Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 134 : Selesaikan Masalah Itu, Bukan Persaudaraannya


__ADS_3

Setelah melalui proses pencarian dan bekerjasama dengan beberapa pihak, akhirnya Ardi di jemput paksa dari persembunyiannya yang berada di suatu daerah jauh dari ibukota.


''Kami mohon maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan Ardi kepada keluargamu, Rick.'' ujar wanita yang merupakan ibu dari Ardi itu


Tuan Erick menghela nafasnya dalam-dalam.


''Ardi memang keponakanku Len, tapii.. aku sangat kecewa padanya. Tapi, bagaimana pun juga kita tetap keluarga.''


''Ya, ya.. aku paham Rick. Untuk itu aku tidak mengelak apapun, silahkan kalian bawa kemana anakku, asalkan aku masih bisa menemuinya.''


''Walaupun anak-anak kita masih bermasalah, aku harap kita tidak saling membenci Len. Kamu tetap saudaraku, Ardi tetap keponakanku yang pastinya aku berharap selepas dari permasalahan ini, dia benar-benar bisa berbenah.''


Wanita bernama Lenna itu mengangguk. Kesedihan jelas tergambar diwajahnya ketika putra kebanggaannya harus tersandung masalah gara-gara cinta.


''Sebenarnya aku juga bersedih melihat putraku seperti itu, Rick. Dia itu sudah mengaku sangat mencintai menantumu sejak lama. Tapi, mau gimana lagi, sebagai sesama perempuan yang pernah menolak cinta, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena cinta tidak bisa dipaksakan. Justru, Edgar, dia belum lama pulang ke Indonesia.'' wanita itu tersenyum getir dengan wajah menunduk. Menunda kalimatnya sendiri untuk sekedar mengambil nafas panjang.


''Justru Edgar yang mendapatkannya. Yah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh.'' imbuh wanita itu bijak.


Erick mengusap bahu saudara perempuannya itu.


''Ardi selalu terbuka tentang kehidupannya ke aku, Rick. Terakhir dia curhat tentang pertemuannya kembali dengan menantumu, dia terlihat sangat sedih. Aku sudah menyarankan untuk move on, banyak sekali wanita yang baik diluar sana, bahkan lebih baik. Dia hanya diam, dan beberapa waktu setelah itu dia memang lebih tertutup. Dia selalu berdalih masih fokus ke usahanya. Ternyata justru bersekongkol dengan mantan menantumu. Dunia ini hanya berkutat di situ-situ saja ya.'' terang wanita itu lalu tersenyum getir.


''Terimakasih Len, karena permasalahan ini kamu tidak membenci kami, terkhusus untuk anak-anakku.'' ucap tuan Erick.

__ADS_1


''Tentu saja, Rick. Tidak mungkin aku tidak menerapkan apa yang sudah diajarkan oleh orangtua kita. Sebesar apapun masalahnya, ya selesaikan masalah itu, bukan persaudaraannya.''


''Iya, iya, kamu benar Len.''


''Justru aku yang cemas kalian membenci kami.'' balas wanita itu.


''Itu tidak mungkin, Len.''


Tuan Erick bernostalgia sesaat setelah kembali diingatkan oleh saudara perempuannya itu mengenai ajaran orangtuanya dahulu.


Wanita itu langsung tersenyum. Meskipun mereka adalah kakak beradik, tetapi sejak kecil mereka tidak diterapkan untuk memanggil kakak adik, akhirnya panggilan langsung nama pun terbiasa hingga sekarang. Begitu juga dengan anak-anaknya persepupuan. Kecuali kakak beradik kandung, mereka sudah diterapkan panggilan sesuai dengan usianya.


''Berkunjunglah ke rumah Len, lama sekali rasanya kita nggak ngobrol seperti ini semenjak Edgar kembali kesini dan aku yang ke luar.''


''Datanglah kapanpun kalian mau, jangan sungkan-sungkan, aku yakin mereka sudah memaafkan Ardi, Len.'' balas tuan Erick.


''Baiklah..''


Kedua kakak beradik itu akhirnya berpisah setelah sama-sama mengurusi kasus yang masih berjalan.


°°


Pagi itu Erin melakukan jogging, rutenya tidak jauh-jauh dari kediamannya karena memang tidak diizinkan jauh-jauh. Tentu saja anggapan anak kecil jangan bermain jauh masih melekat untuk dirinya si anak bungsu.

__ADS_1


''Pulang ah udah panas.'' gumam Erin ketika melihat jam di ponselnya sudah pukul tujuh kurang 10 menit.


Erin berlari kecil menuju ke rumahnya sembari mengusap keringat yang mengucur di keningnya dengan kain kecil yang ia bawa.


''Pagi Pak..'' sapa Erin pada security di rumahnya yang masih memegang gerbang.


''Pagi juga Non Erin.'' balas pria itu.


Erin langsung masuk ke halaman rumahnya dengan bersiul-siul.


Tapi, tiba-tiba langkahnya langsung terhenti, ia langsung diam mematung seperti ada lem di sepatunya, ia pun salah tingkah sendiri saat berpapasan dengan seseorang yang baru turun dari mobil.


Pria yang berpapasan dengan Erin langsung tersenyum.


''Dari jogging?''


''Hah? oh iya, dari jogging hehe..'' jawab Erin sembari menunjuk arah luar pagar.


Pria itu ingin tertawa, namun ia tahan dengan merapatkan bibirnya.


''Semangat kerjanya!'' ujar Erin dengan gesture tubuh yang malu-malu.


Pria itu mengangguk dengan memberikan senyuman.

__ADS_1


Erin langsung berlari masuk ke dalam lebih dulu, ia ingin cepat-cepat meletakkan kembali jantungnya yang terasa seperti bergeser.


__ADS_2