
''Tanpa sepengetahuan kamu, kemarin malam waktu kita habis lihat-lihat kantor di cabang, Jimmy mengutarakan maksudnya untuk mengenalkan kamu sebagai calon istrinya karena orang tuanya datang ke Indonesia.'' ujar papi.
''Oh ya?'' pekik Erin lalu menutup mulutnya lagi. Karena Jimmy benar-benar tidak memberitahu apalagi kelepasan berbicara soal ini.
Jimmy hanya senyum-senyum saja yang membuat Erin geregetan karena sudah membuatnya super shock. Untung saja tidak sampai menjerit keras.
Setelah itu, dua orang pelayan datang dan mengarahkan mereka ke meja lain yang sudah di setting untuk kedua keluarga itu.
Masih dalam pikiran dan perasaan yang belum percaya. Erin tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Jimmy untuknya malam ini. Benar-benar membuat kejutan yang luar biasa. Kedua keluarga itu langsung duduk di kursi masing-masing.
''Sebelumnya, kami mohon maaf ya, Rick ... Ta.'' ucap wanita yang merupakan ibu dari Jimmy itu seraya menatap ke arah mami dan papi secara bergantian.
Mereka merupakan teman lama, namun, karena kesibukan masing-masing membuat mereka jarang berjumpa. Tidak menyangka jika akhirnya akan menjadi calon besan.
''Aku hanya menuruti kemauan anakku, Jimmy. Dia sudah menceritakan tentang Erin dari beberapa bulan yang lalu. Dan sudah niatnya untuk melamar putrimu secepatnya. Begitu mendapat kabar kalian pulang ke Indonesia, Jimmy juga memberikan kabar ke kami. Sepertinya anakku sudah ngebet sekali buat kawin.'' ujar wanita yang bernama Lili itu dengan akhir kalimat yang membagongkan. Bahkan raut wajahnya pun sangat datar tanpa ekspresi.
Seketika Jimmy dan Erin langsung terbelalak mendengar penuturan mama Lili.
__ADS_1
''Ma.. nikah, bukan kawin!'' bisik Jimmy dengan merekatkan giginya.
Mentari hampir saja terlepas untuk mengeluarkan tawanya, untung saja langsung bisa menahan. Sedangkan Edgar langsung menatap Jimmy dengan tatapan mata yang tajam.
''Sama saja, Jimmy.'' balas mamanya dengan raut wajah yang tak merasa berdosa.
Jimmy langsung nyengir memperlihatkan giginya menatap keluarga Raymond. Yang ada dibenaknya kini hanya rasa malu. Apalagi tatapan mata Edgar membuatnya merinding seketika.
''Hehe maaf, Tuan, Nyonya ..,'' ucap Jimmy.
''Jangan buka kartuku di depan calon menantuku dong, Ta..!'' protes mama Lili.
Mereka pun tertawa kecil lagi.
''Balik lagi, aku mau bicara serius karena besok kami sudah pulang.'' ujar mama Lili yang kembali dengan raut wajah yang serius.
''Mengenai rencana anak-anak kita ya Rick, Ta ... aku sebagai seorang ibu hanya bisa memberikan dukungan apa yang sudah menjadi keputusan anak, selagi anaknya merasa bahagia, orang tua pasti akan bahagia juga. Untuk pernikahan anak-anak kita, aku serahkan sama mereka yang menjalani. Jimmy sudah bercerita juga dan jangan khawatir soal kami, kami orangnya slow motion, haha''
__ADS_1
Pria yang merupakan ayah dari Jimmy itu menepuk pelan lengan istrinya supaya kembali berbicara dengan serius.
''Kalau memang pernikahan itu akan digelar satu tahun lagi, ya nggak papa, Rick ... Ta. Lagian kita perlu persiapan juga. Dan katanya, calon mantuku mau lanjut S2, nggak papa atur saja gimana baiknya. Buru-buru untuk menikah juga tidak baik. Lagian mereka tidak di tempat yang sama, jadi kami tidak perlu khawatir kedekatan anak-anak kita bakal menjadi fitnah.'' terang mama Lili.
''Ya, Li, Ran. Erin sudah berencana untuk lanjut S2 karena bagaimanapun juga perusahaan akan dilanjutkan sama anak-anak. Dan mereka harus mencari ilmu setinggi-tingginya terlebih dahulu.'' ujar papi.
''Untuk itu aku juga tidak mau mereka terburu-buru, sekalipun kita sudah saling mengenal, apalagi dengan Jimmy. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi, apalagi tanpa persiapan yang matang.'' imbuhnya.
"Karena nantinya kami harus mempertimbangkan terlebih dahulu soal karir yang lagi mereka jalani sekarang.'' imbuhnya lagi.
Perbincangan antara kedua orangtua itu semakin serius. Ke empat anaknya hanya menjadi penyimak setia.
''Baiklah kalau begitu, kita sudah lega bisa menyaksikan secara langsung Jimmy bersikap romantis.'' ujar mama Lili menatap bangga wajah sang putra.
''Kapan-kapan gantian Mama dong yang dikasih bunga segede itu..!'' protes mama Lili.
Jimmy kembali melotot karena sang mama berbicara dengan santainya seperti tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1