
''Erin, Erin, Eriiinn!!!''
''Jimmy!! arrgh!''
Edgar duduk di dalam mobil dengan tidak tenang. Ia selalu gusar menghadap ke kanan dan kiri sembari memikirkan dua nama itu. Kemana saja ia selama ini, sehingga tidak sadar telah terjadi kisah cinta diantara dua orang terdekatnya.
Supir yang membawa Edgar melirik dari kaca.
''Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?'' tanya supir yang tampak khawatir melihat bosnya yang tidak bisa tenang itu.
''Hah? tidak, Pak. Percepat saja lajunya.'' suruh Edgar.
Supir langsung mengangguk.
''Baik Tuan.'' jawabnya nurut dan langsung menambah kecepatan.
Edgar mencoba duduk dengan tenang. Ia membuka ponselnya lalu membuka file penyimpanan foto-foto saat momen kebersamaan mereka.
Momen-momen terakhir adalah saat makan malam di restoran Dini dan juga saat wisuda Erin. Edgar semakin tak habis pikir, kenapa ia tidak menyadarinya.
''Awas kamu, Jim! kalau sampai macam-macam sama adikku!!'' eram Edgar.
Ciiitt
Supir langsung menepikan mobil tanpa izin dari Edgar, ia khawatir dengan keadaan bosnya yang sedang semakin aneh itu.
''Tuan, sepertinya anda sedang tidak baik-baik saja?'' tanyanya khawatir.
''Sudah cepat lanjutkan saja, Pak!''
"Saya mau cepat sampai rumah."
''Ba-baik Tuan.'' jawab supir sedikit gugup karena melihat raut wajah Edgar yang semakin serius.
Erin masih tidur di kamar ternyamannya. Ia belum mengetahui huru hara yang telah terjadi di antara kakak dan juga kekasihnya di Indonesia. Ia sangat nyenyak tidur dengan memeluk boneka berukuran besar yang dibelikan oleh Jimmy waktu itu.
Ponselnya dalam mode aktif, ia melupakan untuk mengalihkan ke mode pesawat. Tetapi, suaranya ia senyap sehingga tidak bisa mendengar jika ada yang menghubunginya. Pesan yang dikirimkan oleh Jimmy pun sudah masuk. Namun, pemiliknya masih menikmati keindahan di dalam mimpi.
Petugas keamanan di rumah Raymond tampak bertanya-tanya saat melihat Edgar sudah pulang dengan cepat. Pandangannya tak teralihkan ketika langkah kaki pria itu lebih cepat masuk ke dalam rumah. Bahkan pria itu menutup pintu mobil dengan keras dan tidak menunggu pak supir membukakan.
__ADS_1
Petugas keamanan masih memegangi pintu gerbang sembari menggaruk-garuk kepalanya.
''Apa telah terjadi sesuatu di dalam rumah?'' bathin petugas keamanan itu sembari menutup gerbang.
''Ntahlah, bukan urusanku.''
Seisi rumah pun juga terkejut melihat Edgar tiba-tiba sudah berada di rumah.
''Mana istriku?!'' tanya Edgar pada pak Dar yang kebetulan berpapasan di ruang tengah.
''Tadi masih di belakang, Tuan. Lagi lihat-lihat tanaman.'' jawab pak Dar.
''Biar saya panggilkan, Tuan.'' sambungnya cepat.
''Tidak usah!'' tolak Edgar lalu mencari keberadaan sang istri yang katanya ada di belakang.
Para asisten rumah tangga yang sedang beraktivitas di dapur juga terkejut. Mereka pun saling melempar tatapan, dan semuanya kompak menaikkan kedua bahu karena sama-sama tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Langkah kaki dan sorot mata Edgar itu membuat mereka takut. Mereka juga khawatir kalau bosnya itu sedang ada masalah rumah tangga.
''Aku mau bicara!''
''Aa!!'' seru Mentari yang langsung berbalik badan karena ada suara tanpa permisi yang mengagetkannya.
''Aku mau bicara di kamar, jangan disini!'' balas Edgar tanpa merespon pertanyaan itu.
''Iya-iya sebentar.'' jawab Mentari.
Mentari langsung bergegas mencuci tangannya. Sedangkan Edgar sudah berjalan lebih dulu tanpa menunggu sang istri.
Segala dugaan negatif semakin kuat muncul di benak para pekerja yang melihat.
''Tadi pagi masih baik-baik saja 'kan?''
''Ho'oh''
''Ini juga belum siang.'' sahut lainnya dengan suara pelan.
''Aku takut mereka bermasalah.''
__ADS_1
''Ho'oh''
''Tapi, nona Mentari kelihatan biasa saja, sedangkan tuan Edgar malah kayak lagi marah.''
''Ho'oh''
''Jangan-jangaaaan ... nona Mentari diam-diam berselingkuh di belakang tuan Edgar?!''
"OHHH, TIDAAAAKK."
''Hmm....''
''Ho'ah ho'oh ho'ah ho'oh terus kamu ini, Lis!'' protes ART yang sedari tadi mengeluarkan dugaannya.
''Hehe, ya aku mau jawab apa Mbak? aku masih anak kemarin sore hihi.''
Dan mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Mereka juga aman dari teguran pak Dar. Biasanya baru satu kalimat sudah ada deheman keras yang menandakan rumpian tidak bisa dilanjutkan.
Edgar langsung menutup pintu kamar dengan keras. Mentari langsung mengernyitkan keningnya melihat hal yang tidak ia mengerti itu.
''Kamu kenapa sih, Mas?''
''Ada masalah apa?'' tanya Mentari bingung.
Keduanya berdiri saling menatap.
''Sejak kapan kamu tau tentang mereka, hm?''
''Kamu lagi ngomongin apa dan siapa, Mas?''
''Aku nggak ngerti.'' balas Mentari.
Edgar langsung mendongak lalu menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
''Jimmy dan Erin!''
Deg!
Mentari langsung shock, kedua matanya terbelalak. Ia langsung diam seribu bahasa. Ia langsung kepikiran adik iparnya itu jika mendapatkan amarah dari kakaknya.
__ADS_1
Mentari menatap Edgar dengan tatapan yang gugup, sedangkan Edgar menatapnya dengan tatapan yang tajam.
''Mas ..,''