Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 226 : Besok Ikut Kakak


__ADS_3

Beberapa kali Edgar selalu mengutuk keras dirinya sendiri di dalam diamnya. Ia terus berpikir untuk menurunkan sebuah ego yang besar. Bagaimana cara untuk mengucapkan kata maaf pada sang adik yang pasti menyimpan kesedihan akibat kerasnya dalam mengekspresikan rasa kasih sayang.


''Apa kamu ingin meminta maaf pada Erin, Mas?'' tebak Mentari ketika melihat Edgar duduk terdiam di sisi kolam setelah berenang. Tatapan mata suaminya itu tampak kosong.


''Eh, sayang, sejak kapan kamu disini?'' tanya Edgar yang terkejut dengan kehadiran Mentari.


''Baru saja, Mas.'' jawab Mentari.


''Emm ... sayang,'' panggil Edgar sedikit ragu.


''Kenapa, Mas?''


''Bagaimana caranya supaya aku bisa meminta maaf pada Erin?'' tanya Edgar.


Mentari mengulum senyumnya sembari mengusap rambut sang suami yang basah itu.


''Ajak Erin jalan, gih. Kalian berdua yang pergi.''


''Hah?!'' pekik Edgar.


''Nggak ada cara lain kah?'' tanya Edgar.


Mentari menatap langit sembari menggeleng.


''Kamu harus berterima kasih karena Erin tidak membencimu, Mas. Dia hanya menyimpan ketakutan, bukan kebencian. Dia menyadari bahwa sikapmu tidak lebih dari kasih sayang seorang kakak.''


''So.. tanpa kamu meminta maaf, Erin sudah berlapang dada memaafkan kamu.'' ucap Mentari lalu menatap Edgar kembali.


''Dan sekarang waktunya untuk kamu menyenangkan Erin dengan kalian berdua mengulang momen kebersamaan dulu. Apalagi sekarang kalian sudah sangat jarang kalian bertemu.''


''Aku yakin Erin pasti sangat bahagia, Mas.'' tutur Mentari dengan panjang lebar.


Gantian Edgar yang menatap langit. Ide dari Mentari terdengar masuk akal. Cara sederhana namun dengan momen bersama yang pastinya dirindukan oleh seorang saudara.


''Akan aku pikirkan, sayang. Tapi, kira-kira kapan ya waktu yang tepat?'' tanya Edgar.


Senyum Mentari langsung sumringah. Ia berharap Edgar bisa meluangkan waktunya untuk sang adik agar merasakan kasih sayang dari kakaknya.


''Hari Sabtu bisa juga, Mas. Senin 'kan ada acara, hari Minggu pasti kalian bakal lembur.'' jawab Mentari.


Edgar mengangguk dengan samar-samar.


''Terima kasih atas ide yang kamu berikan, sayang.'' ucap Edgar lalu memberikan ciiuman di bibir Mentari sekilas.


''Sama-sama.'' jawab Mentari.

__ADS_1


''Ya sudah kamu disini saja, temani aku berenang lagi.'' pinta Edgar yang mendapatkan anggukan kepala dari Mentari.


Edgar kembali menceburkan diri ke dalam kolam renang pribadinya itu. Ketika ia memunculkan kepalanya di permukaan dengan mengusap wajahnya yang basah, kesan sexy itu membuat Mentari menelan salivanya sendiri. Ia teringat akan masa awal-awal pernikahan. Momen dramatis itu tidak akan pernah bisa hilang dari ingatan Mentari.


Meskipun sekarang bukanlah hal yang asing, tetapi ia tetap tidak bisa memungkiri rasa gemetar di dalam hatinya.


''Sungguh sempurna sekali ciptaan-Mu.'' bathin Mentari.


Edgar kembali menepi, namun masih tetap berada di dalam air.


''Pasti ingat waktu kepleset itu ya?'' goda Edgar kemudian terkekeh kecil.


''Mana mungkin aku lupa sama kasus pemaksaan itu!'' sahut Mentari sembari melengos untuk menutupi rasa malunya.


Edgar melepaskan tawanya lagi sembari naik ke atas. Ia meraih handuk putih yang sebelumnya sudah ia siapkan.


Mentari pun ikut beranjak, ia duduk terlebih dahulu di bangku, lalu Edgar ikut duduk di sebelahnya.


.


.


Usai menikmati makan malam bersama dan ngobrol sekitar 60 menit, mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Namun, Edgar menyusul langkah sang adik, sementara Mentari yang sudah tau, ia memilih menunggu di kamar.


Dengan gerakan satu tangannya, Edgar berhasil menahan pintu kamar Erin agar tidak tertutup.


Ia celingukan ke kanan dan ke kiri. Ia penasaran sejak kapan kakaknya itu berada disana.


''Besok ikut Kakak.'' ujar Edgar pada Erin langsung.


''Hah? kemana?'' tanya Erin terkejut dengan ajakan kakaknya yang secara tiba-tiba itu.


Tidak ada hujan, tidak ada angin, ajakan itu membuat Erin bahagia sekaligus bingung.


''Ya, pokoknya ikut saja. Hadiah untuk wisuda kamu.'' jawab Edgar.


Erin pun langsung tersenyum lebar. Ia mengangguk dengan wajah sumringahnya.


''Okay, aku mau.'' ujar Erin dengan semangat.


Edgar tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Erin dengan kasih sayang.


''Jangan begadang, istirahat yang cukup.'' ujar Edgar lalu meninggalkan pintu kamar Erin tanpa menunggu jawaban dari sang adik.


Erin memegangi kepalanya yang masih terasa usapan lembut dari kakaknya itu.

__ADS_1


''Aku tau kakak sangat menyayangiku.'' gumam Erin lalu menutup pintu kamarnya dan tidak lupa untuk dikunci.


Gadis itu langsung mendudukkan dirinya di sofa sembari memeriksa ponsel. Sudah ada pesan masuk dari seseorang yang ia cintai sehingga senyum manis itu terbentuk di bibirnya secara otomatis.


Rutinitas yang mereka lakukan, melakukan komunikasi melalui sambungan telepon. Sekarang berada di waktu yang sama sehingga tidak harus menunggu waktu-waktu tertentu.


''Kak Edgar ajak aku jalan.'' ujar Erin pada Jimmy yang wajahnya memenuhi layar ponselnya itu.


''Oh, ya? dimana? jam berapa?'' tanya Jimmy.


''Emm, aku nggak tau juga, Kak.''


Dari layar ponsel Erin terlihat Jimmy mengernyitkan keningnya. Ia penasaran kemana Edgar akan membawa pergi Erin.


Sementara itu, di kamar Edgar dan Mentari. Mereka juga sedang mengobrol. Waktu yang selalu menjadi rutinitasnya sebelum terlelap. Karena dengan saling bertukar cerita bisa membuat pasangan lebih harmonis. Tidak ada kecurigaan yang timbul karena semua sudah diceritakan.


''Besok kamu ikut aja ya, sayang.'' pinta Edgar.


Mentari langsung menggeleng pelan.


''Aku nggak mau, Mas. Besok adalah waktunya kalian berdua, tolong jangan disia-siakan ya.''


Edgar mendekap erat tubuh sang istri. Ia nurut apa yang dikatakan oleh Mentari karena memang ide itu terdengar sangat baik.


''Aku akan menantikan Erin bercerita dengan semangat tentang perjalanan kalian besok.'' ujar Mentari.


''Semoga aku tidak gagal membuat adikku tersenyum lebar.'' balas Edgar.


''Aamiin.''


Waktu terus berlalu, Mentari semakin tidak bisa menahan rasa kantuknya. Ia tertidur pulas di dalam dekapan Edgar, tempat ternyamannya yang selalu memberikan cinta dan ketenangan.


Sedangkan Edgar masih tetap terjaga. Ia memindahkan kepala Mentari pada bantal, karena sejak tadi mereka sudah di atas ranjang sehingga tidak perlu repot-repot untuk membopong.


''Mentariku, tidak ada yang lebih ku syukuri dalam perjalanan hidupku selain kehadiranmu.'' gumam Edgar sembari mengusap hati-hati rambut Mentari.


''Aku sangat mencintaimu, sayang.''


''Jangan pernah bosan mendengar ucapan ini, karena aku akan terus mengulanginya lagi dan lagi.''


Mentari menggeliat tanpa membuka mata. Edgar langsung berhenti menggumam karena takut mengganggu waktu tidur sang istri yang pasti rasanya sudah macam-macam.


Malam ini tidak ada acara mandi keringat, apalagi melihat Mentari yang sudah sangat nyenyak, sehingga tidak mungkin akan dibangunkan.


''Malam ini libur panjang, Nak. Besok lagi ya kita gaspol, ehehehe.''

__ADS_1


Edgar mendaratkan kecupan manis di kening Mentari lalu menarik selimut itu hingga menutupi sampai dada sang istri. Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya dengan menghadap ke arah Mentari sembari memperhatikan setiap inchi wajah Mentari.


''Good night, sayang.'' ucap Edgar kembali mendaratkan ciiuman di kening Mentari, namun, kali ini lebih lama.


__ADS_2