
Selesai menghubungi kekasihnya, Jimmy langsung ke ruangan dokter. Ia bernafas lega karena Erin mengerti. Meskipun ia sadar telah membuat gadis itu bersedih karena menunggu kabar darinya.
''Maaf, Dok, apakah dia memang benar dari rumah sakit ini?'' tanya Jimmy.
''Saya baru bertemu dengannya, Tuan. Kalaupun dia dari sini, mungkin keperluan dengan dokter lain.'' jawab dokter tersebut.
''Oh, begitu ya ... terima kasih, Dok.'' ucap Jimmy.
''Hmm.''
''Ada apa, Tuan? anda terlihat sangat khawatir dengan perempuan itu? apa dia kekasihmu?'' tanya dokter.
''Apa?!'' pekik Jimmy.
''Ehm, sorry, Dok ... tapi, dia bukan kekasih saya. Saya sudah memiliki calon istri.''
Dokter itu pun mengangguk dengan senyum tertahan.
''Ini resep obatnya, Tuan.''
''Dan ini surat keterangan izinnya.''
Dokter tersebut memberikan resep obat-obat pada Jimmy dan juga surat keterangan izin sakit dari dokter, sesuai dengan permintaan Jimmy. Dokter tersebut lalu menjelaskan satu persatu tentang obat-obatan itu agar nanti disampaikan pada Rita.
''Terima kasih, Dok.'' ucap Jimmy.
Jimmy langsung keluar dari ruangan dokter tersebut. Ia menuju apotek rumah sakit terlebih dulu sebelum kembali ke ruangan dimana Rita berada.
''Nggak tuan Edgar, nggak dokter itu, kenapa salah ngira terus!'' bathin Jimmy.
Setelah mendapatkan obat-obatnya, Jimmy langsung kembali.
Jimmy membuka pintu ruangan, terlihat Rita sudah tidak duduk di ranjang. Gadis itu terlihat terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka. Dengan cepat ia memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.
Melihat sosok Jimmy yang masuk, Rita tersenyum singkat.
Dahi Jimmy berkerut saat melihat Rita seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
''Apa yang kamu baca?'' tanya Jimmy.
''Itu, e ... tagihan listrik.'' jawab Rita beralasan.
''Ohh.''
__ADS_1
''Ini obat-obat kamu, ikuti semua petunjuknya dengan baik.''
Rita menerimanya dan langsung memasukkan ke dalam tas.
''Terima kasih, Tuan.''
''Hmm.''
''Jadi, sekarang boleh pulang, kan?'' tanya Rita.
''Iya, ayo.''
Jimmy yang sedari tadi berdiri tinggal berbalik.
Rita berjalan dengan pelan karena belum bisa berjalan dengan baik.
''Tolong antarkan dia ke depan pakai kursi roda.'' ujar Jimmy pada salah satu perawat.
''Baik, Tuan.''
Dengan langkah cepat, perawat itu segera mengambil kursi roda, sedangkan Rita menunggu.
''Silahkan.'' titah perawat tersebut pada Rita.
Di perjalanan, lagi-lagi keduanya sama-sama saling diam. Rita menatap jalanan lewat samping. Sesekali ia menyeka airmatanya agar tidak jatuh.
''Apa itu sangat sakit?'' tanya Jimmy yang melihat Rita menyeka airmatanya.
''Tidak, Tuan.'' jawab Rita.
''Buatlah izin untuk tidak masuk kerja sampai kamu benar-benar membaik. Di dalam plastik obat ada surat izin dari dokter.'' ujar Jimmy.
''Terima kasih, saya usahakan untuk tetap bekerja.''
''Terserah kamu saja.'' balas Jimmy.
Jimmy mengantarkan Rita sampai di depan tempat tinggal gadis itu.
''Sekali lagi terima kasih banyak, Tuan.'' ucap Rita sebelum keluar dari mobil Jimmy.
''Iya.'' jawab Jimmy.
Rita langsung keluar dari mobil Jimmy. Ia tidak menoleh lagi dan langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
''Seperti tidak ada aktivitas di rumah ini.'' gumam Jimmy melihat rumah Rita.
Jimmy langsung meninggalkan tempat itu setelah memastikan Rita masuk ke dalam rumah.
''Kenapa nasibku harus sesial ini? kenapaa??!!'' seru Rita. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah.
Rita menangis sangat kencang di dalam kamarnya. Dan berharap akan lebih lega setelah menumpahkan airmatanya ini.
--
Jimmy langsung membersihkan badannya begitu tiba di apartemen. Setelah selesai, ia membuat makan siangnya yang kesorean.
Di meja makan sudah tersaji makanan untuk dirinya sendiri. Ia melakukan panggilan video pada kekasihnya.
Tak lama kemudian, wajah kekasihnya muncul di layar ponselnya. Jimmy menikmati makannya sembari tertawa kecil karena mendengar celotehan Erin yang tidak ada habisnya itu.
''Sudah selesai makannya, Kak?'' tanya Erin.
''Sudah.'' jawab Jimmy sembari mengusap bibirnya dengan tisu.
Erin meneguk air liurnya sendiri melihat itu.
''Seksi sekali.'' bathin Erin.
''Maaf untuk hari ini ya, sayang.'' ucap Jimmy setelah membuang tisu bekas pakainya.
''Oh, iya-iya nggak papa, Kak. Lagian Kakak sedang berbuat kebaikan.'' ujar Erin yang kembali tersadar.
''Apa karyawan itu aku mengenalnya? pria atau wanita?'' tanya Erin.
Nah itu dia, Jimmy mulai was-was dengan pertanyaan ini. Meskipun dia memang akan menceritakan, tetapi malah keduluan Erin yang bertanya.
''Itu yang mau Kakak ceritakan ke kamu, sayang.''
Jimmy pun langsung menceritakan dari awal yang secara tidak sengaja melihat kejadian itu di jalan.
''Rita teman baiknya kak Mentari yang waktu itu?'' tanya Erin memotong.
Jimmy mengangguk. ''Iya.''
''Tapi, Kakak mohon kamu tidak berpikiran macam-macam ya. Kakak benar-benar hanya membantunya.'' jelas Jimmy.
Jimmy sudah memahami tatapan Erin yang terlihat cemburu.
__ADS_1
''Iya Kak, aku akan berusaha mengerti.'' ujar Erin.