
Setibanya di dalam kamar, Edgar dan Mentari sama-sama saling diam tanpa bicara. Bahkan Edgar juga langsung melepaskan genggaman tangannya setelah memastikan tidak dalam jangkauan pandangan mata kedua orangtuanya.
Mentari membereskan pakaian Edgar yang sudah selesai dilepaskan, tersisa kemeja dan celana yang masih melekat ditubuh pria itu. Meskipun tertutup oleh kemeja panjang, otot-otot yang terbentuk karena rajin olahraga itu masih bisa terlihat dengan jelas.
''Maaf untuk ucapan mereka.'' ucap Edgar memulai percakapan.
''Maaf?'' balas Mentari.
Dengan sembari melepaskan kancing di lengan kemeja ya ia kenakan, Edgar mendekati Mentari.
''Ya, kau pasti tidak nyaman dengan candaan yang dilontarkan oleh mami.''
Mentari tersenyum tipis berharap ia akan nampak baik-baik saja.
''Tidak apa-apa, Tuan.'' jawab Mentari.
''Nanti malam ikut aku..'' ajak Edgar.
''Kemana?'' tanya Mentari.
''Ke suatu tempat.'' jawab Edgar dengan diikuti senyumnya tanpa memberi tau kemana tujuannya.
Setelah menjawab pertanyaan dari Mentari, Edgar langsung membersihkan diri di dalam kamar mandi, meninggalkan Mentari yang terdiam dengan rasa penasaran.
''Kira-kira tuan Edgar mau ajak aku kemana?'' gumam Mentari.
''Ah jangan-jangan mau pergi ke acara lagi? tapi, kelihatannya nggak buru-buru. Ntahlah..''
Sementara itu, di ruangan lantai dasar, mami dan tuan Erick sedang membahas putri bungsunya yang sudah mendapat izin untuk kembali ke tanah air.
__ADS_1
''Jangan biarkan Erin pulang sendiri, Pi..'' ujar mami.
''Tentu saja tidak, sayangku..'' balas tuan Erick dengan mesra.
°°
''Kalian mau kemana?''
Saat Edgar dan Mentari menuruni anak tangga, kebetulan mami juga sedang lewat.
''Kebetulan ketemu Mami disini, aku mau ajak istriku jalan-jalan, Mi..'' jawab Edgar kemudian menoleh ke arah Mentari dan memberikan senyuman.
''Ooohhhhhh.. ya sudah sana buruan jalan keburu malam. Sampai besok pagi juga nggak papa, asal ada oleh-oleh spesial.'' goda mami membuat Mentari gugup.
''Kami jalan dulu Mi, bilang sama papi..'' Edgar mengalihkan godaan yang dilontarkan mami, karena ia sendiri juga menjadi gugup.
''Dasar kamu ini.. ya sudah hati-hati ya sayang..''
''Saya bisa buka pintu sendiri Tuan..'' tolak Mentari saat Edgar membukakan pintu untuknya.
''Mami ngintip, nggak usah dicari orangnya dimana, nanti ketahuan kalau kita tau, buruan masuk.'' bisik Edgar.
Mentari menurut, ia langsung masuk tanpa menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan mertuanya.
''Saya tidak melihat mami, Tuan..'' ujar Mentari setelah Edgar duduk di kursi kemudi.
''Tuuh..'' tunjuk Edgar pada suatu tempat.
Karena sudah berada didalam mobil, Edgar tidak menolak untuk menunjukkan karena tidak terlihat dari luar.
__ADS_1
Mentari mengikuti arah jari telunjuk Edgar, dilihatnya mami mertua sedang senyum-senyum sendiri dari balik jendela dan bersembunyi dengan kain gorden.
''Ya ampun mami lucu sekali..'' gumam Mentari seraya tersenyum.
Sepertinya mami harus memastikan anak-anaknya ini benar-benar menjalani pernikahan yang baik.
''Aaaa!!! Tu-Tuan mau ngapain?!'' pekik Mentari.
''Mau masang safety belt.'' jawab Edgar santai setelah berhasil membuat Mentari terkejut karena badannya yang mencondong.
''O, ohh saya bisa sendiri, Tuan. Terimakasih..'' ucap Mentari masih gugup.
Edgar sedikit tersenyum, ia memasang sabuk pengamannya sendiri lalu menjalankan kemudinya meninggalkan rumah mewah tersebut.
Suasana kembali canggung, baik Edgar maupun Mentari sama-sama diam. Edgar fokus dengan kemudinya, sedangkan Mentari fokus menatap lalu lalang kendaraan melalui jendela sampingnya.
Mengisi rasa sepi, Edgar memutar musik untuk menemani perjalanan mereka.
Sudah tiga puluh menit mobil mewah itu melaju, tetapi belum juga berhenti disuatu tempat. Rasa penasaran menyelimuti pikiran Mentari.
''Maaf Tuan, sebenarnya kita mau kemana?'' tanya Mentari memberanikan diri.
''Ke suatu tempat yang tidak berisik, besok tanggal merah jadi kita menginap disana.'' jawab Edgar.
''Kok Tuan nggak bilang-bilang dulu?'' protes Mentari.
''Kenapa?'' balas Edgar.
''Nanti gimana kalau mami sama papi khawatir karena anaknya nggak pulang?''
__ADS_1
Edgar langsung tertawa mendengar kepanikan Mentari tentang respon kedua orangtuanya.