Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 144 : Jangan Galak-galak Lagi


__ADS_3

Erin tidak mendengarkan alarm yang sudah ia aktifkan. Justru suara dering telepon yang membangunkannya.


Muka kusutnya panik ketika nyawanya belum kumpul dan menjawab panggilan telepon masuk.


''Siapa nih?'' tanya Erin dengan menempelkan ponsel di telinganya dan mata masih terpejam.


''Bangun sayang, katanya mau kasih kejutan?''


''Ha?!''


Erin langsung membuka matanya dan melihat siapa yang menelepon.


''Maaf Kak, maaf. Makasih udah dibangunkan.''


Erin langsung duduk tegap lalu merenggangkan otot-ototnya.


''Yaudah aku keluar dulu.''


''Iya, semoga sukses kasih kejutannya.''


''Aamiin.'' jawab Erin.


''Eh Kak, Kakak nggak tidur?''


''Tidur kok, pasang alarm.''


Erin langsung terkekeh.


''Makasih ya Kak. Dilanjutkan tidurnya, jangan begadang.'' ujar Erin.


°°


Tepat pukul 00.00


Mentari langsung membangunkan Edgar dengan hati-hati.


''Mas.. Mas.. bangun..''

__ADS_1


Mentari menggerakkan bahu Edgar dengan pelan. Sementara yang menunggu masih menantikan Edgar membuka mata.


Hmmmmmm


Tanpa membuka mata, Edgar malah meraih Mentari ke dalam pelukannya.


''Eh Mas.''


Mentari terkejut bukan karena pelukan Edgar, tetapi karena ada mertua dan juga adik ipar disana sehingga membuatnya tersenyum malu menatap kedua mertuanya. Apalagi bukan hanya pelukan, tetapi Edgar juga menciiumi sang istri dalam kondisi mata masih terpejam.


Mertuanya justru malah cekikikan melihat sikap putranya yang seperti itu.


''Masss, banguunn..'' Mentari mulai menaikkan volume suaranya dan berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya.


''Oh my God.. mataku ternodai.'' gumam Erin langsung mengalihkan pandangannya.


Perlahan Edgar membuka mata karena mendengar suara-suara selain Mentari secara samar-samar. Biasanya lampu dipadamkan, sekarang juga menyala. Dan setelah membuka mata, ia melihat di depannya bukan hanya sang istri. Ia pun langsung duduk dan mengusap wajahnya yang terkejut. Meskipun bangun tidur wajahnya tetap saja terlihat tampan


''Happy birthday..'' ucap Mentari.


"Terimakasih sayang, i love you." ucap Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari.


Mentari mengangguk dan ikut menyanyikan lagu happy birthday.


''HAPPY BIRTHDAY to you.. happy birthday to you.. happy birthday, happy birthday, happy birthday to.. youuu..''


Seru semuanya dengan menyanyikan lagu khas ulangtahun setelah memastikan nyawa Edgar terkumpul.


Edgar ikut bertepuk tangan pelan sembari turun dari ranjang. Lalu berdiri di depan mami yang memegang kue tart.


''Wah wahhh.. bener-bener niat banget haha''


''Make a wish doong..!'' seru Erin.


Edgar langsung menggenggam tangan Mentari dengan erat dan memberikan tatapan yang hangat.


''Harapannya yang pasti selalu sehat, kalian semua sehat, diberikan umur yang lebih panjang lagi. Dan mengisi hari-hari dengan segala kebaikan, penuh kasih sayang. Tentunya, harapan terbesar adalah istriku selalu mencintaiku, menerima kekurangan dan kelebihan suaminya yang seperti ini. Dan.. paling penting selalu menjaga kesehatannya sendiri. Sama-sama menjaga calon buah hati kita ya sayang..''

__ADS_1


''AAMIIN..'' balas semuanya serempak.


Edgar langsung memeluk Mentari dan mendaratkan ciumannya di bibir sang istri.


''Terimakasih sayang.'' ucapnya yang di balas anggukan kepala oleh Mentari.


"Sama-sama Mas." jawab Mentari.


Edgar lalu beralih ke kedua orangtuanya untuk memeluk dan mengucapkan terimakasih. Sedangkan kuenya di minta oleh Mentari lalu di bawa ke meja.


''Mi, Pi.. rasanya dengan cara apapun aku nggak akan bisa membalas apa yang sudah kalian kasih. Terimakasih, terimakasih.. bahkan di usia yang sudah nggak muda lagi, dengan pelajaran hidup yang sudah banyak, tetap saja ketika tertimpa masalah, kalianlah yang lebih banyak bergerak untuk aku.''


Tengah malam suasananya pun berubah menjadi haru. Yang tadinya mengantuk pun langsung hilang, terutama Erin. Ia langsung meletakkan kameranya di tempat pajangan yang mengarah ke mereka karena tangannya sudah gemetar menahan tangis haru.


''Selamat ulang tahun putraku. Harapannya sudah kamu sebutkan sendiri, tugas Papi hanya mengawal dari belakang dan mengawasi jika ada kekurangan.'' ucap papi lalu memberikan senyuman.


Mami yang sedari tadi menahan airmata di pelupuk mata, kini tumpah ketika hendak mengungkapkan perasaannya.


''Kamu dan adikmu, Erin, kalian dilahirkan untuk bahagia dan membuat orang-orang disekitar kalian bahagia. Jangan pernah menyakiti siapapun ya Nak.. seberapa pun usiamu, kamu tetaplah anak Mami. Putra kecil Mami yang sedang berjalan menuju ke level yang lebih tinggi.''


''Terimakasih Pi, Mi..'' ucap Edgar.


Edgar menarik nafasnya dalam-dalam, ia mensyukuri kehidupannya yang sudah berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.


''Happy birthday, Kak. Jangan galak-galak lagi.'' ucap Erin langsung pada poin utama sehingga membuat yang ulang tahun terkekeh.


''Malah curhat.'' protes Edgar.


''Itu do'a dan harapan dari adikmu yang cantik ini.'' balas Erin.


''Ooo gitu?? ya deh thanks ya adik. Semoga harapan dan do'anya terkabul.''


''Aamiin..'' jawab Erin.


Edgar mengusap rambut adiknya lalu meraih air minum yang ada di atas nakas karena tenggorokannya terasa sangat kering.


''Ya sudah ayo potong kuenya.'' titah Edgar.

__ADS_1


__ADS_2