Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 192 : Tanda Permainan Kembali di Mulai


__ADS_3

Mentari menghentikan langkahnya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Beberapa perubahan sudah terjadi dirumahnya ini. Namun, tetap tidak menghilangkan nilai aslinya.


Pertemuannya dengan para tetangga membuat rindu Mentari terobati. Tadi ada yang menghampirinya dengan mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Karena pernikahannya dengan tuan Edgar Raymond memberikan dampak positif bagi lingkungan rumah lama Mentari.


Sekarang tinggal rencana pelebaran gang tersebut yang hendak diupayakan oleh Edgar, supaya aksesnya tidak akan mengalami kesulitan.


Edgar juga memperhatikan, bukan hanya dirinya yang kesulitan, tetapi bagi warga setempat pun juga mengakui dengan sempitnya gang tersebut menyulitkan bagi warga yang membawa sesuatu yang berat dan seharusnya di angkut menggunakan mobil, tetapi karena jalannya yang tidak bisa di lalui kendaraan roda empat, akhirnya terpaksa harus menggunakan sepeda motor. Kendaraan sedikit lebih lebar mungkin hanya motor yang memiliki bak, itupun kesulitan saat bersimpangan dengan kendaraan lain.


''Kok berhenti, sayang? ayo masuk.'' ajak Edgar.


''Iya Mas.'' jawabnya.


''Bu, kami istirahat dulu ya.'' pamit Mentari ketika berpapasan dengan bu Titi di ruang tengah.


''Oh, iya, Non. Silahkan.'' jawabnya.


Mentari tersenyum.


''Ibu juga jangan malam-malam ya tidurnya, jaga kesehatan.''


''Terima kasih, Non.'' ucap bu Titi.


Mentari mengangguk dan tersenyum.


Di dalam kamar, keduanya sudah siap untuk beristirahat. Karena hari ini melelahkan bagi Mentari.


Kebiasaan Mentari sebelum tidur adalah menyisir rambutnya. Ia yang sudah berganti baju tidur pun duduk di kursi menghadap kaca riasnya yang lama tak terpakai itu.


Sedangkan Edgar yang menunggu selesainya Mentari dengan duduk di sisi ranjang pun langsung menelan salivanya melihat leher mulus sang istri.


''Apa kamu sengaja menggodaku, hem?'' bisik Edgar yang sudah memeluk Mentari dari belakang.

__ADS_1


''Siapa yang menggodamu, Mas?''


''Suka kepedean.'' protes Mentari.


''Ini, ummm.''


Edgar menelusuri leher sang istri dengan hidung mancungnya, seketika membuat Mentari merinding.


''Anak-anak kita pasti merindukan Papanya, sayang.'' bisik Edgar dengan senyum yang penuh arti.


Tanpa berpikir panjang, Edgar langsung mengangkat tubuh Mentari dengan hati-hati. Ia menurunkan tubuh Mentari di atas ranjang.


''Sebenarnya aku tuh masih marah sama kamu, Mas!'' adu Mentari.


Edgar yang masih melanjutkan aksinya pun seketika langsung terhenti. ''Marah kenapa?'' tanyanya.


''Bisa-bisanya tadi kamu bilang kalau aku waktu itu sangat mencintaimu juga. Mana ada begitu?''


Edgar langsung tidak bisa menahan gelak tawanya. Aksinya pun sampai terhenti dan ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri sembari memeluk.


''Memangnya aku harus bilang gimana?''


''Nggak tau.''


''Tapi, aku beneran lagi ngambek!'' ujar Mentari dengan bibir manyun.


''Ohhhh, jadi dari tadi istriku itu lagi ngambek?? iya?? hmmmm, cantiknya kalau manyun gitu.''


Mentari langsung melengos.


''Jadiiiii, pengin ku makan.'' bisik Edgar dengan suara yang menggoda.

__ADS_1


Rupanya Mentari sangat sulit mau melanjutkan aksi ngambeknya. Apalagi dengan upaya yang dilakukan oleh Edgar untuk menggoda terus menerus.


''Aku mau tidur.'' ujar Mentari masih berusaha mempertahankan ngambeknya. Ia pun langsung membelakangi Edgar.


Edgar mengulum senyumnya sembari mencari ide-ide agar bisa menggiring elangnya masuk ke dalam kandangnya.


''Aaaaaa! Mas Edgar!'' pekik Mentari.


Edgar terkekeh kecil karena jari-jarinya yang nakal membuat Mentari langsung membalikkan badannya menghadap sang suami.


''Nggak boleh ganggu bumil lagi ngambek!'' protes Mentari.


Edgar menahan tawanya, mana ada orang ngambek tapi, terang-terangan.


''Istriku ... lihatlah sesuatu yang ada disana. Ketahuilah bahwa dirinya sangat ingin ..,'' ujar Edgar menggantung.


Mentari mengikuti arah mata Edgar. Lalu kembali menatap wajah sang suami yang sedang menatapnya penuh kemauan.


''Kamu mes*m banget sih, Mas! hahaha''


Akhirnya tawa Mentari pun tak tertahankan lagi saat melihat ekspresi wajah sang suami.


''Nggak serius ngambek 'kan?''


Mentari menggeleng pelan dengan senyum manisnya, kedua pipinya semakin mengembang jika tengah tersenyum. Hal itu membuat Edgar semakin gemas.


''Anggap saja kita sedang mengulang momen malam pertama kita waktu menjadi pengantin baru.'' bisik Edgar.


Edgar kembali melanjutkan aksinya yang sempat terhenti karena drama ngambek sang istri.


Karena senyuman itu, tanda permainan kembali di mulai dengan tema utama yaitu elang masuk kandang.

__ADS_1


__ADS_2