
''Jim, ke ruanganku sekarang.'' ujar Edgar melalui sambungan telepon.
Keduanya baru kembali dari meeting dengan salah satu klien beberapa menit yang lalu.
Tak lama kemudian, Jimmy tiba di ruangan Edgar.
''Ada yang bisa saya bantu, Tuan?'' tanya Jimmy masih berdiri.
''Duduklah, Jim.'' suruh Edgar.
Jimmy mengangguk, lalu menarik kursi di depan meja Edgar.
Jimmy masih terdiam menanti apa yang akan disampaikan oleh Edgar untuknya. Dari raut wajahnya, Edgar seperti akan menyampaikan sesuatu hal yang penting.
''Jim, setelah ku pikir-pikir, apa yang dikatakan istriku ada benarnya juga.''
Jimmy tersenyum tipis. Bisa jadi ia ingin lompat kegirangan saking senangnya.
''Apa kamu mau berangkat kesana, Jim?'' tanya Edgar menatap Jimmy.
''Saya mengikuti perintah dari anda, Tuan. Jika itu yang terbaik, saya siap berangkat ke acara nona Erin.'' jawab Jimmy.
Edgar manggut-manggut lalu memajukan kursi kebesarannya.
Edgar menjelaskan tentang pelaksanaan wisuda Erin. Ia pun akan memberikan kejutan yang harus dilakukan oleh Jimmy.
Jimmy menyimak apa yang dikatakan oleh Edgar. Disaat Edgar menjelaskan, Jimmy sudah terbayang dimana ia akan berjumpa dengan kekasihnya itu.
''Gimana, Jim? bagus kan?'' tanya Edgar setelah menyampaikan keinginannya.
''Iya, Tuan. Saya menyetujui.'' jawab Jimmy.
Edgar menarik kalender di sudut mejanya.
''Tanggal ini kamu berangkat, dan di tanggal ini kamu harus sudah sampai Indonesia, ya.'' ujar Edgar sembari menunjuk setiap angka di kalender tersebut.
Jimmy menatap kalender yang di pegang oleh Edgar, betapa singkatnya waktu yang diberikan untuknya. Namun, ia tidak mungkin akan menolak, karena ini merupakan sebuah kesempatan yang rasanya sangat sulit untuk diterima lagi.
''Baik, Tuan.'' jawab Jimmy yakin.
"Ya sudah, aku hanya membahas itu, Jim. Kembalilah ke ruanganmu."
''Kalau begitu saya permisi.'' ucap Jimmy.
''Yaa.'' jawab Edgar.
Jimmy kembali ke ruangannya dengan wajah yang mengembang.
''Terima kasih, nona Mentari.'' ucap Jimmy bergumam.
Saat itu juga, Jimmy langsung memesan tiket pesawat pulang pergi. Tak ingin sampai kehabisan tiket jika memesan secara mendadak.
--
Mentari duduk di balkon, ia menunggu kepulangan sang suami. Ia sedang dirundung kecemasan saat memikirkan bagaimana ide yang ia sampaikan.
''Semoga mas Edgar menyetujui ideku.'' bathin Mentari sembari mengusap lembut pada perutnya.
''Kenapa aku sangat merindukan suamiku, aku ingin meluk mas Edgar lama.'' gumam Mentari gelisah menunggu suaminya belum juga datang.
Mentari masuk ke dalam kamar dan hendak turun ke bawah untuk menyambut sang suami.
''Aaa!!'' seru Mentari karena saat membuka pintu bertepatan suaminya yang mau masuk ke dalam kamar.
''Sssttt.''
Cup
Edgar langsung mengecup bibir Mentari agar tersadar dari kagetnya.
''Ih Mas!'' Mentari memukul dada Edgar.
''Bikin kaget aja.'' omel Mentari.
Meskipun mengomel, Mentari tetap memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya. Ia mencium punggung tangan Edgar dan meminta tas yang dibawa oleh suaminya itu.
Edgar menutup kembali pintu kamarnya sebelum ada yang mengintip. Ia memberikan kecupan berkali-kali di kening Mentari dan beralih ke wajahnya dengan rakus.
''Mau kemana sih kok sampai kaget gitu?'' tanya Edgar setelah melepaskan ciiumannya.
''Aku nungguin kamu dari tadi, jadinya mau ke bawah, eh ternyata suamiku sudah ada di rumah.'' ujar Mentari lalu memeluk sang suami.
__ADS_1
''Euummmm, gitu ya.''
Edgar membalas pelukan sang istri dan membiarkan keduanya sama-sama menikmati dengan memejamkan kedua matanya.
''Ohhh, anak-anak Papa ... kalian hari ini sudah di ajak makan apa saja sama Mama?'' tanya Edgar sembari mengusap-usap perut Mentari.
''Apa saja di makan sama Mama, Paa.'' jawab Mentari menirukan suara anak kecil.
Edgar langsung tertawa gemas. Apalagi saat menangkup kedua pipi Mentari yang tambah chubby.
''Iya-iya tau kalau aku sekarang gendut.'' protes Mentari langsung cemberut.
''Yang penting aku tetap cinta.'' ucap Edgar lalu menciium bibir Mentari yang sudah mengerucut itu.
Mentari pun tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya. Seperti yang ia inginkan sejak tadi, menunggu kedatangan Edgar dan memeluknya dengan erat.
''Aku mau mandi dulu ya.'' ujar Edgar.
Mentari menolak, ia menggeleng cepat.
''Kamu apa nggak nyium bau keringat?'' tanya Edgar.
Mentari menggeleng cepat.
Edgar langsung menggendong tubuh Mentari dan membawanya ke sofa. Karena sedari tadi mereka berdiri.
Mentari pun tidak juga melepaskan pelukannya, justru semakin erat. Seperti anak balita yang sedang bermanja-manja kepada bapaknya.
Tiga puluh menit sudah Mentari berada di pelukan suaminya itu.
''Ya sudah mandi sana, jangan banyak-banyak pakai sabunnya, nanti bau.'' ujar Mentari sembari melepaskan tangannya.
Kening Edgar langsung berkerut. Dimana-mana pakai sabun yang banyak supaya harum. Sekarang justru diperintahkan untuk tidak memakai banyak-banyak.
''Apa bau keringatku wangi?'' tanya Edgar menggoda sang istri.
''Lumayan.'' jawab Mentari singkat.
''Ya sudah, aku mandi dulu ya sayang.''
''Hmm.''
Mentari sudah turun dari pangkuan Edgar, dan Edgar pun langsung beranjak sebelum bumil berubah pikiran dan melarangnya lagi untuk mandi.
--
Di luar sana hujan turun sangat deras. Edgar dan Mentari pun hanya menunggu kantuknya di dalam kamar setelah selesai makan malam.
''Sayang.'' panggil Edgar.
''Iya ... ada apa, Mas?'' jawab Mentari.
''Aku sudah membuat keputusan tentang ide kamu.'' balas Edgar.
Mentari yang tadi masih menidurkan kepalanya di pangkuan Edgar, sekarang langsung duduk dengan tegap.
''Jadi, apa keputusanmu, Mas?'' tanya Mentari penuh harapan dan juga penuh kehati-hatian.
Edgar langsung menarik nafasnya dalam-dalam tanpa langsung memberikan jawaban. Mentari melihat itu langsung tertunduk lesu karena menyimpulkan bahwa Edgar menolak idenya.
''Nggak papa kok, Mas.'' ucap Mentari lirih mencoba untuk legowo.
Edgar tersenyum tipis lalu mengusap rambut Mentari dan menyibakkan ke belakang.
''Iya, sayang.'' Edgar terlihat lesu.
''Jadi ... nggak papa kan kalau aku mengizinkan Jimmy untuk mengikuti ide kamu?'' sambungnya.
Mentari yang sudah mode pasrah akan penolakan langsung menatap suaminya.
''Maksudnya apa?'' pekik Mentari.
Edgar langsung tertawa.
''Aku sudah memerintahkan Jimmy untuk datang kesana, sayang. Sudah beli juga tiketnya, dia tinggal berangkat.'' jawab Edgar.
Mentari langsung mencubit perut suaminya karena geregetan sudah berhasil menjailinya
''Pinter akting ya sekarang???''
''Rasain ini!!!''
__ADS_1
Mentari memberikan cubitan-cubitan kecil itu di perut Edgar.
''Sayang, stop ... maafin aku ...''
Mentari langsung cemberut dan melipatkan tangannya di depan. Ia tak mau menatap wajah Edgar.
''Sayang.'' rayu Edgar.
Mentari langsung bergeser.
''Nggak dimaafin, nih?''
Mentari melengos lagi.
''Nak ... kamu nggak kangen sama Papa, kah?'' Edgar beralih hendak mengusap perut Mentari. Tetapi Mentari langsung menepisnya.
''NGGAK!''
''Kok Mama yang jawab?'' tanya Edgar.
''Mas Edgar nyebelin banget!!''
Edgar terkekeh lalu meraih tengkuk Mentari.
''Iya-iya aku minta maaf.'' ucap Edgar
''Tapi, kamu seneng kan sama kabar ini?''
''Hmm''
''Masih marah?''
Lama Mentari terdiam tanpa memberikan jawaban.
''Tapi, kamu nggak bohong, kan?'' tanya Mentari memastikan.
''Kalau tidak percaya, tanya saja pas Jimmy kesini.''
Mentari percaya, Edgar tidak mungkin berbohong, kecuali isengnya kambuh.
''Terima kasih ya, Mas, karena sudah mewujudkan ideku yang tiba-tiba itu. Aku berharap dengan kedatangan Jimmy yang mewakili kita, bisa mengobati rasa sedihnya.'' ujar Mentari.
''Aamiin.''
''Kamu akan kasih hadiah apa untuk Erin? nanti Jimmy yang akan mengurusnya pas disana.'' tanya Edgar.
''Besok aku browsing dulu.'' jawab Mentari.
''Terima kasih, Mas.'' ucap Mentari langsung menciiumi wajah suaminya. Karena sedari tadi pun ia hanya membalas keisengan dari Edgar.
Edgar sangat pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Mentari. Ia malah memonyongkan bibirnya minta di ciium.
''Sudah.'' ujar Mentari kembali duduk dengan benar.
''Eiittsss, kata siapa sudah?''
''Kataku.'' jawab Mentari cepat.
''No, no, no ... tidak semudah itu. Kamu harus membayarnya.''
''Apa?'' tanya Mentari.
Edgar memutar arah bola matanya ke sesuatu miliknya.
''Ada yang minta di kandangin tuh.'' goda Edgar
''Ih dasar.''
Mentari pun terkekeh.
''Siapa takut?''
''Ayo siapkan dirimu.'' tantang Mentari membalas godaan Edgar.
Dan mereka pun akhirnya nganu. Ya pokoknya nganu🤭
...•••••••••...
Sembari menunggu Edgar dan Mentari update. Silahkan membaca novel ongoing Cimai lainnya yang berjudul "Diam-diam Suka Dia''
Matur nuwun🙏
__ADS_1