Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 175 : Hasil Karyaku Ada Disini


__ADS_3

Jimmy tersenyum tipis mendengar pujian dari nyonya Neeta.


''Acara akan mulai sebentar lagi, ayo masuk.'' ajak nyonya Neeta.


Jimmy tidak langsung mengiyakan.


''Mohon maaf, Tuan.. Nyonya.''


Tuan Erick dan nyonya Neeta pun langsung menunda langkahnya juga.


''Ada apa, Jim?'' tanya tuan Erick.


''E ... ada hal yang dipesankan oleh nona Mentari kepada saya, bahwa nona Erin tidak boleh melihat saya terlebih dahulu. Jadi meminta saya untuk tidak bergabung bersama kalian. Saya akan masuk ke dalam setelah beberapa menit acara di mulai.'' jelas Jimmy.


''Ohh, baiklah ... sepertinya menantuku sangat ingin memberikan kejutan untuk adiknya.'' balas nyonya Neeta.


Jimmy tersenyum.


''Bener, Nyonya. Seperti itu yang diinginkan oleh nona Mentari.''


Tuan Erick dan nyonya Neeta pun mengerti. Mereka juga mempercayai bahwa itu benar-benar rencana yang diminta oleh anak menantunya yang sedang mengandung. Bisa jadi itu bagian dari ngidam.


Tuan Erick dan nyonya Neeta masuk ke dalam lebih dulu. Bersama dengan para anggota keluarga calon wisudawan dan wisudawati yang sebentar lagi akan berlangsung.


Jimmy menatap tempat berlangsungnya acara dari luar. Tempat yang sama saat dirinya menyandang gelar sarjana beberapa tahun yang lalu. Sudut bibirnya pun membentuk sebuah senyuman ketika mengamati banyak hal yang sudah jauh lebih baik


Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat itu. Ia menatap ke sekitarnya, dan melihat di antara para calon wisudawan dan wisudawati. Seseorang yang sedang ia cari tengah duduk di barisan nomor dua dari depan. Gadis itu sedang berbincang dengan teman disebelahnya.


''Cantik sekali.'' puji Jimmy dalam hati.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian acara di mulai. Jimmy menyimak setiap kalimat yang ia dengar. Hingga pada saat yang sangat membahagiakan ketika mendengar nama Erinka yang mendapatkan predikat cumlaude.


Mentari hampir saja terjengkang saat mendapatkan pesan dari Jimmy, untung saja kursi itu memiliki sandaran. Pesan itu berisikan sebuah video yang dimana Erin sedang bahagia dengan predikat cumlaude yang diraihnya.


''Eriiinnn! Kakak sangat bangga dengan kamu, sayang! i love you!!!'' seru Mentari di balkon.


Mentari melanjutkan pesan itu kepada suaminya. Namun, sepertinya Edgar tengah sibuk sehingga belum ada tanda-tanda pesannya sudah dibaca, apalagi akan segera dibalas.


Mentari tak mempermasalahkan hal itu, karena harus memahami kesibukan Edgar yang bertambah karena ditinggal sementara oleh Jimmy. Dan hal yang paling utama adalah yang membuat situasinya seperti ini juga karena idenya.


''Papa pasti lagi sibuk sekali ya, Nak.'' ujar Mentari.


Mentari mengusap lembut perutnya.


''Papa ada disini.''


''Mas? sudah pulang?'' tanya Mentari heran.


Mentari hendak berdiri, tetapi bahunya langsung ditahan oleh Edgar agar tetap duduk di sana.


''Iya, sayang. Baru saja kok.'' jawab Edgar.


"Kamu duduk saja disini." imbuhnya.


Edgar mengulurkan tangannya terlebih dulu dan langsung disambut oleh Mentari. Seperti biasanya, Mentari menciium punggung tangan suaminya.


Edgar menciium kening Mentari lalu pergerakan itu semakin kebawah, dan berakhir di perut sang istri.


''Papa sengaja mempercepat pekerjaan hari ini. Kita sama-sama merasakan bahagia atas pencapaian aunty Erin.''

__ADS_1


Setelah mengatakan itu pada bayi yang masih didalam kandungan sang istri, Edgar menciium perut Mentari lalu mengusapnya.


''Hasil karyaku ada disini, nih.'' celetuk Edgar dengan bangga.


''Kita berdua!'' protes Mentari.


Edgar terkekeh karena Mentari melakukan protesnya.


''Yuk berkarya lagi.'' goda Edgar.


''Langsung mesum sekali andaaa.'' balas Mentari langsung melengos.


Edgar kembali tertawa keras.


''Maaf, tadi masih di perjalanan.''


Mentari tersenyum, Edgar langsung menarik kursi lainnya untuk ia bawa ke hadapan Mentari.


''Jimmy mengirimimu video itu?'' tanya Edgar.


''Hu'um, Mas. Aku yang meminta itu, jadi jangan marah apalagi cemburu soal ini.'' jelas Mentari sebelum hal yang ia khawatirkan akan terjadi, yaitu suatu kecemburuan.


Edgar mengusap-usap bahu Mentari dengan lembut, lalu membelai rambut sang istri dan ia sembunyikan di belakang telinga.


''Aku tidak marah, kok, sayang. Jangan khawatir soal itu.''


''Tapi, nggak tau juga kalau nanti beda cerita, haha''


''Aku takut kamu marah soal ini, Mas. Kalau mau marah, marah aja langsung ke aku. Jangan ke Jimmy karena dia hanya menjalankan perintah.'' tegas Mentari yang masih was-was.

__ADS_1


__ADS_2