
Udara pagi hari ini terasa menyejukkan bagi pasangan suami istri itu. Keduanya melakukan jalan pagi di gang depan rumah. Sesekali kendaraan roda dua mendahului seraya menyapa Mentari dan juga Edgar. Mereka para pedagang yang berjualan di pagi hari, sehingga pasca subuh pun sudah berangkat. Dan juga para pekerja yang tidak memiliki hari libur kecuali izin.
''Apa kalian selalu saling menyapa seperti itu?'' tanya Edgar.
Mentari membalas dengan anggukan kecil dan juga senyuman.
''Aku harap kebiasaan seperti ini tidak hilang, Mas.'' balas Mentari.
''Tapi, tidak lagi untuk pria-pria muda yang menyapamu sambil tersenyum itu.''
Mentari terkikik atas kecemburuan dari suaminya itu. ''Cemburu ya?'' godanya.
''Tentu saja.'' jawab Edgar dengan raut wajahnya yang menunjukkan cemburunya.
Mentari langsung menempel pada suaminya. Sedangkan tangan yang sedari tadi di gandeng oleh Edgar tetap tidak terlepas.
''Jangan khawatir, hatiku hanya untukmu seorang.'' ucap Mentari lirih.
''I love you.'' bisik Edgar.
''I love you too.''
Setelah cukup jalan pagi hari ini, mereka kembali ke rumah karena embun yang menempel di dedaunan pun sudah mulai berkurang. Sinar matahari sebentar lagi akan terbit. Sembari berjalan, Edgar membahas tentang pelebaran gang tersebut yang sudah di koordinasikan dengan beberapa warga setempat. Masih akan dilakukan pembahasan selanjutnya dengan warga lainnya, dan juga aparat setempat.
''Kalau jalannya dilebarkan, itu artinya halaman rumah-rumah warga akan berkurang dong ya?'' ujar Mentari sembari mengedarkan pandangannya.
Edgar langsung menghentikan langkahnya dan menghadap sang istri.
''Untuk itu, aku tidak mau melakukan itu tanpa persetujuan dari semua warga, sayang. Do'akan ya.'' balas Edgar.
Mentari pun mengangguk.
__ADS_1
''Aku akan selalu menjadi pengiring langkah-langkahmu, Mas.''
Edgar hendak memberikan kecupan manis di kening Mentari, tetapi dengan sigap Mentari bergeser.
''Malu tau, Mas.''
Edgar tertawa kecil. Dan keduanya kembali melanjutkan langkahnya ke rumah.
Pak Ramlan terlihat sedang bersih-bersih, sementara bu Titi sedang disibukkan dengan peralatan dapur.
.
.
''Jadi, sebenarnya dia ini kenapa, Dokter?''
''Pasien sudah beberapa kali melakukan konsultasi terhadap apa yang di rasakannya, Tuan. Pasien juga sudah berkonsultasi dengan psikiater. Intinya, pasien itu membutuhkan seseorang untuk sekedar mendengarkan ceritanya, memahami kesedihannya. Dia memiliki masalah di dalam keluarganya yang sudah lama dipendam sendiri. Dia juga tidak mau menjelaskan secara rinci kepada kami. Tapi, dari permasalahannya itu membawa dampak buruk untuk kesehatannya. Dia mudah dehidrasi, dia juga mengalami penurunan berat badan. Dan yang paling kami tekankan ke pasien adalah ..,''
''Pasien mengalami gejala kanker, Tuan.''
''APA?!''
Pada saat kembali ke rumah, Rita di kawal oleh pengawal Raymond. Kedua pengawal itu benar-benar tidak akan meninggalkan rumah tersebut sebelum memastikan gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Namun, ketika melihat Rita sudah selesai memasukkan motornya di garasinya. Tiba-tiba jalannya terlihat sempoyongan, dua pengawal yang sudah siap tancap gas langsung panik. Salah satunya menghubungi Jimmy, karena waktu yang sudah semakin malam membuat mereka enggan menghubungi Edgar, apalagi mengingat nona mudanya sedang mengandung.
''Ada apa menelpon saya malam-malam?'' tanya Jimmy melalui sambungan telepon. Sepertinya Jimmy pun masih berada di jalan, karena terdengar suara banyaknya kendaraan.
''Perempuan yang kami kawal pingsan, Tuan!'' seru salah satu pengawal, sedangkan satunya menghampiri Rita yang tergeletak.
''RITA?!''
__ADS_1
''OKE! OKE! saya tidak jauh, kalian jangan pergi dulu! saya akan kesana sekarang.''
Jimmy langsung mengakhiri panggilan telepon itu. Ia yang sudah menuju kediaman Raymond untuk menukar mobil pun langsung berputar arah, karena akan semakin lama jika harus mengambil mobil terlebih dulu.
Jimmy mencegat laju taksi yang melintas. Sedang berbincang sebentar, taksi tersebut mengikuti arah Jimmy.
Tidak lama kemudian, Jimmy tiba di kediaman Rita. Gerbang rumah tersebut sudah di buka lebar oleh pengawal, taksi pun masuk.
Jimmy langsung turun dari motor, dan memberikan perintah pada pengawal untuk membuka pintu mobil taksi. Ia menggendong Rita yang sudah pingsan dan membawanya ke dalam mobil.
''Tolong kalian bereskan ini, di rumah sakit biar saya yang urus.'' ujar Jimmy.
''Baik, Tuan.''
Jimmy langsung masuk ke dalam taksi. Ia cemas melihat wajah pucat pada gadis itu.
''Pak, tolong lebih cepat!'' ujar Jimmy.
Jimmy sangat shock mendengar pernyataan dari dokter tersebut. Rita masih belum sadar, sehingga Jimmy mencari informasi tentang sakitnya gadis itu.
''Masih gejala, Dok?''
''Berarti semua itu masih bisa sembuh sebelum terlambat?''
Dokter mengangguk.
''Iya, benar, semua itu masih bisa di cegah, Tuan. Pasien bisa kembali sehat. Tapi, juga tidak bisa disepelekan. Pasien tetap harus melakukan semua rangkaian pengobatan. Pasien tetap harus bisa menjaga kesehatan batinnya, dan pasti kesehatan fisiknya. Selama ini saran kami supaya melakukan pengobatan selalu di tolak karena tidak ingin mengambil libur bekerja, dia selalu khawatir akan dipecat.'' jelas dokter tersebut.
Jimmy langsung mengangguk samar-samar.
''Lakukan yang terbaik, Dok. Nanti kalau pasien sudah sadar, saya akan coba berbicara pelan padanya untuk melakukan pengobatan.''
__ADS_1
''Baik Tuan.'' jawab dokter tersebut.