Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 178 : Untuk Tambahan Modal Nikah Saya Nanti


__ADS_3

Erin sangat bahagia sekali hari ini. Selain mendapatkan nilai yang bagus, ia juga mendapatkan beberapa kejutan yang tidak pernah ia duga. Terutama kejutan dengan kedatangan kekasihnya yang benar-benar tidak ia sangka. Meskipun itu harus melalui ide dari kakak iparnya.


Sesampainya di rumah, ia dikejutkan dengan kamarnya yang sudah terisi banyak sekali hadiah dari kakak-kakaknya. Hadiah yang melebihi saat hari ulang tahunnya.


''Terima kasih banyak, kak Mentari.'' gumam Erin lalu memeluk salah satu boneka yang berukuran besar itu.


Boneka Teddy bear yang berukuran besar dengan atribut lengkap seperti sedang wisuda membuat Erin langsung memeluknya.


''Tidak berterima kasih sama yang ngasih?''


Erin langsung terperanjat ketika mendengar suara yang tiba-tiba datang. Ia pun langsung bangkit.


''Kak Jimmy!'' pekik Erin.


Erin langsung melihat di sekitarnya, ia cemas ada yang menguping.


''Jangan seperti itu, bersikaplah tenang dan biasa saja. Karena kalau seperti itu akan membuat mereka curiga.'' ujar Jimmy yang masih berdiri di ambang pintu.


Jimmy membuka pintu kamar Erin menjadi lebar. Sebelum masuk ke dalam kamar Erin, tentu saja sudah mendapatkan izin dari tuan Erick.


''Iya-iya, aku hanya takut, Kak.'' bisik Erin.


''Jangan takut, kalau ketahuan sekarang, kita bisa langsung nikah sekarang juga.'' balas Jimmy dengan entengnya.


Bugh


''Aww!'' pekik Jimmy sembari memegang perutnya.


Erin spontan memukul perut Jimmy yang melontarkan kata nikah.


''Jangan sembarangan, Kak!'' protes Erin.


''Memangnya kamu tidak ingin menikah denganku, hem?'' goda Jimmy.


Erin semakin terbelalak mendengar kalimat itu.


''Ma-mau, eh! bukan sekarang, Kakak!''


Jimmy langsung terkekeh pelan, ia mengusap puncak kepala Erin dengan gemas.


''Kamu suka bonekanya?'' tanya Jimmy mengalihkan pembahasan.


''Suka sekali.'' jawab Erin.


''Apa itu dari Kakak?''


''Menurutmu?'' Jimmy berbalik tanya.


''Ku kira dari kak Mentari hehe''


''Aku sangat menyukainya, Kak. Terima kasih atas kerja sama kalian.''


Jimmy mengangguk.


''Sama-sama, Nona Erin.'' jawab Jimmy.


Erin pun terkekeh geli dengan panggilan itu.


''Tuan Erick mengajak makan malam di restoran X. Sekarang Kakak mau kembali ke hotel. Sampai jumpa nanti malam.''


''Kenapa papi tidak menyuruh Kakak untuk menginap disini?'' tanya Erin. Sedetik kemudian ia langsung menutup mulutnya karena melihat tawa yang tertahan dari Jimmy.


''Apa kamu sudah tidak sabar, sayang?'' goda Jimmy.


''Ish! sudah-sudah pergi sana, Kak!'' usir Erin.


''Sanaaa!! pergiii!!''


Erin mendorong-dorong punggung Jimmy dengan sekuat tenaga yang ia miliki sampai keluar dari kamarnya. Kalimat Jimmy membuat jantungnya berdebar kencang. Ia harus mengistirahatkan tubuh dan juga perasaannya, serta jantungnya.


''ERIIN!'' seru mami dari tangga.

__ADS_1


Erin langsung terbelalak melihat seruan maminya.


''Ma-mami.''


Erin pun melepaskan tangannya dari punggung Jimmy saat melihat maminya mempercepat langkahnya untuk menuju ke arahnya.


''Kakak kamu jauh-jauh datang kesini malah kamu usir seperti tadi, itu tidak sopan, Nak!'' omel mami.


Erin langsung menatap Jimmy, begitu pun sebaliknya. Keduanya lebih lega dengan dugaan seperti itu.


''Kami sedang becanda, Nyonya. Nona Erin tidak mengusir saya kok.'' ujar Jimmy.


''Betul, Mi ... mana mungkin aku mengusir Kak Jimmy. Iya kan, Kak?'' timpal Erin dengan mencari pembelaan.


Jimmy mengangguk.


''Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya ... Nona Erin.'' pamit Jimmy.


''Ah iya, maaf sudah salah menilai. Hati-hati di jalan ya, Jim. Kamu di suruh menginap disini tidak mau.'' balas mami.


''Terima kasih, mungkin lain kali saja, Nyonya.'' jawab Jimmy.


''Ya sudah tidak apa-apa, jangan lupa nanti malam ya.'' ujar mami.


Jimmy mengangguk lagi lalu meninggalkan rumah tersebut.


Setelah Jimmy pergi, Erin langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya agar tidak ada yang tiba-tiba masuk dan membuatnya terkejut lagi.


"Ternyata kak Jimmy sudah disuruh menginap disini tapi, tidak mau." gumam Erin.


Erin membuka satu persatu box hadiah yang memenuhi sisi tempat tidurnya itu. Sedangkan di atas kasur sudah ada beberapa bucket bunga dan juga bucket snack. Erin memang gadis yang memiliki hobi mengemil. Tiada hari tanpa menikmati cemilan, untuk itu ia harus menyesuaikan dengan olahraga dan makanan sehat lainnya.


''Berarti bunga yang langsung dikasihkan tadi itu memang dari kak Jimmy?'' gumam Erin.


Erin langsung kembali mendekati bucket bunga tersebut. Tak ada pesan apapun disana selain ucapan happy graduation.


''Aneh banget sih kamu, Rin! kalau dikasih tulisan ''from your love'' ya bakal bikin curiga dong!'' omel Erin pada dirinya sendiri.


Tak berapa lama ada panggilan video masuk ke dalam ponselnya. Nama ''My Lovely Sister'' membuat Erin langsung menjawab panggilan video itu.


''Kakaaakk!! terima kasih banyak yaaaa ... i love youuuu!'' seru Erin dengan sangat antusias.


''Cieee luluuus.'' canda Mentari dari sambungan video call.


''Cieee anak kecil akhirnya lulus juga.'' sambung Edgar yang duduk di sebelah Mentari.


''Biarin!! kali ini aku nggak akan ngomel ke Kak Edgar. Pokoknya terima kasih banyak sudah kasih aku kejutan.'' balas Erin.


Erin mengalihkan kameranya menjadi kamera belakang dan mengarahkan pada hadiah-hadiah yang sudah memenuhi kamarnya.


''Banyak sekaliii.'' seru Mentari.


Erin mengembalikan ke kamera depan.


''Iya, biasalah banyak penggemar beratnya, haha''


Kakak beradik itu melanjutkan obrolannya yang sangat seru. Perbedaan waktu yang tidak sedikit membuat Mentari harus menyudahi panggilan video itu karena Edgar sudah mengajaknya untuk istirahat.


Pemandangan pagi tadi membuat Jimmy sempat terpancing rasa cemburunya. Ya, karena Erin mendapatkan banyak hadiah dari beberapa mahasiswa. Namun, Erin langsung menanggapi hal itu dengan santai agar para pemberi hadiah itu tidak bersikap berlebihan.


--


Di sebuah restoran yang ada di tengah kota negara ini.


Jimmy dan Erin duduk berdampingan. Sedangkan tuan Erick dan mami duduk berhadapan dengan mereka.


Sembari menunggu pesanan datang, ke empatnya melakukan obrolan ringan. Obrolan yang tidak jauh antara Jimmy dan tuan Erick adalah mengenai perkembangan kantor.


Tidak ada yang sia-sia, karena perkembangan usahanya cukup bagus setelah dikendalikan oleh Edgar.


Jimmy melihat aura tuan Erick yang sudah berubah. Tidak lagi seperti dulu yang membuat Edgar pernah membenci ayahnya sendiri. Sekarang tuan Erick lebih terlihat sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab dan juga suami yang romantis, meskipun usianya sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Jimmy menggenggam tangan Erin yang berada di pangkuan.


Erin sempat menoleh sekilas karena terkejut, namun, Jimmy tetap menghadap ke depan dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Tak lama kemudian pesanan pun datang, Jimmy langsung melepaskan tangannya. Mereka langsung menikmati makan malam bersama tanpa obrolan.


''Permisi, saya akan ke toilet dulu.'' ujar Jimmy lirih.


''Silahkan, Jim.'' balas tuan Erick.


Jimmy langsung bergegas meninggalkan meja tersebut.


''Meja nomor 9.'' ujar Jimmy dalam bahasa Inggris.


Setelah menyelesaikan urusannya, Jimmy kembali bergabung dengan keluarga bosnya.


''Besok Kakak terbang jam berapa?'' tanya Erin.


''Malam, Nona.'' jawab Jimmy.


''Ohh''


Erin mengangguk-angguk.


''Emmm, besok bisa antar aku cari oleh-oleh buat kak Edgar dan kak Mentari, dong.'' ujar Erin menemukan ide.


Jimmy langsung menatap tuan Erick dan nyonya Neeta untuk meminta pendapat.


''Antarkan saja, Jim. Kebetulan besok kami ada acara.'' ujar tuan Erick.


''Baik, Tuan.''


''Kabari saja mau jalan jam berapa, saya usahakan untuk tidak telat, Nona.'' ujar Jimmy pada Erin.


Erin langsung tersenyum mendengar jawaban itu.


''Nanti ku hubungi.''


Jimmy mengangguk. ''Baik.''


Mami memanggil seorang pelayan untuk melakukan pembayaran.


''Maaf, untuk pesanan ini sudah dibayarkan oleh beliau.'' ujar pelayan itu dengan menatap ke arah Jimmy.


Ketiganya langsung menatap Jimmy.


''Ohh, baiklah, terima kasih.'' ucap mami pada pelayan itu.


Pelayan tersebut langsung pergi.


''Maaf, saya tidak izin terlebih dahulu.'' ucap Jimmy.


''Oh, iya, tidak apa-apa. Terima kasih sudah mentraktir kami, padahal saya yang mengajak.'' balas mami.


Jimmy tersenyum tipis.


''Apakah ini dalam rangka ingin dinaikkan gajinya, Jim?'' canda tuan Erick yang diikuti tawa pelan.


''Boleh juga, Tuan. Untuk tambahan modal nikah saya nanti.'' jawab Jimmy yang langsung ditepuk pahanya oleh Erin.


''Haha, bisa saja kamu.''


''Kenalkan dulu calon istrimu.'' tantang tuan Erick.


''Beberapa bulan lagi, Tuan. Masih menunggu calon istri saya siap dikenalkan.'' jawab Jimmy asal.


''Baiklah, kami tunggu.'' balas tuan Erick.


Erin mencengkeram kuat paha Jimmy yang terbalut celana tebal. Namun, Jimmy masih tetap stay cool.


''Stop, Kak! stoooppp!!!'' bathin Erin sudah menjerit.

__ADS_1


Jimmy mengusap lembut punggung tangan Erin yang masih berada diatas pahanya lalu menurunkan tangan tersebut. Bukan apa-apa, Jimmy tetaplah pria normal yang mudah tersetrum jika mendapatkan sentuhan, apalagi sangat dekat dengan aset berharganya.


__ADS_2