Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 143 : Sampai Jumpa Besok Ya


__ADS_3

''Aku akan segera kembali ke luar negeri, Kak.'' ujar Erin melalui sambungan video call.


''Kapan?''


''Untuk kapannya aku kurang tau. Tapi, yang jelas papi bilang secepatnya.''


Keduanya langsung sama-sama terdiam.


''Hey.. jangan sedih dong. Bukannya sudah terbiasa kita seperti ini, namanya juga diam-diam.''


''Nanti akan datang waktunya untuk bersama.''


Erin tersenyum lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang berseri-seri. Setelah bisa mengendalikan raut wajahnya, ia kembali menatap layar ponselnya.


''Iya juga sih, tapi, nggak tau kenapa pas papi bilang gitu aku jadi sedih.'' keluh Erin dan kembali menunduk.


''Hmmm, apa mau Kakak bilang sekarang biar kita tidak jauhan lagi?''


Yang tadinya Erin menunduk langsung menatap tajam ke layar ponselnya.


''Apa?!''


''NO.. BIG NO!!!!'' seru Erin dan langsung menutup mulutnya.


Suara tawa renyah keluar dari ponsel Erin. Erin langsung merengut melihat responnya disambut gelak tawa.


''Jangan di ketawain dong Kak.'' protes Erin.


''Yaudah dicemberutin aja, gimana?''


''Ya nggak gitu juga.''


''Jangan cemberut dong, sampai jumpa besok ya..''


Yang semula cemberut kini berubah tersenyum lagi meskipun sedikit malu-malu.


''Nggak cemberut kok. Ya sudah aku mau istirahat dulu ya Kak, biar nanti nggak telat ikut ngasih kejutannya.'' ujar Erin.

__ADS_1


''Nanti aku bangunin.''


°°


Saking sibuknya dengan pekerjaan, Edgar memang sering lupa dengan tanggal kelahirannya. Sepertinya hal itu terjadi lagi pada tahun ini. Tidak ada pembahasan apapun tentang hari ini, padahal mumpung keluarganya datang ke tanah air.


Mentari juga tidak mengatakan apapun, ia lebih memilih berdiskusi dengan mami dan juga Erin untuk memberikan kejutan yang seperti apa. Mengingat ini adalah momen pertama kali setelah dirinya menjadi seorang istri dari Edgar.


Untuk menghindari telat bangun, Mentari sengaja mengajak Edgar untuk tidur lebih cepat. Beruntung Edgar juga mengatakan lelah dan mengantuk, akhirnya ia pun langsung mengiyakan dan memang tidak lama kemudian, sudah terdengar nafasnya yang teratur.


Pukul 23.35 WIB


Mentari terbangun dari tidurnya dan memastikan jam berapa.


''Syukurlah belum telat.'' bathin Mentari lega.


Ia langsung memastikan Edgar tidak ikut terbangun karena posisinya yang sedang tidur dengan memeluk Mentari.


Pelan-pelan Mentari mengangkat tangan Edgar dari tubuhnya. Ia juga bergeser dengan sangat hati-hati, jangan sampai kejutannya menjadi gagal total.


Mentari langsung menghela nafas lega. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan mengendap-endap seperti maling.


''Mami.'' pekik Mentari langsung tertahan.


''Mami juga baru bangun, sayang. Gimana Edgar?'' tanya mami.


''Sepertinya benar-benar masih tidur Mi.''


''Oke baiklah. Erin masih ambil kuenya di bawah, kamu tidak perlu turun ya..'' ujar mami.


Mentari mengangguk.


''Saya mau cuci muka dulu, Mi.''


''Oh iya-iya.''


Mentari langsung bergegas menuju kamar mandi keluarga yang ada di lantai dua. Ia mencuci wajahnya disana agar tidak terlalu nampak baru bangun tidur.

__ADS_1


Mentari keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah berkumpul kedua mertuanya dan juga adik ipar. Ia tak ingin melibatkan para pekerja yang sudah waktunya beristirahat. Apalagi ini hanya kejutan kecil-kecilan. Mami sudah memberitahu kepada pekerja untuk siapa kue yang dibawanya tadi. Mereka tentu saja kompak tidak membocorkan rahasia itu.


''Sudah siap?'' tanya mami.


Hoaaammmm huahhh


''Erinn!!'' pekik mami setengah berbisik karena putrinya itu menguap cukup keras.


''Hehe maaf Mami..'' ucap Erin.


''Siapa yang mau bangunin?'' tanya papi.


''Saya saja Pi.'' jawab Mentari.


''Ya istrinya dong Pi, gimana sih Papi.'' sahut mami.


''Iya sayang, kan Papi cuma nanya.'' balas papi mesra.


Erin seketika mencebikkan bibirnya mendengar papinya memanggil sayang ke mami.


''Ehmm.. jadi nggak nih? tukang video sekaligus tukang fotonya sudah siap nih?'' timpal Erin.


''Iya-iya ayo sekarang.'' jawab mami.


Mentari mencubit pipi adik iparnya itu karena sangat menggemaskan baginya.


''Yang sabar ya adik..'' lirihnya.


''Heeemmmm.'' jawab Erin dengan menahan kantuknya.


Mentari membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Jangan sampai kesalahan sedikit bisa menggagalkan rencananya.


Mentari berada paling depan, sedangkan papi dan mami di tengah dengan membawa kue tart. Sementara di belakang ada Erin yang memegang kameranya. Semuanya berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan Edgar sebelum rencana.


Satu... dua....


''Ssstttt..!'' tiba-tiba papi menghentikan hitungan mami. Lalu menunjukkan jam yang ternyata masih kurang dua menit lagi pukul 00.00

__ADS_1


__ADS_2