
Wanita itu masih berdiri ditempatnya menatap mobil Edgar. Hingga suara klakson dari mobil Edgar menyapanya. Wanita itu masih berdiri sampai mobil Edgar sudah menghilang dari area parkir.
Setelah memastikan mobil Edgar tidak terlihat lagi, wanita itu langsung pergi dengan ekspresi wajah yang berubah.
''Langkah pertama, berhasil.'' seringai senyum disudut bibirnya lalu pergi dari area parkir.
°°
Mobil yang di kendarai Edgar sudah meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut dan kembali melewati jalanan yang ramai.
''Pertemuan tadi ku rasa tidak ada yang tiba-tiba, apalagi tanpa kesengajaan. Katakan padaku apapun yang dia katakan nantinya kalau dia menghubungimu. Jika kapanpun dia menghubungimu, selalu kasih tau aku, jangan ada yang kamu sembunyikan satu pun.'' ujar Edgar dengan wajah lurus ke depan.
Mentari melihat raut wajah sang suami yang sangat serius dan memiliki kewaspadaan tinggi terhadap mantan mertuanya itu.
''Iya Mas, aku juga merasakan hal itu. Tapi, untuk mengetahui apa tujuan mama sebenarnya, lebih baik kita ikuti dulu cara mainnya.'' jawab Mentari terlihat tenang.
Helaan nafas panjang Edgar terdengar lega ketika mengetahui sang istri pun memiliki kewaspadaan juga.
Edgar mengusap lembut rambut Mentari, dan setelah berada di jalanan yang sepi, Edgar menepikan mobilnya.
Huuhh..
Edgar menghembuskan nafasnya lagi lalu menghadap sang istri.
''Kok berhenti Mas? ada apa?" tanya Mentari yang juga menghadap sang suami.
''Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, apalagi sampai dimanfaatkan oleh orang-orang yang sudah membuat hatimu hancur.'' ungkap Edgar dengan sorot matanya yang dalam.
Tangan Edgar berada di pipi Mentari. Mentari pun meraih tangan tersebut lalu menggenggamnya.
__ADS_1
''Mas, aku akan baik-baik saja, selama kamu masih memberikan keyakinan itu.'' ucap Mentari.
Edgar mengangguk-angguk, menumpuk satu tangannya diatas tangan Mentari. Sorot matanya pun kini sedikit berembun.
''Aku tidak mau kehilangan kamu, sayang.'' ungkap Edgar dengan tatapan matanya yang dalam.
Huufftt..
Edgar menarik nafasnya dalam-dalam tanpa melepaskan genggaman tangannya.
''Maaf sayang, kamu harus melihat sisi lemahku sekarang. Sangat memalukan.'' ucap Edgar berusaha untuk tersenyum.
Mentari semakin mengeratkan genggaman itu, memberikan senyuman untuk sang suami.
''Mas, kalau menangis menjadi simbol lemah, aku akan menjadi manusia yang paling lemah di dunia ini.'' tutur Mentari.
''Aku juga tidak mau kehilangan kamu, Mas. Terimakasih sudah mencintaiku, mengkhawatirkanku, dan selalu berusaha mewujudkan harapan-harapanku secara diam-diam.''
Edgar langsung melepaskan sabuk pengamannya, ia memeluk erat sang istri. Ciuman bertubi-tubi ia berikan di kening dan bibir sang istri.
°°
Kantor Raymond
Perkembangan proyek yang sempat lambat kini sudah lebih ketat lagi dalam pengawasan yang baru. Orang baru yang diminta untuk bertugas disana benar-benar tidak bisa main-main seperti pak Denny sebelumnya.
''Bagaimana perkembangannya, Jim?'' tanya Edgar.
''Bagus Tuan. Dan, menurut informasi, pak Denny sempat kembali kesana.'' jawab Jimmy.
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, Edgar langsung mengangkat wajahnya dan meletakkan pena yang sedang ia gunakan untuk tanda tangan.
''Untuk apa dia kembali?'' tanya Edgar.
''Katanya ingin mengambil barang yang masih tertinggal.''
''Lalu?''
''Beliau kembali kesana saat semua isi ruangan disana sudah selesai di rombak, dan beliau melihat itu dengan tatapan frustasi.''
''Memangnya yang disana menemukan barang yang masih berguna milik pak Denny?''
Jimmy menggeleng.
''Tidak menemukan apa-apa, Tuan. Hanya berkas-berkas yang memang milik perusahaan.''
Edgar membuang nafas kasar.
''Dia mungkin teringat perbuatan kotornya itu, dan meninggalkan benda menjijikkan disana.'' ceplos Edgar.
''Sepertinya benar begitu, Tuan.''
Edgar tidak berniat menjawab lagi, ia kembali melanjutkan menandatangani berkas-berkas yang dibawa oleh Jimmy.
''Oh ya Jim, besok aku dan istriku berangkat. Maaf karena kembali merepotkanmu.'' ucap Edgar seraya menyerahkan berkas yang sudah selesai ia tandatangani.
''Baik Tuan, itu sudah menjadi tugas saya. Jadi saya tidak merasa direpotkan.'' balas Jimmy.
''Thank you, Jim.''
__ADS_1