Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 38 : Kita Bukan Pasangan Abege


__ADS_3

Mentari tertawa canggung mendengar apa yang dikatakan oleh mami mertua. Ia menoleh ke arah Edgar yang juga tengah menatapnya seraya menyangga kepala dengan jari-jari kanan. Kemudian keduanya sama-sama saling diam karena canggung.


''Sepertinya lebih baik aku ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan kita..'' ujar Edgar lirih, ia menatap Mentari seraya meminta pendapat.


Mentari menyipitkan matanya seakan bertanya tentang apa yang diucapkan oleh Edgar apakah suatu hal yang sudah yakin.


Seakan paham dengan isyarat yang ditunjukkan oleh Mentari, Edgar kemudian mengangguk pelan meyakinkan Mentari.


''Ya, begitu lebih baik.. kami benar-benar sangat penasaran, iya kan Pi?'' ujar mami yang mendapat persetujuan dari tuan Erick.


Mentari hanya bisa terdiam dengan menatap Edgar, jantungnya berdebar kencang saat melihat Edgar menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.


Edgar menceritakan kepada kedua orangtuanya mengenai pertemuannya dengan Mentari. Berawal dari insiden tidak sengaja di lampu merah membuat motor yang ditunggangi oleh Mentari tidak sengaja menabrak mobil Edgar.


Hingga puncak ceritanya saat Edgar mendengar kabar Mentari tengah sakit dan memilih izin. Dengan rasanya yang tidak tenang karena bayang-bayang wajah Mentari terus memenuhi pikirannya. Akhirnya ia nekat malam-malam mendatangi kediaman Mentari yang berada di gang sempit itu.


Namun, hal yang tidak ia duga, Mentari yang berada dirumah sendiri justru didatangi oleh orang yang berniat tidak baik. Kedatangan Edgar terasa tepat waktu. Namun, saat semuanya telah selesai, justru ada seseorang yang menganggap Mentari memasukkan pria pada malam hari.


Dengan percaya diri, Edgar mengatakan bahwa ia calon suaminya yang memiliki rasa khawatir. Dan keputusan yang diluar dugaan Mentari adalah saat Edgar meminta untuk dinikahkan pada malam itu juga.


Mami dan tuan Erick langsung tercengang mendengar apa yang diceritakan oleh putranya. Siapa yang akan menyangka jika seorang Edgar Raymond, pria dingin yang kedua orangtuanya saja sangat susah meluluhkan sikapnya itu, ternyata pertemuannya dengan Mentari justru membuatnya mencair meskipun masih tertutup oleh rasa gengsi.

__ADS_1


''Jadi, kalian belum??'' mami men'tap-tap kedua jari telunjuknya dihadapan Edgar dan Mentari seakan bertanya hubungan mereka diatas ranjang.


''Mami...'' protes tuan Erick agar istrinya tidak kebablasan mengurusi hal privasi anaknya.


''Hehe..''


''Tapi, kalau Mami lihat-lihat dan Mami dengar dari cerita kamu, sepertinya kamu memang sudah tertarik dengan Mentari sejak pandangan pertama..'' ujar mami menebak perasaan dan pikiran Edgar.


''Mungkin..'' jawab Edgar enteng.


''Apa kamu sudah tau tentang masalalu Edgar?'' tanya mami beralih kepada Mentari.


''Sudah Mi, begitu juga dengan tentang masalalu saya.'' jawab Mentari.


Namun, ada keheranan yang terbesit dibenak Mentari saat melihat mami mertuanya itu seperti biasa saja dan tidak mempertanyakan kembali tentang masalalunya.


''Kamu seperti bingung, Mentari?'' tebak tuan Erick.


''Ah, enggak Pi.. nggak kok.'' balas Mentari.


''Mami kamu sudah tau cerita tentang kamu dari Papi..'' sahut tuan Erick menjawab ekspresi kebingungan diwajah Mentari.

__ADS_1


Mentari maupun Edgar menatap tuan Erick dan mami secara bergantian.


''Kami tadi hanya ngetest kalian aja..'' ujar mami santai.


''Mungkin ini sudah takdir, ketika CEO tampan, duren alias duda keren, berjumpa dengan seorang wanita yang berstatus janda kembang. Hemm.. kalau dibuat judul film atau novel bisa juga "Janda Kembang Pilihan CEO Duda" imbuhnya kemudian terkekeh.


Mami terkekeh sendiri menyimpulkan apa yang diucapkannya. Sedangkan tuan Erick hanya bisa tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


''Mamii... nggak lucu, kita bukan pasangan abege lagi. Udah ah, kita ke atas aja.'' protes Edgar lalu menggandeng tangan Mentari.


''Haha canda sayang, maafkan Mami sama Papimu ya.. semoga kalian akur terus. Meskipun kalian masih dalam masa tahap penyesuaian, tapi, Mami sangat yakin kalian itu saling mencintai.'' ucap mami dengan memberikan usapan lembut di lengan Mentari.


Mentari tersenyum, ia bisa merasakan ketulusan dari mertuanya, meskipun tadi sempat dibuat gugup.


''Terimakasih Mi, sudah menerima kehadiran saya disini..''


''Tentu sayang..''


''Jangan lupa ya pesanan Mami..'' goda mami dengan memberikan kedipan mata.


Edgar langsung menarik tangan Mentari agar tidak berkelanjutan menghadapi sikap maminya yang tidak sabaran.

__ADS_1


Mentari menyempatkan membungkukkan badannya sebelum berpamitan akan ke kamar.


__ADS_2