meskipun pria itu juga tidak menyangka.
''Tapi ..,''
__ADS_1