Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 139 : Papa Kalian Mes*m


__ADS_3

Erin menutup pintu kamarnya dengan senyuman yang mengembang.


Huuuhhhh


Gadis itu memeluk ponselnya erat-erat sembari menghela nafasnya.


''Hihi..'' Erin tertawa kecil sembari menuju ranjang tidurnya.


Ia menggulingkan-gulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri, benar-benar menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta.


Setelah dari rumah Edgar, Jimmy langsung kembali ke apartemennya. Tidak banyak aktivitas yang ia lakukan di luar sana selain hal-hal yang memang ia butuhkan.


''Lucu sekali..'' gumamnya lirih. Ia mendudukkan dirinya di sofa sembari menatap layar ponselnya.


Jimmy mengetikkan sesuatu pada ponselnya.


''Jangan begadang ya, aku sudah sampai'' Jimmy


Tak lama kemudian pesan itu sudah dibaca oleh pemilik nomor dan langsung nampak sedang mengetik. Jimmy menantikan balasan itu tanpa melakukan aktivitas lainnya.


''Syukurlah, aku bisa tidur nyenyak setelah mendapat pesan ini. Good night ❤️"


Jimmy segera membuka pesan itu dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya dan segera membalasnya.


''I love you ❤️'' Jimmy.


''I love you too''


Jimmy tidak membalasnya lagi, karena jika dibalas terus, maka, timbul pesan-pesan berikutnya sampai tidak jadi tidur.


••


Beberapa waktu kemudian


Pagi hari penuh semangat, setiap masalah yang datang pasti di sertai solusinya. Begitu juga dengan sakit, sakit datang beserta obatnya. Setelah melalui proses yang tidak sebentar dan sangat rumit akhirnya keluarga Raymond bisa bernafas lega. Setiap tahap untuk menyelesaikan urusan dengan Mychelle berjalan dengan baik. Erick Raymond sampai rela menunda kepulangannya ke luar negeri.

__ADS_1


Sekarang, Edgar bisa beraktivitas dengan tenang tanpa diburu oleh wartawan yang diam-diam mengikutinya.


Edgar merapikan kemeja yang ia kenakan. Mentari langsung mendekat dan memakaikan dasi untuk sang suami.


''Mas..'' panggil Mentari.


''Iya sayang?''


''Waktu itu, aku berjanji sama Dini, jika permasalahan ini selesai, kita akan bertemu dengan keluarganya.'' tutur Mentari.


''Ohh begitu? kapan?'' tanya Edgar.


''Aku ikut dengan waktu suamiku.'' balas Mentari.


Edgar langsung memeluk Mentari.


''Maafkan aku, sayang.'' ucapnya.


Mentari membalas pelukan itu. ''Nggak perlu meminta maaf, Mas. Aku mengerti, karena dibalik waktumu yang tersita untuk pekerjaan, ada anak-anak hebat yang sangat senang ketika mendapatkan sebagian hasil dari kesibukan kamu dan semuanya selama ini.''


Edgar mengurai pelukannya, lalu membelai wajah Mentari dengan lembut.


''Atur jadwal pertemuan kita dengan Dini dan keluarganya, besok malam ya.'' ujar Edgar.


''Besok?'' balas Mentari.


Edgar mengangguk tanpa ragu.


''Kenapa?'' tanyanya.


''Nggak papa Mas, kamu yakin besok nggak sibuk?'' tanya Mentari.


''Kalau menuruti kesibukan, kita tidak bisa menikmati kehidupan di dunia ini. Antara waktu luang dan meluangkan waktu.'' tutur Edgar lalu memberikan ciiuman di bibir Mentari.


Mentari mengangguk-angguk mengerti apa yang di maksud oleh suaminya.

__ADS_1


''Mas, boleh ajak Rita juga nggak?'' ujar Mentari meminta izin.


''Boleh sayang. Nanti bu Maryam biar aku aja yang kasih kabar.''


''Tempatnya dimana Mas?''


''Booking resto mereka saja.'' jawab Edgar.


''Serius Mas?'' tanya Mentari antusias.


Edgar menangkup pipi sang istri dengan gemas, dan menghujani ciiuman bertubi-tubi pada sesuatu yang menjadi favoritnya disana.


''Edgar Raymond selalu serius.'' ujar Edgar.


''Hufftt Mas.. engap tau!!'' protes Mentari.


Edgar terkekeh pelan.


''Nak.. papa kalian mesum.'' adu Mentari sembari mengusap lembut perutnya.


Mendengar aduan itu membuat Edgar langsung berjongkok dengan mengusap lembut perut istrinya.


''Nak.. kalau Papa nggak mesum, kalian nggak akan hadir disini. Jadi, berbanggalah kalian ya..''


Hahaha pug!


Mentari langsung spontan tertawa dan menepuk pelan pundak Edgar.


''Tuh kan Nak.. mama kalian suka banget loh.'' sambung Edgar.


''Udah ah Mas, ayo ke bawah nanti keburu yang lain sudah siap buat sarapan.''


Edgar langsung berdiri dan memberikan kecupan manis sebelum keluar dari kamar.


Disaat yang sama, yang lain pun juga baru keluar dari kamarnya masing-masing.

__ADS_1


''Kompak banget kita.'' ujar mami.


Semua menyambut dengan tawa kecil di pagi hari. Dan aktivitas sarapan sebelum melakukan aktivitas berat lainnya pun dilakukan seperti biasa tanpa percakapan.


__ADS_2