
Edgar masih berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Banyak sekali berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya.
Setelah makan siang nanti, Edgar dan Jimmy sudah memiliki jadwal untuk meeting dengan salah satu perusahaan yang juga memiliki kantor pusat di kota ini.
Drrtt drrtt
Senyum mengembang di wajah Edgar ketika panggilan masuk dari sang istri. Namun, karena itu panggilan telepon biasa membuat Edgar langsung mengalihkan ke panggilan video setelah menjawab telepon itu.
Setelah sama-sama muncul di layar ponselnya masing-masing, keduanya sama-sama saling menunjukkan senyumnya, seperti orang yang sedang kasmaran.
''Masih sibuk ya Mas?'' tanya Mentari dari sambungan video call itu.
''Seperti biasa, sayang. Ya sudah kamu temani aku kerja, biar tambah semangat kerjanya kalau di temani ayang.''
Hahaha
''Mas, kamu okay, kan?'' tanya Mentari setelah berhasil meredam suara tawanya sendiri.
''Hahaha, oke sayang, oke banget.'' jawab Edgar ikut tertawa.
Mentari masih dengan gelak tawanya setelah mendengar sang suami menirukan sebutan yang sedang ramai saat ini.
''Tau dari mana bahasa itu, Mas?''
''Tadi nggak sengaja baca di internet, haha''
Edgar pun merasa geli dengan apa yang sudah terlanjur keluar dari mulutnya itu.
Meskipun tatapan Edgar ke layar ponselnya hanya sesekali karena tengah fokus menatap ke pekerjaan, ia tetap bisa mendengar dan fokus pada keduanya di waktu yang sama.
Kehadiran Mentari di hidupnya yang tanpa pernah ia duga memang memberikan pengaruh dan perubahan, pribadi kulkas lima pintunya kian berkurang, sedikit demi sedikit, ia sudah kembali lebih ceria.
Setelah memastikan perasaannya sendiri saat itu, setiap berada di kantor, dan sang istri di rumah, ia selalu melakukan panggilan telepon. Karena, aktivitas yang ia lakukan di mulai dari pagi hingga sore hari, belum lagi jika mendapatkan jadwal lembur membuatnya selalu merindukan sang istri.
Dengan melakukan panggilan video seperti ini bisa membuat rasa semangatnya lebih meningkat.
''Weekend nanti kita ke villa ya, sayang.'' ajak Edgar.
__ADS_1
Akhirnya selesai juga dengan berkas-berkas yang sedari tadi mengalihkan pandangannya dari sang istri. Edgar merenggangkan otot-otot tangannya, lalu meletakkan pena itu di tempatnya dan fokus ke layar ponsel dengan memandang wajah sang istri yang selalu membuatnya rindu.
''Ikut kemanapun suamiku mengajak.'' jawab Mentari.
''Serius?'' balas Edgar.
''Iya, asalkan ke tempat yang baik.''
Edgar langsung terkekeh dan mendekatkan ponsel yang sedari tadi ia sandarkan.
''Memangnya ada tempat yang nggak baik?'' tanya Edgar.
''Ada, banyak.'' jawab Mentari.
''Contohnya?'' balas Edgar.
''Ya tempat yang di pakai untuk berbuat nggak baik, Mas.''
''Hmmm, iya deh, iya. Btw, tumben nih nelpon dulu, kangen ya?'' goda Edgar.
Biasanya Edgar yang selalu menghubungi terlebih dulu ketika sudah istirahat makan siang, atau di jam kerja tapi, sedang tidak mengerjakan apapun. Mentari pun juga tidak mau mengganggu jadwal pekerjaan suaminya.
''Anak-anak yang kangen sama bapaknya.'' jawab Mentari.
Edgar langsung terkekeh lagi mendengar alasan yang dikatakan oleh Mentari.
''Ah, bisa aja istriku.''
''Jadi, emaknya nggak kangen juga nih?'' goda Edgar.
''Dikiiitt.'' jawab Mentari dengan menunjukkan ujung jari kelingkingnya.
Keduanya kembali tertawa kecil.
°°
Tuan Erick, mami, dan Erin sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Koper-koper yang akan di bawa juga sudah di masukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
''Siapa yang datang? seperti ada suara mobil datang.'' tanya mami.
''Mungkin Jimmy, tadi dia bilang mau menemui Papi sama Mami sebelum kalian berangkat.'' jawab Edgar.
Mentari dan Erin langsung terlibat adu tatap, kemudian Erin langsung membuang pandangannya ke arah lain karena takut ada yang mencurigai sikapnya.
Jimmy masuk dengan pakaian non formal, ia menyapa keluarga bosnya itu dengan ramah.
"Gantengnya pacarku." gumam Erin dalam hati.
Erin menatap kedatangan Jimmy tanpa berkedip, Mentari langsung menyenggol lengan adik iparnya itu agar bisa mengontrol dirinya.
''Sudah mau berangkat?'' tanya Jimmy.
''Iya, Jim. Masih nunggu papi.'' jawab Edgar.
''Ayo berangkat sekarang.'' ujar papi baru muncul.
''Eh, Jim, sudah dari tadi?'' tanya papi ramah.
''Baru saja, Tuan.'' jawab Jimmy.
''Ohh, ya sudah ayo sekalian ikut ke bandara.'' ajak tuan Erick.
''Baik, Tuan.'' jawab Jimmy diikuti anggukan kepala.
Memang tujuan utamanya adalah untuk mengantar kekasih ke bandara, hanya saja ia tidak tau harus bagaimana mengatakan hal itu. Untung saja tuan Erick terlebih dulu mengajaknya.
Senyum Erin langsung mengembang mendengar hal itu.
''Kalau kita satu mobil, kasian Jimmy sendirian.'' ujar Mentari setelah mereka sudah di luar rumah.
Jimmy hanya nyengir tanpa berani mengatakan apapun, sembari menantikan apa respon dari yang lain.
Begitu juga dengan Erin yang diam saja. ''Ayo Kak lanjutkan usahanya untuk adikmu ini, haha.'' bathin Erin.
''Emm, ya sudah Erin temani kak Jimmy.'' suruh mami.
__ADS_1
''Ha?!'' pekik Erin terkejut dari bathinnya.