
Rumah tahanan
Ardi tengah duduk di sudut ruangan yang sempit itu. Ntah apa yang sedang ia pikirkan. Tiba-tiba ia menjadi pria yang mudah menangis setelah beberapa saat resmi menjadi tahanan.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama para tahanan lainnya cukup menghibur dan melupakan sejenak tentang kesalahan yang sudah ia perbuat. Namun, ketika kembali ke dalam jeruji besi, bayang-bayang itu kembali memenuhi ruang pikirannya. Apalagi di saat menjelang tidur, ketika tahanan lain sudah tidur dengan nyenyak. Suara dengkuran yang saling bersahutan, hanya Ardi yang masih terjaga seorang diri.
"Cinta itu suci, cinta itu hanya memiliki dua pilihan, memiliki atau merelakan. Sedangkan seseorang yang ku cintai sudah ada yang memiliki, seharusnya aku sadar untuk merelakan, bukan memperjuangkan dengan cara yang salah.'' bathin Ardi.
"Bod*h! kamu sangat bod*h, Ar!" rutuk Ardi dalam hatinya.
Setelah menunduk, Ardi mendongak dengan menyandarkan kepalanya pada dinding. Ia memejamkan kedua matanya dengan tarikan nafas yang panjang. Lagi-lagi bayangan ibunya hadir.
''Maafkan aku, Mah.'' lirih Ardi.
Edgar, Jimmy, dan kuasa hukum sedang berbincang serius dengan anggota polisi.
''Saya menjamin atas pencabutan laporan saya untuk saudara Ardi." tegas Edgar pada pihak kepolisian setelah mengajukan beberapa pertanyaan.
''Seperti laporan yang kami berikan pada anda, Tuan ... menurut pengawasan kami, saudara Ardi sudah melakukan banyak perubahan, tentunya berubah menjadi lebih baik.''
Pihak kepolisian memberikan bukti pada Edgar, Jimmy, dan juga kuasa hukumnya berupa video yang terekam dalam kamera pengintai.
Setelah menonton tayangan kamera pengintai itu, Edgar semakin mantap dengan keputusan yang di ambil ini.
__ADS_1
''Baik, Pak ... terima kasih atas pembinaan yang sudah diberikan pada para tahanan. Saya selalu tim kuasa hukum Raymond sudah mantap dan yakin untuk mencabut laporan tersebut.''
''Baik, Pak ... Tuan ... Tuan ...'' balas anggota kepolisian itu menatap ketiga pria di depannya secara bergantian.
Segala keperluan administrasi pun sudah selesai. Tanda tangan yang di minta pun sudah beres juga.
''Silahkan tunggu di sini, Tuan ... nanti saya panggilkan.''
Edgar, Jimmy, dan pengacara mengangguk.
Anggota polisi itu sudah meninggalkan ruangan khusus untuk membesuk anggota tahanan.
''Saudara Ardi!'' seru polisi itu.
Ardi yang masih duduk di sudut dengan memeluk kakinya itu pun langsung bergegas menuju pintu ruang tahahan.
''Ada yang hendak bertemu sama kamu.'' balas polisi itu lagi sembari membuka pintu besi.
Ardi langsung mengernyitkan dahinya dan bertanya-tanya. Kenapa polisi itu tidak langsung menyebutkan namanya saja. Siapa yang hendak bertemu dengannya.
''Mari, silahkan.'' ujar polisi itu.
Ardi mengangguk.
__ADS_1
Dengan langkah yang berada di belakang, Ardi mengikuti arah kaki polisi yang berada di depannya itu.
''Edgar.'' gumam Ardi.
Bukan hal yang mengejutkan soal kedatangan sepupunya itu. Edgar dan Jimmy mengunjungi Ardi satu minggu dua kali. Tapi, yang membuat Ardi bertanya-tanya kenapa polisi tadi tidak langsung menyebutkan nama Edgar ataupun Jimmy.
''Apa kabar, Ar?'' tanya Edgar.
''A-aku, selalu baik.'' jawab Ardi.
Edgar tersenyum tipis sembari menepuk pundak sepupunya itu.
''Saudara Ardi, mulai hari ini anda sudah resmi bebas dari masa tahanan.'' ujar polisi itu.
''HAH? APA?!'' Ardi menatap semua orang yang ada di sana secara bergantian untuk mencari jawaban apakah semua itu benar adanya.
...****************...
Sembari nunggu update part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi cerita yang pastinya seru banget.
Kali ini cerita dari author BIGGEST, yang berjudul "SUAMI KEDUA (TRADISI KELUARGA SUAMIKU)"
Jangan lupa untuk mampir dan langsung masukkan ke dalam rak favorit kalian ya 😍
__ADS_1
Terima kasih 🙏