
Sudah waktunya untuk kembali ke kota. Semuanya pun sudah masuk ke dalam private jet, dan menempati kursinya masing-masing. Tidak terasa perjalanan ini sangat singkat, namun, sangat bermakna.
Beberapa saat kemudian, pilot private jet tersebut berhasil mendaratkan jet dengan baik. Penerbangan berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun.
''Kalian akan langsung ke kantor, 'kan?'' tanya tuan Erick pada Jimmy dan Edgar.
''Iya, Pi.'' jawab Edgar.
''Iya, Tuan.'' jawab Jimmy.
''Papi istirahat saja di rumah.'' ujar Edgar.
''Ya, Papi serahkan sama kalian.'' ujar tuan Erick yang hendak langsung kembali ke rumah dengan istri dan anak-anaknya.
Setelah hasil peresmian kemarin, di kantor pusat Raymond langsung dilakukan meeting pada siang menjelang sore hari ini juga.
Setelah meeting selesai, Edgar langsung kembali ke ruangannya, di belakangnya tentu saja ada Jimmy.
''Aku mau langsung pulang, Jim. Sebentar lagi juga waktunya jam pulang kantor.'' ujar Edgar.
Jimmy langsung mengangguk dan Edgar juga langsung berbalik badan meninggalkan Jimmy.
''Ehm, Tuan..,'' panggil Jimmy sedikit ragu.
Baru dua langkah kaki panjang Edgar itu bergerak, ia pun langsung menghentikannya setelah mendengar Jimmy memanggilnya.
''Hmm, ada apa?'' selidik Edgar.
''Maaf Tuan, sebelum Erin kembali ke luar negeri, bolehkah saya mengajaknya untuk pergi makan malam?'' tanya Jimmy dengan hati-hati dan sedikit ragu.
Edgar langsung memberikan tatapan sedikit tajamnya itu, namun, sesaat kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam.
''Kapan?'' tanya Edgar dengan nada suara yang santai.
Jimmy langsung tersenyum karena tidak mendapatkan respon yang sensitif.
''Jika diizinkan rencananya besok, Tuan. Saya juga akan izin sama tuan Erick terlebih dahulu jika memang anda memberikan izin.'' balas Jimmy.
__ADS_1
Edgar tampak memikirkan rencana yang diutarakan oleh Jimmy itu.
''Ya, besok datanglah ke rumah untuk izin sama papi dan mami.'' balas Edgar.
Jimmy tersenyum lebar, harapannya semakin cerah. Saking senangnya, ia ingin memeluk Edgar dan mengucapkan terima kasih. Tetapi rasanya lebih baik hal itu tidak perlu dilakukan, karena bisa memancing pikiran negatif orang-orang yang melihatnya.
''Terima kasih, Tuan.'' ucap Jimmy masih dengan senyum yang tergambar.
''Hmm.'' jawab Edgar singkat.
Jimmy masih bertahan di kantor, ia langsung masuk ke ruangannya ketika Edgar sudah pergi lebih dulu. Dan senyum lebarnya itu tak hilang-hilang dari bibirnya. Begitu sangat menggambarkan bagaimana perasaannya yang kini tengah bahagia.
Sedangkan Edgar setelah memberikan izin pada Jimmy, ia ke ruangannya sebentar mengambil barang-barang disana, lalu langsung kembali ke rumah.
Saat tiba di rumah, ia melihat keluarganya yang tengah bersantai di gazebo kayu yang ada di halaman samping rumah. Terlihat sangat bahagia sekali karena suara tawa itu terdengar begitu jelas. Ia langsung menghampiri mereka begitu turun dari mobil.
''Wahh seru nih kayaknya.'' sapa Edgar yang langsung memberikan kecupan manis di kening Mentari, tanpa mempedulikan ada keluarganya.
Padahal Mentari sudah lebih dulu mengulurkan tangannya, tetapi Edgar malah langsung ke arah lain sehingga membuat Mentari melotot karena di hadapannya ada keluarga.
''Apa?!'' pekik Edgar.
''Ehehehe, bukan apa-apa, Kakak romantis sekali.'' jawab Erin yang nyalinya sudah menciut.
Maksud Erin adalah Edgar menjadi inspirasinya untuk memberikan ciiuman terlebih dahulu kepada pasangan. Yaaahh, memang berbeda dan wajar kalau Edgar akan marah kalau sang adik akan melakukan hal memalukan itu lagi, karena Erin dan Jimmy belum menjadi pasangan yang sah.
''Mandi dulu gih, sudah aku siapkan baju gantinya.'' suruh Mentari agar percekcokan antara kakak dan adik itu tidak berlanjut.
''Kamu nggak ikut aku ke atas, sayang?'' balas Edgar dengan manja.
''Ya ampun, Naak ... apa istrimu harus memandikanmu? mau dipakaikan baju juga? dibedakin? di kasih minyak telon juga bila perlu?'' sahut mami.
Buahahaha
Erin langsung melepaskan tawanya dengan puas. Tak ada seseorang yang membuatnya harus menjaga image. Benar-benar puas dengan suara aslinya.
''Baby Edgar, ututututu sayaaang, hahaha.'' ledek Erin semakin tertawa puas.
__ADS_1
Mentari dan tuan Erick juga ingin melepaskan tawanya, tetapi masih bisa ditahan dengan menutup mulutnya.
''Huuuu dasar durhaka lu sama Kakak!!'' protes Edgar yang langsung menyerang sang adik dengan sikap andalannya yaitu mengacak-acak rambut Erin dengan brutal.
''KAKAAKKK!!!!'' seru Erin berusaha menahan tangan Edgar.
''Hahahahaha jelek banget!! ih-iiiih boleh di foto nih kirimkan ke Jimmy, hahaha''
''KAKAK JANGAN ANEH-ANEH!!'' seru Erin.
''KAK EDGAR!!!'' seru Erin yang langsung turun dari gazebo untuk mengejar sang kakak yang berusaha menjauhkan diri.
Papi, mami, dan Mentari hanya menggeleng melihat kelakuan duo kakak beradik itu. Tapi, hal itu ternyata lebih baik daripada harus diam-diaman.
Edgar langsung bergerak cepat merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya, dan dengan sigap membuka menu kamera. Dengan suara tawa dan atraksi kejar-kejaran bersama sang adik, ia sembari merekamnya.
''JIM! PACARMU, JIIMM!! HAHAHA''
''KAKAK!!''
''BAWA SINI NGGAK HPNYA?!!'' paksa Erin.
''No, no, nooo!!'' jawab Edgar dengan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi agar Erin kesulitan untuk menjangkau.
Meskipun Erin tergolong memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, tapi, jelas saja Edgar lebih tinggi lagi darinya.
''Lho, Jimmy?!'' pekik Edgar dengan tatapan seriusnya mengarah ke gerbang masuk.
Erin yang sedang berusaha merebut ponsel Edgar pun langsung menurunkan tangannya dan ikut menatap arah bola mata sang kakak.
Buahahaha
''DAAAAAAAAAA.'' seru Edgar sembari berlari menuju ke dalam rumah.
''KAK EDGAR AWAS YA!!!'' ancam Erin lalu menghembuskan nafas kasar ke udara.
Edgar berhasil meloloskan diri dari kejaran sang adik. Berkat dari kebohongannya dengan seolah-olah Jimmy datang, padahal pak Dar yang baru saja lewat untuk menaruh kantong sampah di depan.
__ADS_1