Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 181 : Sebelum Ada Ikatan Pernikahan


__ADS_3

Erin sudah mendapatkan barang-barang yang dicari setelah berpindah ke tempat lain. Pertemuan dengan orang tadi tidak boleh menjadikan momen ini menjadi dingin. Karena benar apa yang dikatakan oleh Jimmy, orang itu hanyalah pemeran yang sekedar numpang lewat yang dibuat oleh penulisnya, eh.


''Terima kasih ya Kak, karena sudah mengantarkan aku.'' ucap Erin.


''Iya, sama-sama.'' balas Jimmy.


''Ada yang mau di cari lagi?'' tanya Jimmy.


''Tidak ada.'' jawab Erin.


''Habis dari antar aku pulang, Kakak langsung istirahat saja.''


Erin menyadari keberadaan Jimmy disini bukanlah untuk bersenang-senang dengannya. Batas waktu yang diberikan oleh Edgar juga sangat singkat. Jalan ke suatu tempat seperti ini mencari sesuatu sudah cukup membuat Erin senang. Nanti akan ada waktunya sendiri jika sudah tiba saatnya.


Jimmy langsung melajukan mobil tanpa mengiyakan perkataan Erin.


''Loh, Kak? ini kan bukan arah pulang ke rumah?''


Jimmy tersenyum tipis. Sudah cukup jauh menyimpang arah, Erin baru menyadarinya.


''Sebelum LDR lagi, Kakak ingin jalan-jalan dengan calon istri. Boleh kan?''


Erin langsung menutup wajahnya yang tersipu malu dengan kata calon istri. ''Kemana?'' tanya Erin dengan menurunkan jari-jarinya.


''Tunggu saja.'' jawab Jimmy.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Jimmy sudah tiba di suatu tempat yang sangat terkenal di negara ini karena selalu dijadikan sebagai tujuan wisata. Hari ini pun terlihat cukup ramai meskipun belum masuk hari libur.


Jimmy menyerongkan duduknya menghadap Erin yang juga spontan menatapnya.


''Tempat yang ingin kamu kunjungi bersama kekasihmu, kan?''


Dengan wajah tersipu, Erin mengangguk apa adanya. Ia memang sangat ingin mengunjungi tempat ini ketika sudah memiliki pasangan. Dan sekarang justru Jimmy yang mengingat keinginannya itu. Tentu saja membuat Erin sangat bahagia.


''Kakak masih ingat?'' tanya Erin.


''Tentu saja Kakak ingat.''


''Ada ABG yang sangat percaya diri mengatakan kalau nanti sudah punya pacar, mau kencan pertama di tempat ini.''


''Aaaa! Kak Jimmy! stop!'' protes Erin yang membuat Jimmy tertawa.


Erin tidak ingin Jimmy mengingatkan momen ia yang dulu, ketika masih ABG mengejar cinta seorang Jimmy.


''Ya sudah yuk.'' ajak Jimmy setelah selesai dengan tawanya.


Seperti sebelumnya, Jimmy langsung keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Erin. Tanpa ragu, Jimmy langsung menggenggam tangan Erin dan berjalan mengelilingi tempat itu.


Tempat yang tidak sepi dan juga tidak terlalu ramai seperti saat hari libur datang. Namun, ada pemandangan yang mencuri perhatian Erin karena di tempat tersebut ada pasangan yang sedang melakukan sesi pemotretan untuk pra wedding.


''Romantis sekali mereka.'' puji Erin dengan sorot matanya yang masih memperhatikan pasangan yang tidak ia kenal itu.


''Mau?'' tanya Jimmy.


Erin pun langsung mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.


''Hu'um.''


''Mau secepatnya biar bisa pemotretan seperti mereka?'' tanya Jimmy lagi.


''Kakak!'' pekik Erin langsung tersadar.

__ADS_1


Jimmy langsung terkekeh. Lalu meraih kedua tangan Erin. Sekarang keduanya sudah saling berhadapan. Angin berhembus kencang membuat anak rambut Erin tertiup angin.


''Hey ... Nona Erinka Raymond, bolehkah saya mencintaimu dan menjadikanmu sebagai pendamping hidup satu-satunya hingga akhir hidupku?''


Erin langsung memeluk Jimmy tanpa menjawab apapun.


''Aku mencintai Kakak.''


Di ujung hari ini, Erin dan Jimmy menikmati keindahan tempat tersebut. Beberapa jam lagi, keduanya akan kembali berpisah beda benua dan tentu saja berbeda negara. Hanyalah teknologi kecanggihan untuk berkomunikasi yang menyatukan keduanya.


Tawa riang kebahagiaan Erin tak lepas dari raut wajahnya, begitu juga dengan Jimmy. Kedewasaan Jimmy dan kekanak-kanakan dari Erin membuat mereka semakin menggemaskan.


Tak terasa waktu semakin berlalu, keduanya baru keluar dari sebuah restoran sebelum Jimmy mengantarkan Erin pulang ke rumah.


''Kita pulang, ya?'' tanya Jimmy.


Erin mengangguk.


''Terima kasih untuk hari ini, Kak.''


''Aku sangat bahagia.'' ucap Erin apa adanya.


''Kakak juga bahagia.'' balas Jimmy.


''Ya sudah ayo masuk mobil, mereka pasti sudah menunggumu.''


''Ah, iya.'' jawab Erin.


Erin langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Jimmy. Erin menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal. Ada sebuah perkiraan yang ternyata tidak terjadi apa-apa sehingga membuat Erin salah tingkah sendiri dibuatnya.


Jimmy langsung menutup pintu mobil dan segera mengikuti masuk.


Erin menampilkan senyuman ketika Jimmy memasuki mobil.


Erin menggeleng. ''Tidak apa-apa, Kak.'' jawabnya.


Erin sudah memasang sabuk pengamannya sendiri, ia menatap lurus ke depan lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


''Apakah aku ini sudah gila?! bisa-bisanya aku berharap kak Jimmy menciium bibirku!! sadar Erin, sadaarr!!!''


''Ohh No!! kak Jimmy normal 'kan?!!''


Erin menoleh ke arah Jimmy sekilas lalu kembali menatap ke depan dengan tersenyum canggung. Erin menjalani hari-hari juga seperti anak muda pada umumnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, ia juga mencari hiburan dengan menonton drama, baik drama Hollywood ataupun drama Korea yang memang sangat digandrungi oleh remaja-remaja, bahkan emak-emak. Setelah menonton, hasilnya akan dibuat terbawa perasaan dan memiliki angan-angan.


Meskipun Jimmy terlihat fokus dengan kemudinya, sebenarnya ia menyadari akan tatapan dari Erin.


''Lho, kenapa berhenti disini, Kak?'' tanya Erin.


Jimmy tersenyum tipis lalu menghadap ke arah Erin. Ia mengusap rambut Erin dengan lembut lalu memajukan wajahnya. Seketika itu Erin langsung memejamkan kedua matanya.


Beberapa detik Erin menunggu, ternyata tidak terjadi apa-apa. Ia pun langsung membuka satu matanya secara perlahan, wajah keduanya sangat dekat membuat Erin salah tingkah.


''Ka-Kakak kenapa begitu? kalau tidak ada yang dilakukan ayo cepat pulang.'' ujar Erin lalu memalingkan wajahnya.


Erin ingin merutuki dirinya dalam hati, kebod0han apalagi yang ia pikirkan tentang kekasihnya.


"Ma-maksudku ..,"


Jimmy tersenyum, lalu meraih wajah Erin agar kembali menghadapnya.


''Jangan berpikir yang macam-macam. Kakak laki-laki normal.''

__ADS_1


Erin langsung terbelalak.


''Maksud Kakak apa bicara seperti itu? aku tidak menuduh Kakak tidak normal 'kan?''


Jimmy kembali tersenyum.


Cup


Sebuah ciiuman di kening Erin membuat gadis itu hanya diam dan terkejut.


''Kakak tidak akan melakukan lebih dari ini sebelum ada ikatan pernikahan. Kakak ingin menjagamu seperti tuan Erick dan tuan Edgar menjagamu dengan sebaik-baiknya.''


''Eh, i-iya.'' jawab Erin gugup lalu spontan menutup bibirnya.


''Kakakmu pun menyentuh nona Mentari ketika mereka sudah menikah. Begitu pula dengan Kakak, Kakak ingin kita menjalani hubungan ini dengan spesial. Jadi, saat kita menikah, ada sesuatu yang spesial karena selama ini selalu terjaga dengan baik."


''Maaf.'' ucap Erin lirih.


Jimmy pun tersenyum lalu mengusap puncak kepala Erin.


Mereka langsung kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.


Beberapa menit kemudian, keduanya sudah tiba di rumah. Terlihat mobil tuan Erick sudah berada di rumah.


''Ingat, kalau belum ingin ketahuan, bersikaplah seperti biasanya.'' ujar Jimmy.


Erin mengangguk, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu keluar dari mobil. Dan akting pun dimulai.


''Ini yang akan Kakak bawa biar di mobil saja.''


''Iya."


Erin mengambil barang-barangnya, sementara titipan untuk kedua kakaknya tidak ia ambil sesuai dengan perintah Jimmy.


Saat keduanya hendak masuk ke dalam rumah, mami juga akan keluar karena mendengar suara mobil.


''Mami sudah pulang dari tadi? papi mana?'' tanya Erin.


''Baru saja kok, Nak. Papi kamu masih tidur, kecapekan katanya.'' jawab mami.


''Ohhh, aku habis mengajak kak Jimmy jalan-jalan, kasian kan biasanya cuma bekerja terus-menerus. Dasar kak Edgar tega.''


''Kasian Jimmy atau kasian kamu?'' balas mami mengejek.


''Ish Mami, nih.''


Mami dan Jimmy pun tertawa.


''Terima kasih ya, Jim. Ayo masuk dulu.''


Jimmy mengangguk.


''Terima kasih, Nyonya. Sepertinya saya akan langsung kembali ke hotel untuk beristirahat terlebih dahulu dan bersiap-siap.''


''Ya sudah tidak apa-apa kalau begitu. Hati-hati di jalan ya.''


Jimmy mengangguk lagi.


''Saya permisi, Nyonya ... Nona Erin. Salam hormat untuk tuan Erick.''


''Hati-hati ya Kak Jimmy, salam buat kak Edgar, jangan kejam dan pelit.'' seru Erin.

__ADS_1


Jimmy tersenyum lebih lebar. Namun, kode dari kekasihnya itu membuatnya hanya mengangguk.


__ADS_2