
Rencana awalnya, sepulang dari ziarah kubur, Edgar ingin langsung mengajak Mentari mengunjungi bu Maryam. Tetapi setelah melihat dirinya sendiri dan sang istri seperti menyedihkan, akhirnya rencana itu ia tunda. Ia tidak ingin bu Maryam berpikir negatif terhadap mereka, dan tidak mempercayai jika alasannya adalah dari ziarah kubur.
Setelah sedikit tenang, Edgar dan Mentari memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen. Sebelumnya mereka membeli makanan dengan Drive thru untuk mengisi perutnya yang sudah waktunya diisi. Karena jika ingin makan langsung di restoran, Mentari tidak mau, ia tidak mungkin percaya diri dengan kedua matanya yang sembab.
Edgar menutup pintunya kembali dan menguncinya.
''Udah Mas jangan senyum-senyum gitu.. iya aku tau makin jelek, bedaknya udah luntur.'' ujar Mentari berusaha menutupi wajahnya dan berjalan lebih cepat.
''Siapa bilang makin jelek? justru makin cantik tuh..''
Edgar dengan cepat berada disamping Mentari dan langsung mencium pipi sang istri, lalu menggigit gemas.
''Masss!''
Edgar hanya tertawa kecil mengikuti langkah Mentari menuju dapur.
Mentari menuangkan air mineral ke dalam gelas lalu meneguknya hingga tak tersisa. Ternyata tenaga yang ia keluarkan untuk menangis cukup banyak juga.
Setelah selesai minum, Mentari hendak mengambil satu gelas lagi, tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Edgar.
''Satu gelas bersama.'' tolak Edgar tidak ingin memakai gelas yang berbeda.
''Nggak papa?'' tanya Mentari memastikan.
''Nope, sayang.''
Edgar mengambil gelas yang sebelumnya sudah dipakai oleh Mentari, ia menuangkan sendiri air mineral ke dalam gelas tersebut.
''Ahhhhh segarnya tenggorokan ini..'' ucap Edgar sembari mengusap tenggorokannya sendiri.
''Oh ya sayang, nanti malam kita makan diluar ya, sekarang kamu istirahat, i love you..'' ucap Edgar lalu memberikan kecupan di kening Mentari.
Mentari mengangguk nurut
''Iya Mas.''
Masih memiliki banyak waktu menunggu nanti malam. Malam yang dimana hampir seluruh umat manusia keluar dari rumah sekedar mencari angin segar setelah penatnya melakukan aktivitas selama seminggu.
__ADS_1
Waktu istirahat pun tetap Edgar gunakan untuk memeriksa pekerjaan melalui laptopnya. Ia duduk di kursi kerjanya dengan menghadap meja.
''Mas..'' panggil Mentari.
Suara yang memanggilnya membuat Edgar langsung menoleh ke sumber suara. Ia kemudian memutar kursinya dan sedikit menggerakkan maju untuk mendekat ke Mentari.
''Aku buatkan minum, tarok disitu ya..'' ujar Mentari menunjuk ke meja.
Edgar mengangguk.
''Iya sayang, terimakasih ya.''
Mentari meletakkan gelas yang berisi air panas itu diatas meja.
''Semangat..'' ucap Mentari lirih dengan senyuman yang berusaha ia tahan.
''Sini dong..'' Edgar membuka kedua tangannya.
Mentari maju selangkah lagi dengan kedua tangannya yang menggenggam di depan.
''Ma-mau ngapain?''
''Kamu kan lagi kerja, Mas..'' tolak Mentari.
''Mau ku gendong atau duduk sendiri?'' ujar Edgar tidak menerima penolakan.
Edgar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan yang akan diambil oleh Mentari.
Mentari akhirnya maju selangkah lagi membuat Edgar langsung menarik pinggang Mentari yang sudah dekat.
''Nggak susah kan?'' tanya Edgar setelah Mentari sudah berada dipangkuannya.
''Aku malu, Mas..'' jawab Mentari berusaha menghindari tatapan mata Edgar.
Edgar menghembuskan nafasnya, meraih dagu sang istri agar menghadapnya.
''Aku merindukanmu.'' ucap Edgar pelan, jari-jarinya sudah mulai bergerak menelusuri wajah Mentari. Tatapan matanya pun tak lepas dari bibir Mentari yang ranum.
__ADS_1
Mentari memejamkan kedua matanya, seolah memberikan tanda kesiapannya atas apa yang akan dilakukan oleh Edgar. Edgar tersenyum melihat kedua mata Mentari terpejam, ia langsung menyatukan bibirnya dan memainkannya dengan lembut.
°°
''Ayo Mas, aku sudah siap..'' ucap Mentari ketika keluar dari kamar setelah bersiap-siap, dan Edgar menunggunya di ruang tamu.
''Let's go..''
''Ah... sayang.'' Edgar berkata dengan suara yang tambah lirih.
Sebelumnya Edgar menjawab tanpa melihat sang istri, namun, saat ia menatap Mentari, ia langsung terkejut, diperhatikannya Mentari dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa berkedip.
''Nggak pantes ya Mas? aku ganti aja deh..'' ujar Mentari karena mendapatkan tatapan yang tidak biasa. Mentari sudah siap akan kembali masuk ke dalam kamar, tetapi langsung dicegah oleh Edgar.
''Bukan begitu, sayang.. jangan ganti.'' cegah Edgar dan langsung mendekati.
''You're so beautiful, my wife..'' puji Edgar lalu memberikan kecupan di bibir Mentari sekilas.
Mentari langsung mengulum senyumnya.
''Terimakasih, suamiku.''
Setelah siap, keduanya langsung meninggalkan apartemen menuju restoran yang tentunya sudah dipesan oleh Edgar.
Sesampainya di tempat tujuan, seseorang memberikan pelayanan terbaik kepada Edgar dan Mentari. Seorang pria itu langsung menunjukkan tempat yang sudah dipersiapkan.
''Silahkan Tuan dan Nona..'' ucapnya.
Edgar mengangguk lalu memberikan ucapan terimakasih.
Edgar kemudian menarikkan kursi untuk sang istri, lalu ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Mentari.
''Kok nggak ada orang lain Mas? bukankah ini restoran yang selalu ramai?'' tanya Mentari sedikit berbisik.
''Aku tidak ingin kecantikanmu dilihat orang lain, dan aku ingin kita benar-benar menikmati malam ini.'' balas Edgar.
Belum sempat Mentari menjawab, datang beberapa pelayan yang membawakan menu-menu terbaik yang ada di restoran ini. Sehingga memaksa Mentari untuk mengurungkan perkataannya dan menyambut baik kedatangan pelayanan tersebut.
__ADS_1
Fokusnya pun kini beralih pada malam ini yang suasananya sangat romantis. Tak ada pengunjung lain yang membuat keduanya tidak nyaman.