
''Mas.'' panggil Mentari.
''Eh, sayang. Sini..'' balas Edgar
Edgar masih bersantai di balkon setelah pulang dari salah satu tempat wisata. Sementara Mentari tadi masih mengobrol dengan mami dan juga Erin.
Waktu tersisa sudah tidak banyak lagi sebelum mertua dan adik iparnya kembali ke luar negeri. Rasa kasih sayang yang tulus membuat Mentari sangat berat ketika harus kembali berjauhan.
''Sudah selesai ngobrolnya, sayang?'' tanya Edgar dengan merentangkan kedua tangannya agar sang istri masuk ke dalam pelukannya.
''Sudah, Mas.'' jawab Mentari lalu menyandarkan kepalanya di dada Edgar.
Mentari membenamkan wajahnya di dada Edgar, ia tidak langsung berbicara apapun. Yang dilakukan hanya menghirup aroma khas suaminya yang membuat jantungnya berdebar.
''Nggak terasa juga, tiba-tiba mereka sudah mau balik ke luar negeri lagi.'' ujar Mentari setelah beberapa saat terdiam.
''Euumm, jadi kamu masih kangen ya kalau harus jauh-jauh dari mereka?'' tanya Edgar.
Mentari mengangguk. ''Karena kalian selalu memperlakukan aku dengan baik, mana mungkin nggak bikin kangen, Mas.'' ujarnya.
Edgar membalas kalimat yang diucapkan oleh Mentari dengan memberikan ciiuman bertubi-tubi.
''Karena aku dan mereka sangat bersyukur memiliki kamu, sayang.'' kata Edgar.
Keduanya kembali sama-sama diam setelah saling menatap.
__ADS_1
''Mas..,''
''Iya sayang?''
''Erin sudah semakin dewasa, Mas.'' ujar Mentari hati-hati.
''Terus?''
''Aku mohon Mas, jangan perlakukan Erin seperti anak kecil terus.'' ujar Mentari.
''Ya, aku tau, kamu melakukan itu semua karena rasa sayang ke Erin. Tapi, bukankah kehidupan itu akan terus berlanjut. Mau tidak mau, siap tidak siap, kita akan melihat Erin semakin bertumbuh. Baik itu dari karir ataupun kisah asmaranya yang pasti akan dihadapi.''
''Erin wanita normal, Mas. Apa kamu nggak kasian sama dia? setiap harinya selalu di penuhi rasa takut sama kakaknya sendiri.''
''Jangan salah paham, Mas. Erin nggak mengadu, dia hanya mencoba menceritakan apa yang dirasakannya, tidak lebih. Selama ini mungkin hanya bisa memendam. Mungkin, selama ini dia tidak ada sosok yang benar-benar dijadikan tempat mengeluarkan uneg-unegnya itu.''
Edgar menarik nafasnya.
''Apa caraku terlalu kejam, sayang?''
Mendengar tarikan nafas dari Edgar dan pertanyaan itu membuat Mentari langsung duduk tegap.
Mentari menggenggam tangan Edgar dengan erat.
''Mas..''
__ADS_1
''Kamu tidak kejam, hanya saja kita perlu memahami Erin. Kamu wajib untuk sangat bersyukur loh, karena sejauh ini Erin jadi anak yang penurut. Tapi, cara itu tidak bisa kalau kamu terapkan selamanya seiring dengan bertambahnya umur Erin, Mas.''
Edgar langsung tersenyum tipis dan mengangguk.
''Ya, sayang, benar apa yang kamu bilang. Selama ini aku hanya dihantui rasa takut, rasa khawatir kalau Erin terjebak atau terpengaruh hidup bebas di luar sana. Walaupun disana memang hal biasa untuk hidup bebas, tapi, aku nggak mau Erin seperti itu. Dia harus tetap menjaga kehormatannya. Hanya suaminya nanti yang boleh menyentuhnya.'' balas Edgar panjang lebar.
Mendengar ungkapan itu membuat Mentari langsung memeluk suaminya.
''Untuk itu aku selalu bersyukur karena telah dipertemukan dengan kamu, Mas.'' ucap Mentari.
Edgar memberikan kecupan manis di kening Mentari. ''I love you.'' ucapnya.
''Rasa yang sama.'' balas Mentari.
''Ehm, balik lagi ke Erin.'' ujar Mentari langsung membuat keduanya terkekeh kecil.
Mentari kembali menegakkan duduknya.
''Mengingat usia Erin dan nggak lama lagi akan lulus, gimana nih kalau seandainya ada yang mendekati Erin? apa yang bakal kamu lakukan, Mas?'' tanya Mentari hati-hati.
''Eeuumm.. di pikiranku belum sampai kesana, sayang. Tapi, kalau seandainya begitu, harus jelas asal-usulnya dari mana, keluarganya seperti apa, apa pekerjaan dia selama ini, bagaimana pergaulannya, pendidikannya, dan ... hufftttt banyak.'' jelas Edgar.
Mentari menatap suaminya dengan senyuman manis, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang masih menjadi rahasia. Dan yang namanya rahasia, Mentari berusaha untuk menahan sampai waktunya tiba. Waktu yang tepat untuk mengatakan rahasia itu.
''Semuanya sudah sangat jelas, Mas. Kalian sudah sangat-sangat mengenali dan memahami. Kalian nggak perlu capek-capek mencari informasi tentang sosok yang akan mendekati Erin.'' bathin Mentari.
__ADS_1