Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 290 : Aku Baru Bisa Mewujudkannya


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Edgar tidak langsung keluar dari mobil. Ia berdiam diri sejenak, berusaha menenangkan perasaan dan otaknya. Ia tidak ingin sikapnya itu membuat Mentari khawatir. Berkali-kali ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Maaf ya, sayang, aku baru bisa mewujudkannya sekarang setelah perjalanan kita sudah sejauh ini." gumam Edgar disertai senyuman tipis.


"Maaf, aku tidak bergerak lebih cepat." sambungnya.


Edgar menghembuskan nafas lagi, lalu keluar dari mobil.


''Lho, Mas? kok sudah pulang?'' tanya Mentari yang mendengar suara suaminya saat ia tengah di dapur. Ia pun langsung bergegas ke depan untuk memastikan.


Seperti biasa, Mentari mencium punggung tangan suaminya, yang kemudian Edgar mencium kening Mentari beberapa detik.


"Iya, aku kangen sama kamu.'' bisik Edgar yang membuat Mentari tersipu malu.


Pasangan suami istri itu langsung ke kamar. Setibanya di kamar, Edgar melepaskan pakaiannya, sementara Mentari membuatkan minuman hangat untuk sang suami yang pastinya lelah.


''Terima kasih, sayang.'' ucap Edgar yang sudah duduk di balkon itu.


''Sama-sama, suamiku.'' balas Mentari yang ikut duduk di sana.


Edgar hanya tersenyum, lalu menatap ke udara, kembali lagi menatap sang istri, dan kembali lagi menatap lurus ke depan sembari menghembuskan nafasnya.


Tidak biasa. Mentari langsung mengernyitkan keningnya melihat hal yang tidak biasa dari suaminya itu.


''Mas, kamu ada masalah?'' tebak Mentari.


Edgar tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh sembari tersenyum. Kemudian ia menggeser duduknya dan langsung memeluk sang istri dengan erat. Hal itu semakin membuat Mentari bingung dan bertanya-tanya.


''Mas, kamu kenapa sih?'' tanya Mentari yang semakin dibuat penasaran dengan sikap suaminya itu.


Edgar masih belum menjawab, ia justru semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi pundak sang istri.


"Setelah ku pahami, memang ada kemiripan dari mereka. Bahkan mereka memiliki dua tahi lalat di tempat yang sama." bathin Edgar setelah mengurai pelukannya.

__ADS_1


Tahi lalat yang berukuran kecil itu tumbuh di pipi kanan dan juga telinga.


"Sayang.'' panggil Edgar lirih.


Mentari menatap wajah suaminya, lalu menatap lekat kedua bola mata Edgar.


''Emm, sayang, aku mau bertanya sesuatu sama kamu." Edgar menarik nafas panjang.


"Apa yang kamu lakukan jika suatu saat nanti, kamu dipertemukan dengan bapakmu?'' tanya Edgar dengan menatap lekat sang istri. Kedua tangannya memegang bahu Mentari.


Mentari pun tidak langsung menjawab, ia menatap wajah suaminya. Semakin lama, kedua bola matanya berembun.


"Ba-pak?'' lirihnya dengan suara yang bergetar.


Edgar mengangguk.


"Apa kamu sudah bertemu dengan bapakku, Mas?'' tanya Mentari.


Tidak mungkin sebuah pertanyaan yang sensitif itu Edgar lontarkan jika belum ada tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya. Mentari menunggu jawaban dari suaminya.


"Maafkan aku, sayang." ucap Edgar.


Mentari langsung menangis terisak-isak di dalam pelukan suaminya itu.


Edgar mencoba menenangkan Mentari yang masih menangis. Belum tepat untuknya melanjutkan bicara.


Setelah cukup lebih baik, meskipun suara tangis itu masih ada. Mentari mengurai pelukan suaminya.


"Sejak kapan kalian bertemu?''


"Apakah kamu yakin Mas, kalau itu benar-benar bapakku?'' tanya Mentari.


"Antara yakin dan tidak, sayang ... karena memang tidak ada bukti yang menguatkan selain kemiripan diantara kalian, dan fo-to.''

__ADS_1


Edgar langsung teringat, ia membawa foto itu di dalam tasnya.


"Sebentar ya, sayang.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk, ia mengusap sisa air matanya dengan punggung jari-jari tangan ketika Edgar sedang berada di dalam kamar.


Tak lama kemudian, Edgar kembali ke balkon dengan membawa selembar foto.


''Foto ini yang dia berikan ke Jimmy.'' ujar Edgar.


Mentari menerima foto itu. Pasangan pengantin yang sederhana pada tahun 90-an. Tangan Mentari langsung bergetar, ia belum pernah melihatnya sama sekali. Kekecewaan yang dirasakan ibunya benar-benar sangat besar sehingga menghilangkan semua kenangan itu.


''Kenapa perasaanku berkata bahwa ini semua benar, Mas?'' gumam Mentari yang menatap suaminya.


Edgar mengangguk, ''Aku juga merasakan hal yang sama, sayang.''


''Dia adalah pria yang ku temui di taman bersama Erin waktu itu.'' ungkap Edgar.


"Yang katamu dia menghindarimu, Mas?'' tanya Mentari.


Edgar mengangguk lagi.


"Dari situ rasa penasaranku sangat besar. Jimmy yang bekerja keras untuk menemuinya.'' jelas Edgar.


''Sekarang beliau ada dimana?'' tanya Mentari.


"Di rumah sakit, sayang. Kita sudah membuat keamanan disana supaya tidak lari.'' jawab Edgar.


Mentari menunduk dalam sembari menatap foto itu, ia mengusapnya dengan ibu jari.


"Dan ada hal yang dia sampaikan.'' ujar Edgar langsung membuat Mentari menatapnya.


''Dia bilang, sudah beberapa kali mengikuti kamu secara diam-diam. Dari penuturannya, dia tau pernikahan kamu dengan mantan kamu, sampai pernikahan kita."

__ADS_1


"Apa??'' pekik Mentari.


__ADS_2