Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 75 : Elangku Mau Masuk Kandang


__ADS_3

Edgar membantu Mentari membereskan meja makan, membawa peralatan yang kotor ke wastafel. Mentari yang mencucinya disana, sedangkan Edgar membersihkan meja agar kembali kinclong. Hal seperti ini ternyata membuat Edgar sangat menyukainya, ketika suami istri saling bekerja sama.


Edgar memperhatikan Mentari yang sedang mencuci piring, ia pun mendekatinya lalu memeluk dari belakang. Mentari langsung menoleh mendapati suaminya yang tengah mengulum senyumnya.


''Sudah selesai?'' tanya Edgar.


''Ah, sudah, Mas.. cuma sedikit.'' jawab Mentari.


Setelah mengeringkan tangannya, Mentari memutar tubuhnya menghadap Edgar.


Edgar sedikit merendahkan badannya, menyatukan kedua tangannya, lalu mengangkat bok*ng sang istri, sehingga Mentari pun langsung mengalungkan tangannya di leher Edgar dan menyatukan kedua kakinya dibelakang punggung suaminya agar tidak jatuh.


Tanpa pikir panjang, Edgar langsung menyambar bibir Mentari dan memainkannya dengan lembut. Mentari pun terbawa oleh permainan Edgar, ia membalasnya sehingga ciiuman itu semakin dalam dan menuntut lebih.


Edgar menurunkan Mentari di meja, melepaskan pertautannya karena Mentari sudah kehabisan nafas.


''Buahnya belum dimakan, Mas.''


Saat sorot matanya menatap kulkas, Mentari langsung teringat jika didalam sana terdapat buah yang sudah dipersiapkan oleh Edgar tadi sore.


''Oh iya, lupa..''


Edgar langsung mengambilnya.


''Kita makan disana ya, sayang..'' tunjuk Edgar pada sofa.


Mentari menjawab dengan anggukan, Edgar langsung menurunkan Mentari dari meja.


Seakan masih ingin bermesraan, Edgar tak mau berjarak dengan Mentari. Di sofa keduanya duduk dalam posisi yang nempel.


Edgar menyandarkan Mentari pada bahunya dan ia yang menyuapi sang istri, meskipun Mentari ingin makan sendiri, tetapi Edgar tidak menerima suatu bantahan, apalagi penolakan.


''Minggu depan kita berangkat.'' ujar Edgar.


Mentari mengernyitkan keningnya.


''Kemana?''


''Jalan-jalan kesini..'' Edgar menunjukkan sebuah foto-foto yang ada di ponselnya.


''OMG, my dream....'' gumam Mentari dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Edgar menyimpulkan senyumnya mendengar gumaman Mentari.

__ADS_1


''Ini serius, Mas?'' tanya Mentari mencoba menutupi rasa antusiasnya.


Edgar semakin mendekatkan wajahnya pada Mentari.


''Apakah seorang Edgar Raymond memiliki tampang yang suka berbohong?'' tanyanya dengan sedikit nada yang sombong.


''Iya.'' jawab Mentari cepat dan singkat.


''Kamu lupa ya Mas? tadi kamu bilang belum selesai ngupas buah, ternyata sudah. Terus kamu ngerjain aku soal masakan tadi.'' terang Mentari.


Edgar terkekeh mendengar Mentari, benar-benar kalau wanita adalah pengingat yang handal.


''Haha beda kasus, sayang..''


Edgar membujuk istrinya yang sedikit cemberut karena mengingat kejahilannya.


''Sama aja.'' ujar Mentari.


''Maafin aku ya..'' ucap Edgar.


''Maafin nggak ya..''


''Maafin dong.. please...'' Edgar menangkupkan kedua tangannya memohon.


''Jangan diulangi.'' ujar Mentari dengan mengangkat jari kelingkingnya.


''Janji.. kalau nggak khilaf.'' goda Edgar lagi.


''Maasss...!!''


Mentari langsung bangkit dan memberikan pukulan-pukulan yang membuat Edgar tertawa.


Sepertinya kemarahan Mentari juga tidak serius, apalagi saat Edgar membalas dengan memberikan gelitikan pelan yang membuat Mentari kegelian sehingga tidak mampu berbuat apa-apa kecuali menutup perutnya dan tertawa.


''Elangku mau masuk kandang..'' bisik Edgar saat gelitikan yang ia berikan membuat Mentari terjatuh di sofa, sehingga membuat posisi Edgar berada diatasnya dan mengungkung tubuh sang istri.


Bisikan Edgar yang disertai deru nafas yang ia hembuskan di telinga Mentari membuat wajah pemiliknya langsung merona.


Edgar menggigit kecil telinga Mentari, lalu menyusuri leher dengan ciiuman-ciiuman yang lembut, sehingga membuat sekujur tubuh Mentari merasakan hal yang berbeda.


Mentari hanya mengenakan dress rumahan dengan panjang dibawah lutut. Saat ia terjatuh di sofa tentu saja membuat baju yang ia kenakan terangkat, sehingga memudahkan tangan Edgar untuk menyusuri yang ada di dalam sana.


''Basah, sayang..'' bisik Edgar.

__ADS_1


Mentari yang memejamkan kedua matanya menikmati setiap sentuhan itu dengan bibir yang merekat kuat karena masih tersadar malu untuk mengeluarkan suara. Namun, mendengar bisikan Edgar membuat kedua mata Mentari terbuka.


Tanpa pikir panjang, Edgar langsung turun dari sofa, membopong tubuh Mentari dengan mudah, lalu membawa ke dalam kamar agar lebih leluasa dalam melakukan olahraga malam, yaitu memasukkan elang ke dalam kandangnya.


Edgar langsung menanggalkan semua pakaian yang menempel ditubuhnya, lalu mencium bibir Mentari dengan rakus. Karena sudah sama-sama panas dan terpancing, Mentari pun membiarkan suaminya membuka apa yang ia kenakan.


''Eemmhh''


Akhirnya Mentari kembali meloloskan suaranya yang sedari tadi masih bisa ia tahan.


''Sayaang..''


Edgar semakin terpacu menggiring elangnya.


Mentari yang sudah merasakan semakin dalam, menekan rambut Edgar.


Daannn... elang pun berhasil masuk ke dalam kandangnya dengan sempurna hingga membuat pemiliknya menarik nafas panjang.


''Sekarang gantian kamu yang mengendalikanku, sayang..''


Edgar merubah posisinya dengan telentang, dan Mentari yang berada dalam pelukannya tentu saja ikut berubah menjadi diatasnya.


Peluh keringat akibat menggiring elang pun sudah menetes pada kulit-kulit yang terekspos dengan jelas itu.


Sepertinya rasa malu yang ada pada diri Mentari sudah teralihkan, ia pun menuruti apa yang diminta oleh sang suami.


''Manjakan elangku, sayang..''


Permainan dibawah kendali Mentari pun dimulai, Edgar menikmatinya dengan sedikit mulut terbuka, tangannya pun juga tidak menganggur begitu saja, sedari tadi memainkan dua biji boba yang ada didepannya.


Mentari akhirnya kelelahan, ia ambruk di atas tubuh Edgar tanpa melepaskan apa yang sudah menyatu.


''Mas.. lelah'' ucapnya lirih.


Edgar tersenyum, keduanya sama-sama sudah lelah.


''Terimakasih istriku.'' ucap Edgar lalu mencium kening Mentari.


Edgar membaringkan tubuh Mentari di sampingnya, menyudahi permainan malam ini.


Bibir Edgar tidak henti-hentinya mengulum senyum sembari menatap Mentari. Sedangkan yang ditatap kembali merasa malu saat mengingat permainan yang baru mereka lakukan.


''Aku mempercayakanmu menjadi ibu dari anak-anakku kelak.'' ucap Edgar.

__ADS_1


''Aku juga mempercayakanmu menjadi ayah dari anak-anakku kelak, Mas.'' balas Mentari.


__ADS_2