Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 105 : Bu Bos


__ADS_3

Rita begitu bahagia ketika sampai dirumahnya ada paketan datang. Setelah dibuka, ternyata isinya oleh-oleh dari Mentari. Meskipun mereka sudah tak sedekat dulu, tetapi keduanya masih kerap berkomunikasi begitu Edgar memberikan izin. Karena tak ada alasan untuk melarang Mentari dan Rita putus komunikasi.


Edgar sudah mencari tahu sosok Rita. Gadis itu dapat di percaya untuk menjadi seseorang yang sekedar teman oleh sang istri.


''Uhh Ghadira Mentari, sayangku.. eh bu bosku.. makasih banyak.''


Rita mencari nomor Mentari di ponselnya. Diletakkannya kotak paket tersebut disebelahnya, ia mengetik pesan untuk mengucapkan terimakasih kepada Mentari.


^^Buu bos, terimakasih banyak ya buat oleh-olehnya. Aku sudah menerima dan suka banget.^^


Rita mengirimkan pesan tersebut. Langsung terkirim, tapi, belum ada tanda langsung dibaca.


''Pasti tuan Edgar sudah pulang, jadinya bu bos menyambut kedatangan suami tercinta.'' gumam Rita membayangkan bosnya dan Mentari bermesraan. Ia terbuai oleh khayalannya sendiri.


Pug! pug!


Rita menepuk sisi kepalanya sendiri agar tersadar dan kembali ke dunia nyata yang ada di hadapannya.


''Nasib jomblo, bisanya cuma mengkhayal kehidupan orang. Heuuumm..'' gerutunya.


Rita melangkah lesu, menyimpan paket kiriman dari Mentari ke dalam lemarinya.


Baru saja meletakkan kotak tersebut, ponselnya berdering. Tertera dilayar yang bernama ''Bu Bos Ghadira Mentari''


Tak perlu pikir panjang, Rita langsung menyambar ponselnya dengan cepat untuk menjawab telepon masuk dari Mentari.


''Hallo Rita nggak pakai Sugiarto.'' sapa Mentari.

__ADS_1


''Ah Bu bos bisa aja, saya jadi malu.'' balas Rita.


''Apasih Ritaa.. nggak usah gitu manggilnya.''


''Dan apa tadi, saya saya.. nggak perlu berubah juga.'' protes Mentari.


''Haha.. galaknya Bu bosku satu ini.'' goda Rita.


Dalam sambungan video call itu keduanya melepas rindu. Meskipun usia sudah dewasa, keduanya sering terlibat perdebatan dan candaan yang seperti anak kecil ketika masih sering bersama dulu.


''Btw, terimakasih ya..'' ucap Rita.


''Sama-sama, maaf lho baru dikirim, padahal sudah seminggu lebih aku pulangnya.'' ujar Mentari.


''Aduh nggak papa kali Bu bos. Lagian ini kejutan banget tiba-tiba ada paket datang.''


Rita langsung tertawa keras.


''Aku jadi ingat, dulu kamu bilang nggak akan tertarik sama CEO baru. Ah padahal dulu aku langsung jatuh cinta sama CEO, eh malah kecantolnya sama kamu, Dira Mentariiii. Sakit hatiku, sakiiiittt..'' Rita berbicara penuh ekspresi sembari memegangi dadanya.


Mentari tau jika Rita sedang bergurau. Teman baiknya ini memang masih tetap sama, setiap laki-laki tampan yang ia jumpai langsung menjadi idolanya.


''Minum obat dulu, Ritaa..''


''Haha udah minum, eh Mentari, Bu bosku, kenapa sih dulu nggak tertarik sama tuan Edgar?'' tanya Rita penasaran. Apalagi pernikahan Mentari dengan Edgar yang terkesan dadakan dan mengejutkan banyak pihak ini masih menyimpan banyak tanda tanya.


Mentari melongok ke belakang, memastikan suaminya tidak berada disekitarnya.

__ADS_1


''Kamu tau sendiri kan dulu seperti apa. Tatapannya aja seperti mau makan orang, tampan sih iya, tapi, menakutkan. Hih ngeri..'' Mentari menaikturunkan bahunya ketika membayangkan awal-awal pertemuannya dengan sang suami. Ia berbicara sedikit berbisik.


''Sekarang?'' Rita menautkan kedua alisnya penasaran. Padahal setahunya, sampai saat ini pun masih seperti itu sosok Edgar Raymond ketika sedang dilingkungan perusahaan.


Rita pun semakin membayangkan bagaimana sosok Edgar ketika sedang tidak berada dilingkungan perusahaan. Apakah Edgar merupakan sosok pria romantis, atau pria cuek yang tidak peka terhadap keinginan pasangannya.


Lagi-lagi Rita langsung menepuk kepalanya sendiri untuk menepis semua bayangan yang seharusnya tidak ia bayangkan itu.


''Aku kangen banget sama kamu, Dir.. apalagi saat kita makan nasi padang.'' ungkap Rita sendu.


''Eh maksudku Mentari.'' sambung Rita.


Mentari tertawa kecil.


''Nggak papa, Rit. Aku juga masih suka lupa kalau nama panggilanku sudah di ubah.'' balas Mentari.


''Aku juga rindu momen itu, Rit. Tapi, maaf ya pasti kamu kecewa karena jawabanku nggak sesuai sama harapanmu.'' balas Mentari.


''It's okay, aku mengerti, sayangku.. menjadi istri bos itu tidak mudah. Aku bersyukur kamu sangat disayangi oleh tuan Edgar.''


Mentari tersenyum, senyumnya indah memenuhi layar ponsel Rita.


''Aku juga mengharapkan kamu akan disayangi oleh pria yang tepat.'' balas Mentari.


''AAMIIN!!!'' seru Rita semangat.


Obrolan itu hanya berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit. Mentari dan Rita menyudahi sambungan video call lalu kembali ke dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2