
Di dalam ruang operasi, Edgar semakin tegang saat melihat perut sang istri sudah mulai di sentuh dengan pisau dan gunting. Edgar pun langsung memejamkan matanya sembari memeluk kepala Mentari.
Edgar dengan perasaannya yang tengah tegang, sementara dokter dan timnya sedang berjuang untuk mengeluarkan bayi-bayi yang berada di perut Mentari. Sedangkan bagian dokumentasi pun tidak ketinggalan bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang bagus.
Edgar spontan mendongak ketika suara tangis bayi mulai terdengar.
''Anakku.''
Edgar langsung mendekati bayi mungil yang kini sudah berada di tangan seorang bidan yang mendampingi dokter. Sementara dokter melanjutkan upayanya untuk mengeluarkan bayi kembarannya.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya bayi kembar itu sudah berhasil dikeluarkan dari perut Mentari.
Edgar langsung menciumi Mentari dengan bertubi-tubi, ia tak peduli dokter dan timnya yang berada di sana. Yang ada justru membuat mereka terbawa perasaan melihat sikap Edgar.
''Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak.'' ucap Edgar
''Anak-anak kita sudah lahir.'' ujar Edgar.
Mentari tersenyum dan mengangguk kecil.
Bayi-bayi itu kini sedang di bersihkan.
Mentari pun menangis, ia juga melihat proses itu. Karena sudah diberikan obat bius, rasa sakitnya tidak terasa.
''Apa aku masih hidup, Mas?'' tanya Mentari.
''Kamu akan selalu hidup bersamaku sampai tua nanti, sayang.'' jawab Edgar.
__ADS_1
Mereka saling menggenggam tangan untuk memberikan kekuatan satu sama lain.
Setelah kedua bayi dibersihkan, Edgar dipersilahkan untuk melantunkan adzan kepada bayinya.
Mentari melihat pemandangan itu dengan rasa yang bahagia. Tangis dari bayi-bayi itu membuatnya tidak sabar untuk menggendong. Kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bayi kembar dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, tidak meleset dari hasil USG selama ini.
Setelah selesai, kedua bayi itu di bawa kepada ibunya, mereka diletakkan di samping kanan kiri Mentari. Mereka pun sudah tidak menangis lagi. Ada ketenangan yang dirasakan oleh bayi ketika berada di dekat ibunya.
''Anak-anak Mama dan Papa, terima kasih sudah hadir di dunia ini, sayang.'' ucap Mentari lirih.
...
Setelah menanti waktu yang terasa sangat lama dan menegangkan, akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Semua spontan mendekat ke pintu tersebut.
"Bagaimana Dokter?'' tanya mami yang diikuti oleh lainnya.
''Alhamdulillah, Nyonya, Tuan ... atas izin Allah, dengan segala anugerah yang diberikan, melalui saya dan rekan-rekan, bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan lahir dengan selamat.''
ALHAMDULILLAAAAAH
Mereka pun langsung menangkupkan kedua tangannya secara bersamaan ke wajah masing-masing. Rasa syukur itu tidak bisa digambarkan dengan apapun. Mereka sangat bahagia atas kabar gembira ini.
''Saya mohon, tidak ada yang masuk ya. Bayi-bayi masih dibersihkan, dan nanti nona Mentari akan dipindahkan.'' pinta dokter tersebut.
Semuanya pun mengiyakan.
---
__ADS_1
4 hari kemudian
Hari ini adalah acara syukuran atas kelahiran buah hati Edgar dan Mentari. Acara berlangsung di kediaman keluarga Raymond. Semuanya sedang sibuk dengan berbagai macam persiapan.
Para nenek pun saling berebut untuk memberikan perhatian pada bayi-bayi yang lucu itu. Mereka bahkan tidak membiarkan Mentari menggendong, kecuali saat memberikan asi saja.
''Sayaang, jangan dihabiskan dong, nanti Papa nggak kebagian.'' ujar Edgar.
Dengan spontan, mami pun menjitak Edgar karena sembarangan berbicara.
''Aduh, enaknyaaa, hihi.'' ledek Mentari pada sang suami yang sedang mengusap keningnya.
''Jangan sembarangan berbicara, Edgar! nggak malu sama tante kamu dan bu Maryam.'' protes mami.
''Canda, Mii. Cepat tua nanti kalau marah-marah.'' rayu Edgar yang menciium pipi maminya.
Mami pun langsung mendorong putranya yang bersikap manja itu. Ia malu dilihat oleh bu Maryam dan juga Lenna yang tertawa melihat tingkah mereka.
''Dihh, bapak-bapak manja!'' protes Erin.
''Dihh, pengeenn.'' balas Edgar.
''Sudah-sudah.'' ujar mami menengahi.
Urusan kantor saat ini masih di handle oleh Jimmy. Tuan Erick pun juga ke kantor. Sementara Erin, kadang-kadang juga ke kantor untuk membantu Jimmy.
Untuk hari ini, karena sudah pada hari pelaksanaan acara, Erin tidak ke kantor, hanya tuan Erick dan juga Jimmy yang masih berkutat dengan pekerjaan sebelum nanti akan pulang cepat.
__ADS_1