Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 173 : Wujud Dari Mencintai


__ADS_3

''Saudara Ardi, ada yang ingin bertemu dengan anda.'' ujar polisi berdiri tegap di depan jeruji besi itu.


Ardi langsung beranjak dan mendekati pintu jeruji besi itu.


''Siapa, Pak?'' tanya Ardi dengan memegang jeruji besi di depannya.


''Silahkan anda temui langsung, beliau sudah menunggu.'' balas pak polisi.


Polisi tersebut membuka gembok dan mempersilahkan untuk Ardi menemui seseorang.


Dengan pengawalan polisi, Ardi berjalan sesuai dengan arahan polisi.


''Mama.'' panggil Ardi ketika melihat ibunya itu.


Ardi langsung mempercepat langkahnya untuk menemui Lenna, wanita yang sudah berjuang melahirkannya ke dunia ini.


''Maafkan aku, Ma ... maaf.'' Ardi bersimpuh di hadapan ibunya.


Awalnya Lenna memang kerap mengunjungi putranya, namun, beberapa waktu terakhir ini, wanita itu jarang terlihat mendatangi kantor polisi.


Lenna mengusap bahu putranya itu dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Lenna segera menghapus sebelum dilihat oleh Ardi.


''Tanpa meminta maaf, Mama sudah memaafkan kamu, Ar.'' balas Lenna.


''Duduklah, jangan seperti itu.''


Ardi langsung duduk tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Lenna.


''Mama datang sendiri?'' tanya Ardi.


Lenna mengangguk.


''Kamu tidak usah khawatir dengan yang lain, mereka tidak kesini bukan berarti membencimu.''


Ardi menunduk untuk menyembunyikan senyum getirnya.


''Kalaupun mereka membenciku, bukankah itu hal yang wajar, Ma?''


''Aku memang layak untuk dibenci karena kebod0hanku.''


''Jangan seperti itu, Ar.''


Lenna memeluk putranya itu dengan erat. Pengakuan itu membuatnya semakin sedih.


Hati seorang wanita yang menyandang gelar ibu, pasti akan sangat bersedih jika berhadapan dengan situasi seperti ini.


Yang dilakukan oleh Ardi memang sangat bersalah, ia pun sangat pantas mendapatkan hukuman ini. Tak ada perlawanan dari keluarga Ardi atas tuntutan yang dilayangkan pihak Edgar. Bagaimanapun juga, ini adalah proses yang diharapkan supaya Ardi akan menjalani hidup lebih bijak lagi kedepannya.


''Ku pikir, Mama sudah tidak mau kesini lagi.'' ujar Ardi.


Lenna berusaha untuk tersenyum. Beberapa waktu terakhir ini ia sengaja untuk tidak membesuk putranya itu. Hanya dengan meminta laporan dari pihak polisi mengenai perkembangan Ardi selama menjalani hukumannya.


''Maafkan Mama, ada urusan yang tidak bisa Mama tinggal.''

__ADS_1


Ardi pun tersenyum, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Justru setelah waktu itu terasa, ia semakin larut akan penyesalan, terutama pada ibunya.


''Bersabarlah kamu disini, berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama atau melakukan kesalahan lainnya, Ar. Mama selalu mempercayaimu.''


''Terima kasih, Ma. Maafkan aku yang sudah membuat Mama kecewa.'' ucap Ardi.


Lenna menggenggam tangan putranya yang sempat ia lepaskan.


''Mama berharap selepas dari sini, kamu hidup lebih baik dan segera menemukan pendamping hidup yang menerima segala masalalumu.''


Ardi langsung tersenyum ragu.


''Sepertinya sangat sulit, Ma. Cerita ini sudah terlalu mempermalukan keluarga kita, bisa jadi akan memperberat masa depanku sendiri. Lagi pula, aku belum memikirkan hal itu setelah kenyataan bahwa Dira sudah tidak bisa menjadi milikku.'' terang Ardi dengan tersenyum getir.


Lenna semakin dibuat sedih melihat putranya yang seperti itu. Bagaimana juga, ia sangat berharap putranya segera bebas dan melanjutkan hidupnya dengan terus memperbaiki diri.


''Tidak ada yang tidak mungkin, Ar, selagi kamu yakin. Dan Mama akan selalu mengiringi langkahmu dengan do'a.''


Ardi mengangguk ragu. Namun, tetap berusaha untuk tersenyum tipis untuk ibunya.


''Kalau sudah berjodoh, pasti sosok itu yang akan menerima semua cerita masalalumu.'' ucap Lenna.


Ardi mengangguk. Dibenaknya pun masih tergambar jelas harapannya bisa hidup bersama dengan Ghadira Mentari. Meskipun sekarang ia harus berjuang keras untuk melupakan harapan itu.


Wujud dari mencintai memang tidak selalu harus memiliki. Terkadang, wujud dari mencintai seseorang adalah dengan merelakan seseorang itu bahagia dengan pilihannya.


Setelah berbincang cukup lama dengan putranya, Lenna meninggalkan kantor polisi.


--


Edgar dan Mentari pun menghampirinya yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


''Sepertinya ada yang tertinggal.'' ucap Edgar.


''Tunggu sebentar.''


Edgar langsung bergegas kembali ke lantai atas. Tinggallah Jimmy dan Mentari di ruang tamu itu.


''Terima kasih, Nona.'' ucap Jimmy lirih.


''Oh ... sama-sama, Jim.'' jawab Mentari.


''Bagaimana ideku?'' tanya Mentari lirih.


''Cukup membuat saya deg-degan.'' jawab Jimmy.


Mentari terkekeh kecil.


''Kenapa senyum-senyum?'' tanya Edgar yang baru saja kembali. Ia menatap Mentari dan Jimmy bergantian.


''Itu, Mas ... aku lagi ledekin Jimmy jangan sampai nangis pas di pesawat nanti. Soalnya nggak di temani sama kamu.'' jawab Mentari.


Edgar yang tadinya menatap tajam pun langsung tertawa.

__ADS_1


''Nanti bawa permen yang banyak ya, Jim.'' Edgar pun ikut meledek.


''Siap, Tuan.'' jawab Jimmy.


''Bisa-bisanya anda menggunakan alasan itu, Nona.'' bathin Jimmy yang melirik Mentari sekilas.


''Maafkan Mama ya, Nak ... kalian sehat-sehat ya, sayang. Mama menyayangi kalian.'' bathin Mentari.


''Kita berangkat dulu.'' ucap Edgar lalu memberikan ciiuman di kening Mentari.


''Iya Mas, hati-hati.''


Mentari memberikan tas milik Edgar, lalu mencium punggung tangan suaminya.


Mentari tidak mengikuti sang suami ke depan. Ia masih duduk di sofa sambil mengusap-usap perutnya yang sudah mulai terlihat menonjol.


Tak terasa senyuman yang bersamaan dengan rasa haru itu ia rasakan.


''Andaikan ibu masih ada, ibu pasti akan bahagia sekali. Ini cucu pertama ibu dan juga besan ibu. Kalian pasti akan selalu berusaha untuk memberikan kasih sayang sebanyak-banyaknya untuk anak-anakku.'' bathin Mentari


''Sayang ... kalian nanti harus tau, kalian tidak hanya lahir dari keturunan Raymond saja, tetapi kalian juga memiliki darah biasa dari Mama yang harus selalu kalian akui sampai kapanpun itu. Mama ingin kalian selalu tumbuh dengan menerapkan rasa syukur dan kasih sayang untuk semuanya.''


Menjadi anak rantau tanpa kasih sayang yang lengkap dari keluarga. Mentari merasakan itu bukan waktu yang singkat.


Terkadang, ia juga merasakan rindu ingin mengunjungi kampung halaman ibunya. Tetapi, keinginan itu selalu ia urungkan ketika mengingat kepulangan bersama ibunya beberapa tahun yang lalu hanya mendapatkan sambutan dingin.


''Mungkin takdirku memang seperti ini.''


Mentari kembali tersenyum getir tanpa melepaskan tangannya dari perut.


''Apakah Non Mentari baik-baik saja?'' tanya seseorang.


''Ah, iya, saya baik-baik saja kok.'' jawab Mentari ketika mendengar suara seseorang menegurnya.


''Nona seperti sedang menangis?''


Mentari kembali tersadar, ia langsung cepat-cepat mengusap air matanya ketika mendapatkan pertanyaan dari Listi.


Ya, Listi hendak melakukan aktivitas lainnya di depan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Mentari sedang melamun.


''Tidak perlu khawatir, saya hanya terharu dengan kehamilan ini.'' jawab Mentari dengan tersenyum.


''Ohh, syukurlah, Non.'' balas Listi.


''Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu, tidak perlu cemas.''


''Baik, Non.'' jawab Listi dengan membungkukkan badannya.


Listi langsung ke depan untuk membersihkan kotoran yang menempel di kaca.


Rumah itu tidak pernah sepi dari aktivitas. Karena yang menempati pun banyak orang dengan tugasnya masing-masing. Hanya saja pemiliknya yang justru sedikit. Mungkin dengan kehadiran anak-anak dari Edgar dan Mentari nantinya yang akan menambah keramaian di rumah ini.


Setelah memerintahkan Listi untuk melanjutkan pekerjaannya, Mentari juga ke belakang. Ia ingin memeriksa tanaman yang tadinya berada di balkon dan sekarang sudah di pindahkan ke bawah. Sedangkan di balkon masih tersisa dua pohon.

__ADS_1


''Indahnya.'' gumam Mentari melihat pohon buah itu tumbuh dengan subur.


Mentari mengambil daun-daun kering dan dikumpulkan agar lebih mudah untuk membuangnya ke tempat sampah.


__ADS_2