Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 43 : Tuan Itu Benar-benar Menyebalkan!


__ADS_3

''Bisa dimulai sekarang?''


''Bisa.'' jawab Mentari dengan yakin.


Edgar dan Mentari sudah berdiri berdampingan dengan memberikan jarak ditengah. Keduanya sama-sama melakukan pemanasan ringan terlebih dulu.


''OKE! SATU.. DUA.. TIIIII-GA''


Byuuurrr


Edgar dan Mentari saling beradu kemampuannya dalam berenang, kedua tangan kanan dan kirinya mengendalikan air kolam untuk segera mencapai tujuan.


''Hahaha saya menang!!!'' seru Mentari puas dengan keberhasilannya.


Beberapa detik kemudian Edgar tiba dan mensejajarkan disamping Mentari.


''Sekali lagi, tapi, bolak balik.'' tantang Edgar lagi.


''Oke!'' jawab Mentari.


Kedua sudah siap-siap dengan posisinya masing-masing untuk kembali berlomba menaklukkan air kolam tersebut.


Perlombaan bergengsi tanpa dijanjikan sebuah hadiah antar suami istri ini sudah dimulai kembali. Kemenangan pada babak pertama membuat Mentari termotivasi untuk menjaga fokusnya agar kembali mendapatkan kemenangan.


''Tuan.. Tuan.. Tuan..''


Mentari celingukan menunggu sosok Edgar yang belum kunjung muncul.


''Jangan becanda! Tuan dimana?!'' seru Mentari.


Terlalu fokus saat berenang membuatnya tidak melihat ke samping. Dan disaat Mentari sudah berada di garis finis, ia tidak melihat sosok Edgar.


Mentari mengitari pandangannya, tiba-tiba kedua bola matanya berembun begitu merasakan kesendirian. Akhirnya Mentari kembali berenang menuju pijakan.


Namun tiba-tiba pergerakan Mentari terhenti, saat ia sudah meraih pegangan, muncul tangan kekar melingkar di pegangan itu juga yang membuatnya terkejut dan langsung menoleh ke belakang.


''Maaf, panik ya?'' Edgar muncul dari belakang Mentari seraya mengusap wajahnya yang basah.


''Tu-Tuan..'' ucap Mentari lirih dengan celingukan dari mana munculnya Edgar.


"Apa Tuan punya ilmu menghilang?"

__ADS_1


''Hahaha aku sembunyi di dasar.'' ungkap Edgar menjawab rasa penasaran yang tergambar diwajah Mentari.


''Hah?''


Mentari melihat air yang jernih, tetapi kenapa ia tadi tidak melihat Edgar.


''Kau sedih ya?''


''Aku nggak kemana-mana, jangan cemas.'' Edgar mengusap air mata Mentari.


''Tuan itu benar-benar menyebalkan!''


Bug


Mentari memukul dada Edgar untuk melampiaskan kekesalannya.


''Udah? puas?'' tanya Edgar setelah Mentari berhenti memukulnya.


''Tuan nggak usah cengar-cengir meledek saya, tangan saya yang sakit!'' gerutu Mentari.


Edgar terkekeh mendengar gerutuan dari Mentari setelah memukul dadanya.


Mentari menepi ke dudukan yang ada di pinggiran kolam renang, ia duduk disana sembari istirahat. Sedangkan Edgar juga mengikutinya.


''Nggak, mana berani saya marah sama anda, Tuan.'' jawab Mentari tanpa berani menatap suaminya.


''Ohya?''


''Iya.''


''Mentari..'' panggil Edgar pelan.


Mentari langsung menoleh ke samping, jarak diantara mereka sangatlah dekat, mungkin hanya sekitar lima sentimeter, adu pandangan pun terjadi tanpa kata-kata.


Tanpa disadari, keduanya sama-sama bergerak maju, Mentari spontan memejamkan kedua matanya, sementara Edgar sedikit memiringkan kepalanya seraya meraih tengkuk Mentari, daaaaannn...


''Per-misi.. ooohh maaf..''


Mendengar suara seseorang datang, Edgar dan Mentari langsung gelagapan dan membuat aktivitasnya gagal. Mentari reflek mendorong tubuh Edgar agar menjauh darinya.


Penjaga villa dan staff yang datang membawa perlengkapan untuk floating breakfast tersebut menjadi salah tingkah sendiri.

__ADS_1


''Maaf Tuan, Nona..'' ucapnya.


''Oh, tidak apa-apa, Pak..'' balas Edgar diikuti anggukan kecil dari Mentari.


Meskipun terkejut, Edgar tetap menunjukkan sikap santai, sedangkan Mentari berusaha menahan rasa malunya.


Keduanya sudah tidak berendam lagi karena kedatangan dua orang yang sangat mengejutkannya. Edgar buru-buru mengambil handuk dan menutupnya ke badan Mentari karena pakaian yang basah terlihat mengecap.


''Terimakasih.'' ucap Mentari lirih sambil melanjutkan sendiri membenarkan handuk.


''Maaf Tuan, Nona.. kami tidak bermaksud mengganggu, e.. kami mengantar sarapan.'' ucap penjaga villa tersebut sembari menunjukkan apa yang mereka bawa.


''Baik Pak, dipersiapkan saja.'' balas Edgar.


Pegawai villa itu menyusun menu-menu makanan dan minuman ke dalam keranjang agar terlihat cantik.


''Apakah Tuan dan Nona memerlukan dokumentasi? Karena sangat disayangkan momen romantis seperti ini hanya berbentuk cerita tanpa bukti.'' tanya penjaga villa menawarkan jasa.


''Boleh.'' jawab Edgar.


Mentari mengernyitkan keningnya, namun, melihat kode yang ditunjukkan oleh Edgar sepertinya ia harus nurut.


Selain dipercaya menjaga villa ini, pria tersebut ternyata juga piawai dalam hal fotografi.


''Kami permisi Tuan, Nona.. selamat menikmati.'' ucapnya.


''Terimakasih Pak..''


Kedua pria tersebut sudah berpamitan dan meninggalkan sepasang suami istri ini.


''Ayo kita sarapan dulu, sudah lapar kan?'' tanya Edgar.


Mentari mengangguk.


Keduanya kembali duduk di dudukan yang ada di pinggiran kolam menikmati sarapan terapungnya. Meskipun sempat gugup karena tadi kepergok hampir ciuman ditempat ini.


Uhuk uhuk


''Pelan-pelan, Mentari.'' Edgar menyodorkan air minum saat Mentari terbatuk-batuk.


Tanpa menjawab terlebih dulu, Mentari langsung menerima minum dan menenggaknya hingga terasa lebih lega di tenggorokannya.

__ADS_1


''Terimakasih Tuan.'' ucap Mentari.


Edgar tersenyum, ia mengusapkan satu jarinya pada sudut bibir Mentari karena ada sisa saus sandwich disana.


__ADS_2